Namimah  (Adu Domba)

Penulis: Ummu Rummaan

Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah, akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Oleh karena itu kita benar-benar harus mengenal apakah itu namimah.

Definisi Namimah

Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita, maupun pihak lainnya. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Baik berupa aib ataupun bukan.

Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah

Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11)
Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhari)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”

Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed).

Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur. Ibnu Abbas meriwayatkan, “(suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata, lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Yang pertama, tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Sedang yang kedua, berjalan kesana kemari menyebarkan namimah.” (HR. Al-Bukhari)

Sikap Terhadap Pelaku Namimah

Imam An-Nawawi berkata, “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah, dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu,” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut:

  1. Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik.
  2. Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya.
  3. Membencinya karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah.
  4. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah.
  5. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya.
  6. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan dirinya sendiri melarangnya. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan, “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut.”.

Bukan Termasuk Namimah

Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya, tidak. Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. Misalnya, melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan, orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain, dan lain-lain. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika ada kepentingan menyampaikan namimah, maka tidak ada halangan menyampaikannya. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya, atau keluarga atau hartanya.”

Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat, mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Bahkan, meskipun sudah berhati-hati, ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. Sehingga, bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan, maka dia boleh mengucapkannya. Jika sebaliknya, maka lebih baik dia diam.”

Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah

Ya ukhty, janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah namimah. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna, apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik.

Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan kejahatan maniku.)

***
Diringkas dari Petaka Lisan Menurut A-Qur’an dan Sunnah
(Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthaani)

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

28 Comments

  1. ana_faz says:

    assalam…
    lidah memang setajam pedang….
    kadang saya pun masih slalu terjerat dalam dosa yang sama, seakan ini adalah hal yang lumrah. apalagi saat berkumpul dengan teman, cerita slalu saja mengalir hingga orang lain pun menjadi topik yang mesti di bahas.
    saat di tengah pembicaraan sebenarnya saya tadar bahwa ini adalah suatu kesalahan yang besar…apalagi kalo mengingat firmannya ”kalo kita membuka aib sodaranya sediri, maka Allah pun akan membuka aib kita akhirat kelak…nauzubillah…tapi ternyata nafsu untuk bergosip ria lebih besar, dan saya pun harus terjerat dalam dosa itu berulang kali….

    smoga, dikemudian hari saya bisa lebih menjaga lisan saya,,,

    aminn…

  2. usyfie says:

    salamullahi ‘alaik

    ”words cuts more then sword”
    betapa kita tak dapat memungkiri bahwa dengan lisanlah kita mendapat kemuliaan dan dengannya pulalah kita mendapat kehinaan…
    laa yadkhuluunnal jannata namaamun…

  3. irma says:

    Assalamualaikum…

    Benar sulit sekali menjaga lisan ini, sering juga aku keceplosan klo bicara, padahal sih pgn nya bisa jaga lisan….bgmn yah cara menjaga lisan ini?

    wassalam

  4. arifromdhoni says:

    ????????? ??????????? ??? ?????? ??????????

    Keselamatan seseorang pada penjagaan lisannya.

    ???? ????? ???????? ??????? ??????????? ???????? ?????????? ??????? ???? ??????????

    Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik atau diam.

  5. aburushd says:

    salam perkenalan

  6. ngadu domba saja tidak boleh apalagi ngadu domba umat islam karena informasi orang yang ngak jelas

  7. deddy says:

    Saya mo tanya,..apakah dibenarkan, adakah contoh seorang wanita berpoliandri…?..

  8. rahma says:

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuhu.
    Kepada Sdr. Deddy,
    Ana sebagai seorang wanita, tidak pernah sekalipun berpikir untuk melakukan hal keji seperti demikian.
    Ridhakah antum jika istri antum menduakan antum?
    Siapkah antum jika kemudian antum mendapati istri antum yang sedang hamil, tanpa tahu siapa ayah dari anak yang sedang istri antum kandung?
    Takutlah kepada Allah Azza wa Jalla…!!!
    Dan apabila poliandri baik bagi kaum wanita, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidak akan melakukan poligami, melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wassallam akan menyuruh istri-istrinya untuk berpoliandri.
    Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus kepada kita semua.
    Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuhu.

  9. Nurul says:

    Ass….ya ukhty anty stuju klu mulutmu harimaumu..krna sesngghya di larang ceplas-ceplos dalam brbicara..wslkm

  10. Nurohmah says:

    Seneng deh, artikelnya keren, menyentuh hate!

  11. Zulfi says:

    Asskum…….
    Itulah bahaya lisan….
    Sepandai-pandainya orang belum tentu ia bisa menjaga lisannya
    Maka, pergunakanlah lisan itu sebaik-baiknya. Karena lisan juga dapat menjadi cambuk bagi kita sendiri jika tidak dipergunakan dengan baik

  12. Dian says:

    Subhanallah……….baru kali ini saya tahu dengan bgt jelas penjelasan tentang apa itu khitan terutama khitan bg kaum wanita dan juga maksud dari khitan itu yg sesungguhnya. Karena dulu yg saya tahu hanyalah “bahwa kita bagi seorang muslim harus di khitan tanpa tahu untuk apakah khitan itu sesungguhnya terutama khitan untuk wanita,kita hanya tahu hanyalah suatu keharusan saja “, kini saya dah tahu dan mengerti apa manfaat khitan itu yg sesungguhnya. Alhamdulillahi Robbil Allamiin……..

  13. Nhie says:

    Assalamualaikum wr.wb

    Lidah memang tak bertulang..
    aku masih sering kurang menjaga lisan, walau akhirnya nyesal,tp rasa bersalah sangat besar, smoga ALLAH SWT mengampuniku..dan smoga besok dan seterusnya tidak terulang lagi, AMIN!!

  14. Nadya says:

    semoga kita terhindar dari penyakit hati yg bisa membawa kita kepada kemurkaan ALLah SWT…..

  15. udin says:

    bagus juga

  16. udin says:

    memang fitnah tidak ada gunanya dan wajib dihindari

  17. rangga wikandaru says:

    bagus. kita memang tidak boleh mengadu domba. kalau ketahuan kita bisa di kucilkan dari sebuah pergaulan. dan juga FITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PADA PEMBUNUHAN.

  18. Nawfalsky PoyPoy says:

    thx ya kk jadi bisa ngerjaqin tugas deh

  19. azkal faqih says:

    assalamu’alaikum, wr, wb…
    alhamdulillaah…
    syukron atas keterangan yang telah ada…
    namun alangkah baiknya jika ditambah dengan beberapa contoh berupa kisah-kisah….
    afwan….

  20. nur mariyam says:

    minta, artikel ny untuk tugas, boleh ???

  21. Tamyiz says:

    mkasih artikel nya………

  22. bayu says:

    assaalamu ‘alaikum
    mwu d kopi paste bleh y?bwt d bca2.

  23. ady says:

    . ????? ???? ??? ????? ????
    Perkataan itu dapat menembus
    apa yang tidak bisa ditembus
    oleh jarum

  24. jika lisan tidak di jaga dengan baik akan menyebabkan kerusakan-kerusakan akhlak

    saya setuju dengan anda

    by koala (arek lapant ach)
    smoga anak lapant ach bisa menjaga lisan dengan baik

    amiennnnnnnnnnnn

  25. zhulay says:

    mengapa adu donbha ithu d.laranq oleh agama ??
    tetapi wlwpun ithu d.laranq oleh agama tetap saja perbuatan ithu slalu d.lakukan oleh manusia .
    mengapa ithu bsha terjadiie ??
    sayha sangat heran dgn oranq indonesiia .

    exct : zhulayy slallu saiianq diia :’(

  26. fairuz says:

    assalamualaikum,,,
    memang mengdu domba akan menimbulkan banyak permasalahan!
    dengan mengadu domba kita akan membuat tali silaturrohmi dan membat datangnya permusuhan antara sesama saudara.

  27. HAYATI NUFUS says:

    terimakasih atas penjelesannya ,,
    mudah2n sya,,kamu,,dan kita semua tidak termasuk ke dalam orang2 yang NAMIMAH.
    Amiiiiiiiinnn,,,

  28. ian says:

    “Seseorang yg pintar akan sll menjaga lisannya, seseorg yg pintar akan berpikir terlebih dahulu sblm ia berucap. Seseorang yg pintar tdk akan menghambur hamburkan perkataannya buat sesuatu yg tak bermamfa’at…
    mudah-mudahan kita menjadi sebagian org yg bisa menjaga lisan nya, amin ya roball alamin…

Leave a Reply