Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Suatu hal yang patut disayangkan pada saat ini. Wahyu yang sudah semestinya hamba tunduk untuk mengikutinya, malah ditolak begitu saja. Padahal wahyu adalah ruh, cahaya, dan penopang kehidupan alam semesta. Apa yang terjadi jika wahyu ilahi ini ditolak?!

Wahyu Adalah Ruh

Allah ta’ala menyebut wahyu-Nya dengan ruh. Apabila ruh tersebut hilang, maka kehidupan juga akan hilang. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (wahyu) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu nur (cahaya), yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syuro: 52). Dalam ayat ini disebutkan kata ‘ruh dan nur’. Di mana ruh adalah kehidupan dan nur adalah cahaya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)

Kebahagiaan Hanya Akan Diraih Dengan Mengikuti Wahyu

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Kebutuhan hamba terhadap risalah (wahyu) lebih besar daripada kebutuhan pasien kepada dokter. Apabila suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan dokter tersebut ditangguhkan, tentu seorang pasien bisa kehilangan jiwanya. Adapun jika seorang hamba tidak memperoleh cahaya dan pelita wahyu, maka hatinya pasti akan mati dan kehidupannya tidak akan kembali selamanya. Atau dia akan mendapatkan penderitaan yang penuh dengan kesengsaraan dan tidak merasakan kebahagiaan selamanya. Maka tidak ada keberuntungan kecuali dengan mengikuti Rasul (wahyu yang beliau bawa dari Al Qur’an dan As Sunnah, pen). Allah menegaskan hanya orang yang mengikuti Rasul -yaitu orang mu’min dan orang yang menolongnya- yang akan mendapatkan keberuntungan, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 157) (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)

Poligami, Wahyu Ilahi yang Ditolak

Saat ini, poligami telah menjadi perdebatan yang sangat sengit di tengah kaum muslimin dan sampai terjadi penolakan terhadap hukum poligami itu sendiri. Dan yang menolaknya bukanlah tokoh yang tidak mengerti agama, bahkan mereka adalah tokoh-tokoh yang dikatakan sebagai cendekiawan muslim. Lalu bagaimana sebenarnya hukum poligami itu sendiri [?!] Marilah kita kembalikan perselisihan ini kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

Allah Ta’ala telah menyebutkan hukum poligami ini melalui wahyu-Nya yang suci, yang patut setiap orang yang mengaku muslim tunduk pada wahyu tersebut. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa': 3).

Poligami juga tersirat dari perkataan Anas bin Malik, beliau berkata,”Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya dalam satu malam, dan ketika itu beliau memiliki sembilan isteri.” (HR. Bukhari). Ibnu Katsir -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Nikahilah wanita yang kalian suka selain wanita yang yatim tersebut. Jika kalian ingin, maka nikahilah dua, atau tiga atau jika kalian ingin lagi boleh menikahi empat wanita.” (Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Nashir As Sa’di -semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, “Poligami ini dibolehkan karena terkadang seorang pria kebutuhan biologisnya belum terpenuhi bila dengan hanya satu istri (karena seringnya istri berhalangan melayani suaminya seperti tatkala haidh, pen). Maka Allah membolehkan untuk memiliki lebih dari satu istri dan dibatasi dengan empat istri. Dibatasi demikian karena biasanya setiap orang sudah merasa cukup dengan empat istri, dan jarang sekali yang belum merasa puas dengan yang demikian. Dan poligami ini diperbolehkan baginya jika dia yakin tidak berbuat aniaya dan kezaliman (dalam hal pembagian giliran dan nafkah, pen) serta yakin dapat menunaikan hak-hak istri. (Taisirul Karimir Rohman)

Imam Syafi’i mengatakan bahwa tidak boleh memperistri lebih dari empat wanita sekaligus merupakan ijma’ (konsensus) para ulama, dan yang menyelisihinya adalah sekelompok orang Syi’ah. Memiliki istri lebih dari empat hanya merupakan kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir). Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i ketika ditanya mengenai hukum berpoligami, apakah dianjurkan atau tidak? Beliau menjawab: “Tidak disunnahkan, tetapi hanya dibolehkan.” (Lihat ‘Inilah hakmu wahai muslimah’, hal 123, Media Hidayah). Maka dari penjelasan ini, jelaslah bahwa poligami memiliki ketetapan hukum dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang seharusnya setiap orang tunduk pada wahyu tersebut.

Tidak Mau Poligami, Janganlah Menolak Wahyu Ilahi

Jadi sebenarnya poligami sifatnya tidaklah memaksa. Kalau pun seorang wanita tidak mau di madu atau seorang lelaki tidak mau berpoligami tidak ada masalah. Dan hal ini tidak perlu diikuti dengan menolak hukum poligami (menggugat hukum poligami). Seakan-akan ingin menjadi pahlawan bagi wanita, kemudian mati-matian untuk menolak konsep poligami. Di antara mereka mengatakan bahwa poligami adalah sumber kesengsaraan dan kehinaan wanita. Poligami juga dianggap sebagai biang keladi rumah tangga yang berantakan. Dan berbagai alasan lainnya yang muncul di tengah masyarakat saat ini sehingga dianggap cukup jadi alasan agar poligami di negeri ini dilarang.

Hikmah Wahyu Ilahi

Setiap wahyu yang diturunkan oleh pembuat syariat pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Begitu juga dibolehkannya poligami oleh Allah, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar baik bagi individu, masyarakat dan umat Islam. Di antaranya: (1) Dengan banyak istri akan memperbanyak jumlah kaum muslimin. (2) Bagi laki-laki, manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan untuk memperbanyak umat ini, dan tidak mungkin optimalisasi ini terlaksana jika hanya memiliki satu istri saja. (3) Untuk kebaikan wanita, karena sebagian wanita terhalang untuk menikah dan jumlah laki-laki itu lebih sedikit dibanding wanita, sehingga akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. (4) Dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya, dengan menikah lagi ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia dan anak-anaknya. (Lihat penjelasan ini di Majalah As Sunnah, edisi 12/X/1428)

Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami

Saat ini terdapat berbagai macam penolakan terhadap hukum Allah yang satu ini, dikomandoi oleh tokoh-tokoh Islam itu sendiri. Di antara pernyataan penolak wahyu tersebut adalah : “Tidak mungkin para suami mampu berbuat adil di antara para isteri tatkala berpoligami, dengan dalih firman Allah yang artinya,”Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (An Nisaa': 3). Dan firman Allah yang artinya,”Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.” (QS. An Nisaa': 129).”

Sanggahan: Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil” dalam ayat di atas adalah kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil dalam rasa cinta, kecondongan hati dan berhubungan intim. Karena kaum muslimin telah sepakat, bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia, kecuali jika Allah menghendakinya. Dan telah diketahui bersama bahwa Ibunda kita, Aisyah radhiyallahu ‘anha lebih dicintai Rasulullah daripada istri beliau yang lain. Adapun hal-hal yang bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu untuk berbuat adil. Hal ini sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Nawawi, dan Ibnu Hajar.

Ada juga di antara tokoh tersebut yang menyatakan bahwa poligami akan mengancam mahligai rumah tangga (sering timbul percekcokan). Sanggahan: Perselisihan yang muncul di antara para istri merupakan sesuatu yang wajar, karena rasa cemburu adalah tabiat mereka. Untuk mengatasi hal ini, tergantung dari para suami untuk mengatur urusan rumah tangganya, keadilan terhadap istri-istrinya, dan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga, juga tawakkal kepada Allah. Dan kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga dengan satu istri (monogami) juga sering terjadi pertengkaran/percekcokan dan bahkan lebih. Jadi, ini bukanlah alasan untuk menolak poligami. (Silakan lihat Majalah As Sunnah edisi 12/X/1428)

Apa yang Terjadi Jika Wahyu Ilahi Ditolak ?

Kaum muslimin –yang semoga dirahmati Allah-. Renungkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini, apa yang terjadi jika wahyu ilahi yang suci itu ditentang.

Allah telah banyak mengisahkan di dalam al-Qur’an kepada kita tentang umat-umat yang mendustakan para rasul. Mereka ditimpa berbagai macam bencana dan masih nampak bekas-bekas dari negeri-negeri mereka sebagai pelajaran bagi umat-umat sesudahnya. Mereka di rubah bentuknya menjadi kera dan babi disebabkan menyelisihi rasul mereka. Ada juga yang terbenam dalam tanah, dihujani batu dari langit, ditenggelamkan di laut, ditimpa petir dan disiksa dengan berbagai siksaan lainnya. Semua ini disebabkan karena mereka menyelisihi para rasul, menentang wahyu yang mereka bawa, dan mengambil penolong-penolong selain Allah.

Allah menyebutkan seperti ini dalam surat Asy Syu’ara mulai dari kisah Musa, Ibrahim, Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, Luth, dan Syu’aib. Allah menyebut pada setiap Nabi tentang kebinasaan orang yang menyelisihi mereka dan keselamatan bagi para rasul dan pengikut mereka. Kemudian Allah menutup kisah tersebut dengan firman-Nya yang artinya,”Maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti yang nyata, dan adalah kebanyakan mereka tidak beriman. Dan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy Syu’ara: 158-159). Allah mengakhiri kisah tersebut dengan dua asma’ (nama) -Nya yang agung dan dari kedua nama itu akan menunjukkan sifat-Nya. Kedua nama tersebut adalah Al ‘Aziz dan Ar Rohim (Maha Perkasa dan Maha Penyayang). Yaitu Allah akan membinasakan musuh-Nya dengan ‘izzah/keperkasaan-Nya. Dan Allah akan menyelamatkan rasul dan pengikutnya dengan rahmat/kasih sayang-Nya. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah)

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman terhadap apa yang beliau bawa. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Do’a hamba-Nya. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ashabihi ath thoyyibina ath thohirin.

***

Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

Donasi dakwah YPIA

82 Comments

  1. oktavia says:

    pologami itu indah jika kedua pihak memahami tujuannya. Klau tidak maka hilanglah keindahannya, dan yang datang petaka..

  2. JohnnyTjahjono says:

    Assalamu’alaikum..

    Sy kagum dgn Al-Qur’an.!

    Isinya tidak pernah melawan akal sehat, bahkan senantiasa berpihak banget kepada logika cognitif.
    Bila konteksnya masih tidak dapat dijangkau oleh akal maka akan dikembalikan dahulu kedalam bilik Keimanan, yg artinya untuk sementara waktu akan tetap menjadi rahasia dengan tetap berharapan bahwa kelak suatu saat akan terkuak menjadi hujjah yg terang benderang. Dan bila telah tiba saatnya, maka rahasia makna sudah tidak perlu lagi menjadi misteri karena telah hadirnya ILMU lanjutan pemahaman kontekstual yg memperkaya pengertian maksud dan tujuan teks AlQur’an.
    Kesemuanya itu terjadi sesuai dengan mekanisme kehendakNYA yg mutlak, sebagaimana Alloh SWT telah menurunkan Karomah kepada ahli-ahli waris ilmu Hakiki yg AllohSWT tinggikan kemampuanya menjadi cendikiawan Islam dengan tugas menjernihkan silang pendapat multitafsir teks AlQur’an.

    Ibnu Tammiyah, Imam Ghozali, Syeh Abdul Qodhir Jaelani dan masih banyak lagi Ulama Jumhur lainnya yg termasuk memperoleh Rizqi Ilmu yg melimpah-ruah dari AllohSWT sehingga umat NabiSAW dapat menikmati lebih banyak lagi keluasan pengetahuan ilmu2 Islam yg terkandung didalam AlQur’an sebagai tambahan kekuatan penjelajahan daya fikir mensikapi Sunnah dan Uzwatun Khazanah Nabi SAW.!

    Setelah mempelajari teks dan konteks Poligami, kesimpulannya adalah terdapatnya sikap ANTI-TAUHID yg pasti tidak mampu membongkar Rahasia esensi Poligami yg mana AllohSWT pun meletakkan hal ini sebagai pilihan, karena untuk mengIMANi hal ini sangatlah mengandalkan keberanian ber-TAUHID yg mapan stabil kuat dan membutuhkan Hidayatulloh sbagai modal pencerahan sikap pandang umat dlm upaya mendudukkan Poligami sebagai persoalan yg lebih ringan untuk dimengerti. Dan knapa begitu besarnya kesulitan hati ber-Poligami sebagai pilihan hidup, tentu dibalik tantangan ini pasti mengandung sangat banyak ibroh yg akhirnya menjadi kekayaan batin yg luarbiasa nikmatnya yg hanya bakal dimiliki oleh mereka yg hak memperoleh ketinggian maqom Taqwa!

    Inti soal Poligami bukan soal nafsu/tidak dan bisa adil/tidak. Poligami ini ujian TAUHID.! Kecintaan yg hanya kepada AllohSWT jualah yg menjadi ukuran kwalitas keimanan dan terselamatkannya pasutri dari hasrat memiliki yg berlebihan kepada pasangan hidupnya masing2.

    Bukankah tidak diciptakan isterimu dan anak-anakmu kecuali sebagai ujian?

    Jika Alloh ingin memanggil pulang pasangan hidupmu apalah dayamu mencegahNYA.? Apakah setelah mati tidak dapat melihat suamimu menikah lagi , dan pada saat itu apalah dayamu menantang cerai bahkan apalah upayamu menghalang-halangi niat suamimu menikah lagi.? Kesombongan hanyalah milik AllohSWT. Lagipula bagaimana mungkin memiliki pasangan hidup, sementara jiwaraga anti sendiri saja berada didalam genggamanNYA??

    Ashadu Hubbalillah.!
    Adalah kunci rahasianya.
    Suami tetap bertautan hati dengan AllohSWT demikian juga hal nya dengan istri.

    Siapapun hendaknya faham, kadarnya sekedar hanya boleh ngaku hak pakai saja dan oleh karena itu sifatnya cuma sementara.

    Poligami adalah ujian keTAUHIDan dalam berTAUHID wujud pengamalan ILMU TAUHID.!

    Syirik Sirr menyelusup menjalar kemana-mana bahkan lebih dahsyat daripada gas bocor LPG. Sehingga tanpa sadar,kaum istri penolak poligami telah menjadikan suaminya sebagai BERHALA yg BARU!
    Dan apakah kaum suami juga mau saja dijadikan BERHALA yg merebut Arash Alloh Yang Maha Agung?
    Apakah masih lebih takut kepada mahluk daripada kepada AllohSWT dengan menistakan Wahyu Illahi.?

    Apabila kita sudah be-NIAT benar namun belum melaksanakannya itupun sudah selamat. Apakah kaum isteri juga akan tetap menolak ditendang suami ke Jannah?

    Sedangkan adanya aturan tenggang waktu menggauli istri kedua setelah akad nikah itu adalah untuk menetralkan emosi birahi dan suami pun tidak mudah Zuhud men-set fikiran dan hati menjadi penjantan. Sekuat-kuatnya hasrat tidak mampu menanggalkan rasa bersalah kepada istri kesatu dan ini perlu dorongan keikhlasan isteri kesatu untuk melepas suaminya melayani istri keduanya. Disinilah berTAUHID berperan. Makanya tidak heran kalau Jannah adalah jaminan hadiahNYA!

    Bicara adil, tentu lagi-lagi tidak perlu ditantang kemampuan suami untuk adil.

    Adil Hanya bisa tercipta bila ada keTAUHIDan agar masing-masing ringan bekerjasama menciptakan rasa adil dalam hidup ber-poligami. Apabila Rasa adil masih dituntut, maka kaum isteri masih ingin pula menjadi Tuhan selain AllohSWT.

    Poligami adalah resep mujarab keTAWWADHUan yg juga menyelamatkan pasutri dari dosa besar yaitu Syirik!
    Sulitlah ikhlas tanpa berTAUHID dan susahlah sabar tanpa ILMU TAUHID.!

    Dalam poligami tidak ada sebutan istri tua dan muda, tidak ada pula sebutan istri kesatu, kedua dstnya. Tujuannya agar para isteri egaliter. Saling menghargai dan menghormati. Tidak angkuh sebagai yg kesatu dan tidak minder menjadi yg kesekian. Kalo angka menyertai, hanyalah sekedar urutan jadwal nikahnya saja bukan menunjukkan kualitas keimanan atau sempurna Tauhid.
    Tidak ada yg perlu disombongkan karena, tanpa izin dan pencarian yg ikhlas maka tidak ada yg kedua dan yg kesatu harus tawwadhu karena tidak akan mendapat tiket jannah tanpa ada yg kedua demikian selanjutnya sikap yg kedua terhadap yg ketiga.

    Persoalan Poligami adalah tolok ukur keTAUHIDan! Dan selama masih ada yg menolak poligami tentu menolak AlQur’an! Maka tidak heran negara kian parah,musibah dimana-mana,hutang makin bertumpuk dll, itu karena negara lebih memakmurkan maksiat dan zina daripada menerima poligami sebagai solusi! Salam

  3. Arfan says:

    assalamualaikum,
    afwan ana ijin share ya..

  4. Ummu Maryam says:

    Assalaamu’alaikum. Barokallohu fiik.

    Ana mau minta saran. Dulu ana ingin melaksanakan sunnah ini. Tapi setelah menikah, ana melihat seorang laki-laki punya tanggungan banyak sekali (pekerjaan, orangtua, saudara perempuan walaupun sudah menikah). Dulu ana disuruh tinggal dengan orangtua ana dan mantan suami (kini ana sudah dicerai) menginap sekali sepekan. Sisanya dia mengurusi rumah orangtuanya. Hal itu membuat ana kini enggan dipoligami karena ana merasakan jadi satu-satunya saja ana merasa dipinggirkan. Bahkan untuk menikah pun ana masih takut terulang seperti dulu.

    Apakah memang seperti itu bentuk birrul walidain seorang anak laki-laki terhadap orangtuanya? Apakah boleh memberi syarat (berkaitan dengan giliran dan kewajiban suami terhadap orangtuanya)?

    Apakah walaupun adik perempuannya telah menikah, seorang kakak yang juga telah menikah tetap wajib mengurusi adiknya (dengan meninggalkan istri sendirian di rumah)?

    Syukron

  5. edy says:

    Yang menjadi musuh Rosul…kan..ayahnya ( Abu Jahal ), kenapa anaknya…(putri Abu Jahal ), kena getahnya juga…???
    Bukankah dalam islam tidak mengenal DOSA WARIS…???

  6. badri s says:

    asslm. izin share ya

  7. ummu nadhif says:

    Assalamu’alaikum wr wb,
    artikel ini mjd bahan perenungan bagi saya…
    Dulu karena kurangny ilmu, dan emosi yg menguasai hati… saya sgt menentang poligami. padahal tidak jarang poligami menjadi pilihan ketika hidup tidak mjdi seperti yg kita harapkan. Tidak slamanya POLIGAMI menjadi “neraka” bagi wanita…

  8. d.y.mashudy says:

    assalamu’alaikum,
    mohon maaf sebelumnya,
    sekiranya ada muslimah yg mau membantu saya oleh karena istri saya sangat sering berlaku nusyuz.
    nasehat apa yg harus saya sampaikan padanya agar mau menjadi istri sholiha? bgmn caranya?
    saya sangat ingin dia sholiha agar Allah sayang padanya.
    disini saya tdk ada niat poligami, sekalipun itu boleh dilakukan, karena saya memang tidak mampu.
    mendapat amanah membimbing satu istri saja “sungguh sangat berat” bagi saya.
    setiap kali istri berbuat nusyuz, saya harus berusaha ikhlas memaafkannya agar Allah tidak melaknatnya.
    mohon sarannya.
    wassalamu’alaikum.

  9. venny'80 says:

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
    Pada dasarnya sebagai seorang wanita/seorang isteri saya tidak berkeberatan dg konsep poligami. karena sbg wanita kt memiliki keterbatasan untuk memberikan pelayanan terhadap suami, terlebih jika usia kita sudah meningkat atau sudah menopause atau memiliki gangguan kesehatan sehingga tdk bisa maksimal melayanani suami ataupun karena mandul. apapun perintah Allah SWT tentulah untuk kemaslahatan bersama. jika seorang suami membutuhkan isteri lebih dari satu dan kita sbg isteri melarangnya maka isteri juga harus waspada bisa jadi akan terjadi zina karena suaminya tdk bisa menahan nafsunya itulah sebabnya di negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, pelacuran justru tumbuh subur dari hari kehari. Janganlah menentang sesuatu yang oleh Allah SWT diperbolehkan karena Allah yang lebih mengetahui rahasia langit dan bumi. Jadi alangkah tidak islaminya seorang wanita muslim yang melarang suaminya menikah lagi atau bahkan meminta cerai hanya karena suaminya berpoligami. saya sendiri sbg isteri tdk berkeberatan jika suami ingin menikah lg justru saya menganjurkan agar terhindar dari zina. itu yang lebih penting dan utama. Kita sebagai manusia yang diciptakan Allah SWT tidak punya hak untuk mempertanyakan dan memprotes apa2 yang sudah ditetapkan Allah SWT. karena hal tersebut adalah langkah2 syetan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka jahaman. Jangan sampai terjadi.

    Itulah sedikit komentar dari saya, maaf jika ada yang tdk setuju. saya hanya ingin membuka ruang hati wanita muslimah yang saat ini banyak terjebak dlm pemikiran modern yang menentang poligami tanpa dalil yang sesuai ajaran islam. Wassalam,

  10. dika says:

    terima kasish atas informasinya

  11. Denny says:

    Al Baqaroh ayat 223. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam (berladang), maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

    Dari ayat diatas, jelas Allah SWT meridhoi Poligami, tinggal pelaksanaannya jangan sampai merugikan diri sendiri apalagi orang lain.

  12. Denny says:

    Adil belum tentu sama dan sama belum tentu adil, Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, lawannya adil adalah zolim. Ini tips utk suami2 yang berusaha utk Adil walaupun yang hanya Allah yang maha adil..

  13. abdullah says:

    Ada koreksi : dikatakan bahwa poligami bukan paksaan, ini benar bagi laki laki, boleh dia melakukan atau meninggalkannya, tetapi bagi wanita -baca: Muslimah- ini adalah suatu kewajiban, artinya jika suaminya akan menikah lagi dia harus menerimanya.
    Wanita yang tidak mau dipoligami -biasanya lantas minta diceraikan- sama saja dengan menentang perintah / syariat agama, adanya ayat yang menyatakan tidak ada paksaan dalam beragama Islam bukan berarti bahwa boleh menolak seenaknya tanpa konsekwensi.
    Allah SWT memang mempersilahkan apakah kita mau iman atau ingkar tetapi ada konsekwensinya masing2.

  14. y zid says:

    Assalamu’alaikum,
    Pernikahan berhukum sunnah.
    Poligami berhukum mubah.
    Saya membenarkan (mengimani) apa yg tersurat di Al-Qur’an tentang menikah/beristri lebih dari seorang (poligami).
    Jika saya dimampukan Allah, tentu saya akan berusaha melaksanakan amanah tsb.
    Tapi saya perlu mnyampaikan wacana bahwa jangan sampai kita membicarakan/melaksanakan hal mubah sampai mengurangi kehormatan sunnah pernikahan apalagi. merusak/mengaburkan kewajiban yg terkandung dlm makna pernikahan tersebut.
    semoga Allah merahmati kita semua, amien.

  15. abadi says:

    ass,wr,wb

    untuk berbagi sesama wanita muslim yang senasib, saya janda dengan satu anak ikhlas dijadikan madu, demi Allah karena saling mencintai, menjadi madu bukanlah keinginan saya tapi kehendak Allah swt, menjadi madu tidaklah melihat siapa anda,saya berpendidikan sarjana S1, punya karier bagus, dan dari keluarga baik2, orang umumya akan menganggap saya wanita bodoh, wanita perusak rumah tangga orang dan sebutan sebutan lain yang menghina dan menyakitkan. meskipun saya mengalami penderitaan batin karena pernikahan kami ditentang oleh istri pertama dan bapak suami saya, tapi saya tidak pernah mundur begitupun suami saya.karena bagi saya suami sayalah yg bisa menyelamatkan saya dan membibing saya kepada Allah swt.kepatuhan dan keikhlasan saya yakini akan mendapat balasan dari Allah.yang terpenting adalah bagaimana diri saya di mata Allah bukan dimata manusia.biarlah saya dihujat dicaci maki dan sekeras apapun orang2 berusaha menjauhkan dan menghalangi suami saya utk bertemu saya karena saya yakin Allah akan mempersatukan kami selalu, dan tidak ada siapapun mampu menghalangi bila Allah sudah berkehendak.apalah yang mau kita pertikaikan di dunia ini, biarlah mereka mendzalimi saya dan keluarga saya, saya pasrah sepenuhnya pada Allah swt dan berharap kemuliaan kelak diakherat.semoga ini bisa menjadikan renungan bagi sesama muslim sebelum menghujat atau menghakimi wanita2 yg rela dimadu, karena bagaimanapun sebagai madu banyak menanggung penderitaan tidak patut bagi kaum muslim yang punya nurani mendzaliminya.wassalam

  16. dadang says:

    Saya pikir mungkin para ulama harus memberikan pencerahan terhadap umat Islam ini, seperti saat ini perempuan lebih banyak daripada laki-laki, kenapa Alloh SWT. menciptakan kondisi seperi ini, menurut saya ini semuanya ujian bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, akankah sebagai muslim mengikuti dan taat pada wahyu ilaahi. Ujian ini tiada lain agar kita selaku muslim tetap menciptakan lingkungan sosial yang bersih dari segala bentuk maksiat, seprti perjinahan, judi dll.
    Dalam hal Alloh SWT menciptakan perempuan lebih banyak daripada laki-laki. ini menurut saya ujian terbesar bagi muslimah untuk menerima wahyu illahi mengenai polygami, karena perbedaan jumlah perempuan dan laki-laki, sehingga banyak perempuan yang tidak dapat memiliki pasangam hidup, kalau sudah demikian dengan perkembangan kejiwaan akan kebutuhan biologis tidak mustahil akan melahirkan kondisi dan situasi perseligkuhan, pezinahan. Kalau hal ini sampai terjadi siapa yang berdosa? Sudah solehkah muslimah? Sudah solehkah Muslim? Sudah kaffahkah kemusliman/muslimahnya? Terimakasih, semoga menjadi bahan pemikiran, bahwa Islam itu Rahmatan Lil ‘Alamiin.

  17. Ummu Izzah says:

    @ Akhi d.y.mashudy
    Wa’alaykumussalaam warahmatullaah..
    Ketika tanda-tanda nusyuznya sang istri timbul, nasehatilah dan ingatkanlah terus beliau bahwasanya jika ia bermaksiyat kepada suaminya, maka akan mendapat siksa Allah. Jangan pernah bosan menasehati beliau. Allah Subhaanahu wa Ta’alaa berfirman,
    ??????????? ?????????? ???????????? ????????????
    “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka”. (Qs. An-Nisaa’ : 34)
    Allah telah menetapkan hak suami atas istri dengan ketaatan istri kepada suami. Allah Subhaanahu wa Ta’alaa pun telah mengharamkan durhaka kepada suami,karena keutamaan dan kelebihan yang dimiliki suami atas istri.
    Antum bisa menasehati beliau tentang peranan masing-masing antara istri dan suami, hak-hak suami yang harus di penuhi istri, kewajiban-kewajiban istri yang harus ditunaikan, agungnya ketaatan terhadap suami selama bukan ketaatan terhadap perkara maksiyat, ganjaran Allah untuk istri shalihah serta ancaman Allah kepada istri yang durhaka. Allaahu A’lam..

  18. rahman says:

    aslkm.
    saya mau tanya apakah seorang yg menikah lagi,itu sdah jodoh dari alloh atau keinginan sendiri..
    mksh

    • @ Rahman
      Perlu diketahui Allah adalah pencipta segala sesuatu termasuk perbuatan hamba. Sehingga semua yang terjadi dijagad raya ini adalah atas kehendak Allah. Tidak ada satupun yang terlepas dari pengawasan dan kehendakNya. Bila sesorng menikah sekali, duakali, tiga kali dst maka itu juga atas kehendak Allah, jodoh yang Allah berikan padanya. Tidak ada satupun makhluk yg bisa melakukan sesuatu dg sendirinya tanpa kehendakNya.

  19. ummu umair says:

    Bismillahirrohmanirrohim,
    Assalamulaikum warrohmatullahi wabarokatuh
    Mmg masalah poligami yg ditolak bnyk wanita krn mngkin mrk melihat sikap / perlakuan suami yg mnrt mrk tdk adil…“blm poligami saja sdh bnyk mencela / tdk menghargai jerih payah istri, dll”… a/ pelit pujian dngn jerih payah istri dlm mengatur pekerjaan rumah tangganya, dll atau pelit mmberikn hadiah kpd istri, dlm pemberian uang blanja, dll tp klo utk senang brsama tman-2nya sgt royal… atau jk melihat wanita cantik matanya lgs jelalatan….kisah ini dialami o/teman perempuan saya yg sering mengeluh krn suaminya yg slalu mencela dirinya yg tdk cantik & ortunya yg miskin, dan slalu merayu istrinya untuk mencarikan wanita lain… bhkn ktk ia hamil istrinya sring dicela yg katanya bentuk tubuhnya jd tdk proposional lg,… shingga ktk istrinya minta dibeliin susu dan buah (krn biasanya wnt hamil kebutuhan makannya banyak krn cadangan makanan ditubuhnya u/bbrdua jd bawaannya sering laper) dijawablah dng ketus…”klo kamu cantik saya belikan apapun untuk mu de…” dan kata-2 yg tdk adil mnrt dia,…. hingga istrinya keguguran,… dan itupun dimarahi krn membuat ia jd tdk bs poligami… pdhal mnrut saya yg melihat day to daynya ia sgt taat pd suaminya,…
    Disisi lain saya beruntung punya suami sngt sayang pd saya & kluarga wlaupun saya tdk cantik dan suami mmg tdk memuji lngs dr bibirnya tp sikap baiknya luar biasa mnrt saya…. sngt cinta kluarga, bertanggung jwb, dll pokoknya top bgt,… nah dng sikap suami sprti itu trkadang mmbuat saya ingin berbagi suami dngn wanita lain,… alias menyuruh ia poligami… bhkn saya siap mencarikannya,…
    Tp sayang sulit sekali saya membujuk ia untuk ia poligami,… dngn berbagai cara… sd detik ini saya masih merayu agar ia mencarikan saya teman…..
    Salah kah sikap saya ?

    • @ Ummu Umair
      ??????????? ?????????? ?????????? ????? ?????????????
      Saudariku, poligami adalah tanggungjawab pihak suami. Apakah ia berkeinginan untuk poligami ataukah tidak maka itu smua wewenang suami. Lagipula poligami bukan perkara yang wajib sehingga harus dipaksakan bahkan bisa jadi malapetaka bila sang suami tidak bersikap adil kepada istri-istrinya nanti.Tanggungjawab kita adalah menjalankan kewajiban kita sebagai istri dengan baik.

  20. jamila says:

    Islam adalah Agama yang benar
    Orang yang menolak Islam adalah orang yang tidak benar

  21. ummu muhammad says:

    Salam,admin saya mau minta pendapat dr ummu sufyan boleh saya minta alamat emailnya,mksh

  22. ummu irfan says:

    Salam,admin minta emailnya ummu sufyan dong kalo noleh,terimakasih

    • tari says:

      Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
      Saya juga ingin termasuk wanita yg tidak menentang polygami.
      Saya menerima keberadaan suami dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Saya pernah berfikir mungkin suatu saat nanti suami saya akan berpolygami karena ia berada dilingkungan ikhwan yang mayoritas berpolygami. Yang ada dalam benak saya kala itu, saya akan mengijinkan, jika polygami yang dilakukan sesuai syariat.
      ± 2 tahun yang lalu, suami ijin kepada saya untuk melakukan safar, mencari stok dagangan selama 10 hari dan saya mengijinkan dengan senang hati dan berdoa untuknya karena suami minta di doakan kepergiannya kepada saya. Sehari kepulangan duami dari safar ternyata info yang saya dapati bahwa suami pergi untuk melakukan walimah tepatnya pesta pernikahan.
      Saya tetap ingin menjadi wanita yang baik, saya memaafkan dan bersedia dimadu, namun apa daya saya…, saya tak kuasa saat suami berterus terang mengapa ia berselingkuh hingga menikah lagi, karena kekurangan yang saya miliki (saya tidak dapat melhirkan anak, meski dokter tidak menyatakan mandul), yang lebih mengiris hati karena ia diejek oleh teman (tetangga) kalau ia dikatakan mandul. Bahkan perhatian suami yang semakin terasa tak adil, hingga saya tanyakan perasaan dia kepada saya kala itu, sungguh miris hati saya, saat ia katakan “dia tidak menyukai saya lagi” dan saat ia bingung untuk menjawab sms isteri keduanya yang berisi permintaan untuk memilih saya atau dia (isteri kedua), suami saya menjawab sms itu dengan jawaban “memilih dia (isteri kedua). Dan …., yang paling menyiksa bathin saya suami tidak bisa lagi “tidur” bersama saya, meski saya minta dengan air mata.
      Saya merasa cukup lengkap sudah, hingga kemudian saya minta suami untuk membuat surat talak untuk saya, lantas suami saya menuruti (menjatuhkan talak kepada saya).
      Demikian ….., semoga para suami yang berniat polygami, bisa tetap memperlakukan dan memberikan yang terbaik terhadap para isteri2nya.
      Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

  23. […] mereka adalah tokoh-tokoh yang dikatakan sebagai cendekiawan muslim. Lalu bagaimana sebenarnya hukumpoligami itu sendiri [?!] Marilah kita kembalikan perselisihan ini kepada Al Qur’an dan As […]

Leave a Reply