Penulis: Ummu Aiman
Muroja’ah oleh: Ustadz Nur Kholis Kurdian, Lc.
Bahagia rasanya saat akad nikah terucap, saat semarak walimatul ‘urs menggema, saat tali pernikahan terikat. Saat itu telah halal cinta dua orang insan, saling mengisi dan saling melengkapi setiap harinya. Saat itu pula masing-masing pasangan akan memiliki tugas dan kewajiban baru dalam kehidupan mereka. Sang suami memiliki hak yang harus ditunaikan istrinya, dan sang istripun mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh suaminya. Alangkah bahagianya jika masing-masing secara seimbang senantiasa berupaya menunaikan kewajibannya.
Duhai saudariku muslimah, kini aku bertanya padamu… bukankah indah rasanya jika seorang istri mematuhi suaminya, kemudian ia senantiasa menjadi penyejuk mata bagi suaminya, menjaga lisan dari menyebarkan rahasia suaminya, lalu menjaga harta dan anak-anak suami ketika ia pergi? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertakwa kepada Allah daripada istri yang shalihah, bila ia menyuruhnya maka ia menaatinya, bila memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah (agar istrinya melakukan sesuatu), maka ia melakukannya dengan baik, dan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)
Sehingga… kehidupan rumah tangga pun akan berjalan penuh dengan kemesraan dan kebahagiaan. Yang satu menjadi tempat berbagi bagi yang lain, saling menasehati dalam ketakwaan, dan saling menetapi dalam kesabaran.
Saudariku muslimah… tulisan tentang kewajiban istri dalam mematuhi perintah suami telah banyak dibahas. Maka kini penulis akan mencoba mengetengahkan hal-hal apa saja yang tidak boleh dipatuhi oleh seorang istri di saat suaminya memerintah.
Ini Saatnya Mematuhi Perintah Suami
Diantara ciri seorang istri sholihah adalah mematuhi perintah suaminya. Yang dimaksud mematuhi perintah adalah mematuhi dalam hal yang mubah dan disyari’atkan. Jika dalam perkara yang disyari’atkan, tentu hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi hukumnya, karena perkara yang demikian adalah hal-hal yang Allah perintahkan kepada para hamba-Nya, seperti kewajiban sholat, berpuasa di bulan Ramadhan, memakai jilbab, dan lain-lain. Maka untuk hal ini, seorang hamba tidak boleh meninggalkannya karena meninggalkan perintah Allah Ta’ala adalah sebuah dosa. Sedangkan dalam perkara yang mubah, jika suami memerintahkan kita untuk melakukannya maka kita harus melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan kepada suami. Contohnya suami menyuruh sang istri rajin membersihkan rumah, berusaha mengatur keuangan keluarga dengan baik, selalu bangun tidur awal waktu, membantu pekerjaan suami, dan hal-hal lain yang diperbolehkan dalam syari’at Islam.
Ada Saatnya Menolak Perintah Suami
Jika dalam hal yang disyari’atkan dan yang mubah kita wajib mematuhi suami, maka lain halnya jika suami menyuruh kepada istri untuk melakukan kemaksiatan dan menerjang aturan-aturan Allah. Untuk yang satu ini kita tidak boleh mematuhinya meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kalau sekiranya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kita tidak boleh tunduk pada suami yang memerintah kepada kemaksiatan meskipun hati kita begitu cinta dan sayangnya kepada suami. Jika kewajiban patuh pada suami sangatlah besar, maka apalagi kewajiban mematuhi Allah, tentu lebih besar lagi. Allahlah yang menciptakan kita dan suami kita, kemudian mengikat tali cinta diantara sang istri dan suaminya. Namun perlu diketahui, bukan berarti kita harus marah-marah dan bersikap keras kepada suami jika ia memerintahkan suatu kemaksiatan kepada kita, tetapi cobalah untuk menasehatinya dan berbicara dengan lemah lembut, siapa tahu suami tidak sadar akan kesalahannya atau sedang perlu dinasehati, karena perkataan yang baik adalah sedekah.
Saudariku, berikut ini beberapa contoh perintah suami yang tidak boleh kita taati karena bertentangan dengan perintah Allah:
1. Menyuruh Kepada Kesyirikan
Tidak layak bagi kita untuk menaati suami yang memerintah untuk melakukan kesyirikan seperti menyuruh istri pergi ke dukun, menyuruh mengalungkan jimat pada anaknya, ngalap berkah di kuburan, bermain zodiak, dan lain-lain. Ketahuilah saudariku, syirik adalah dosa yang paling besar. Syirik merupakan kezholiman yang paling besar (lihat QS Luqman: 13). Bagaimana bisa seorang hamba menyekutukan Allah sedang Allah-lah yang telah menciptakan dan memberi berbagai nikmat kepadanya? Sungguh merupakan sebuah penghianatan yang sangat besar!
2. Menyuruh Melakukan Kebid’ahan
Nujuh bulan (mitoni – bahasa jawa) adalah acara yang banyak dilakukan oleh masyarakat ketika calon ibu genap tujuh bulan mengandung si bayi. Ini adalah salah satu dari sekian banyak amalan yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun begitu banyak masyarakat yang mengiranya sebagai ibadah sehingga merekapun bersemangat mengerjakannya. Ketahuilah wahai saudariku muslimah, jika seseorang melakukan suatu amalan yang ditujukan untuk ibadah padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyontohkannya, maka amalan ini adalah amalan yang akan mendatangkan dosa jika dikerjakan. Ketika sang suami menyuruh istrinya melakukan amalan semacam ini, maka istri harus menolak dengan halus serta menasehati suaminya.
3. Memerintah untuk Melepas Jilbab
Menutup aurat adalah kewajiban setiap muslimah. Ketika suami memerintahkan istri untuk melepas jilbabnya, maka hal ini tidak boleh dipatuhi dengan alasan apapun. Misalnya sang suami menyuruh istri untuk melepaskan jilbabnya agar mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan, hal ini tentu tidak boleh dipatuhi. Bekerja diperbolehkan bagi muslimah (jika dibutuhkan) dengan syarat lingkungan kerja yang aman dari ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) dan kemaksiatan, tidak khawatir timbulnya fitnah, serta tidak melalaikan dari kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suami dan mendidik anak-anak. Dan tetap berada di rumahnya adalah lebih utama bagi wanita (Lihat QS Al-Ahzab: 33). Allah telah memerintahkan muslimah berjilbab sebagaimana dalam QS Al-Ahzab: 59. Perintah Allah tidaklah pantas untuk dilanggar, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.
3. Mendatangi Istri Ketika Haidh atau dari Dubur
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “…dan persetubuhan salah seorang kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)
Begitu luasnya rahmat Allah hingga menjadikan hubungan suami istri sebagai sebuah sedekah. Berhubungan suami istri boleh dilakukan dengan cara dan bentuk apapun. Walaupun begitu, Islam pun memiliki rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu suami tidak boleh mendatangi istrinya dari arah dubur, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“(Boleh) dari arah depan atau arah belakang, asalkan di farji (kemaluan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika suami mengajak istri bersetubuh lewat dubur, hendaknya sang istri menolak dan menasehatinya dengan cara yang hikmah. Termasuk hal yang juga tidak diperbolehkan dalam berhubungan suami istri adalah bersetubuh ketika istri sedang haid. Maka perintah mengajak kepada hal ini pun harus kita langgar. Hal ini senada dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menjima’ istrinya yang sedang dalam keadaan haid atau menjima’ duburnya, maka sesungguhnya ia telah kufur kepada Muhammad.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Belajarlah Wahai Muslimah!
Demikianlah saudariku pembahasan singkat yang dapat penulis sampaikan. Sebagai penutup, mari kita ringkas pembahasan ini: Bahwa wajib bagi seorang istri untuk mematuhi apa yang diperintahkan suaminya dalam perkara yang mubah apalagi yang disyari’atkan Allah, namun tidak boleh patuh jika suami memerintahkan kemaksiatan dan yang dilarang oleh Rabb Semesta Alam.
Lalu, perkara apa sajakah yang termasuk dalam larangan Allah? untuk itu, setiap hamba wajib mencari tahu tentang syari’at Islam karena dengannya akan tercapai ketakwaan kepada Allah, yaitu melakukan yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa yang Allah larang. Wahai para wanita muslim! Pelajarilah agama Allah dengan menghadiri majelis-majelis yang mengajarkan ilmu syar’i atau dengan menelaah buku dan tulisan para ‘ulama. Tidaklah mungkin seseorang akan mengenal agamanya tanpa berusaha mencari tahu. Dan tidak mungkin pula ilmu akan sampai kepadanya jika ia hanya bermalas-malasan di rumah atau kos, atau hanya sibuk berjam-jam berdandan di depan cermin, serta bergosip ria sepanjang waktu. Sungguh yang seperti itu bukanlah ciri seorang muslimah yang sejati. Bersegeralah melakukan kebaikan wahai saudariku, karena Allah pasti akan membalas setiap kebaikan dengan kebaikan, dan membalas keburukan dengan keburukan walaupun hanya sebesar biji sawi. Setiap anak Adam memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang senantiasa berusaha untuk memperbaiki dirinya. Wallahu ta’ala a’lam.
Referensi:
***
Artikel www.muslimah.or.id
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
November 7th, 2008 at 20:27
sejak kecil kalo ditanya soal cita-cita, maka ana jawbnya jadi istri sholihat dan ummahat mukminat, amiin…
November 9th, 2008 at 04:35
ruull…. maaff baru sempat buka blogmu….
benerann blogmu isinya bagus bangettt …
palagi yg baca kayak aku…. pas daahh….
good luck !!!!
November 9th, 2008 at 10:14
Assalam,wr,wb. Subhanaallah, semoga Allah mengampuni dosa2ku n kehlfanku,n membriku pndamping yg dpt membimbing aq dijalan Allah swt. Amin…
November 10th, 2008 at 23:14
Subhanallah…nasehat yang indah
November 11th, 2008 at 15:37
Assalamu’alaykum…
subhanallah memang indah sekali perkara ini. yang belum mesthi banyak belajar. yang sudah juga jangan berhenti belajar…
November 11th, 2008 at 17:56
jazakillah khairan :) barakallahufiik :>
November 12th, 2008 at 00:31
Semoga bisa…insyaAlloh…
:)
November 12th, 2008 at 14:16
Jzakmulloh khoir. Mga nntiny ana mendpatkn pndamping yg bæk aqidah N akhlaqnya.Amiin
November 12th, 2008 at 14:37
very nice and interesting good luck
November 14th, 2008 at 20:08
assalamu’alaikum.
gmn klo mslnya suami meminta kita menghadiri kegiatan yang di tujukan bgi ortu agar dpt mendidik anak dgn baik.tp kita pny kgtn lain,yaitu kajian rutin dan yg mengisi acara adalah kita.mana yg hrs di utamakan?menuruti suami atau mengikuti kajian?
November 16th, 2008 at 04:55
Alhamdu lillaah. Emang kita wajib untuk taat pada suami, n ketaatan pada suami itu memang dalam rangka ketaatan kita pada Allah. Nanti yang memberi ganjaran ya Allah. Kalau kita tak taat suami, yang menghukum juga Allah. Kan Allah yang punya jannah dan naar? Maka kalau sekiranya ketaatan kita pada suami itu pada hal yang Allah larang ya kita tak boleh malakukannya.
Suami tak punya jannah dan naar. Tapi Rasulullaah saw bersabda,
“أيما امرأة ماتت و زوجها راض عنها دخلت الجنة”
Mana saja perempuan yang mati, sedangkan suaminya dalam keadaan ridha padanya, dia pasti masuk jannah.
November 17th, 2008 at 00:00
Subhanallah…
bagaimana jika suami ingin menikah lagi?sedang dia kaya, mampu dan memenuhi syarat lainnya..
akankah komentar para akhwat atau ummahat seperti ini indahnya?…
semoga…
Amin
December 3rd, 2008 at 09:27
Subhanallah…
InsyaAllah qkn sll brusaha, bljr n bljr lg tuk mjd seorg istri yg sholehah, amin..
SMANGAT…;-)
Bismillah,
Contoh ksus, ktka ad tamu brkunjung kerumah n kebetulan qt blm sholat pdhl wkt sholat tlh brlalu +-30mnt(:-(:-(:-(smg shltny SLL tpt n diawal wkt)
Suami bilang sholatny ntr aj tuk menghormati tamu (pdhl shltkan WAJIB? Bknny hrs didahulukn?),
Sdngkan qt tdk tau tamuny akn plng jam brp, bs sj ktka tamu plng wkt shlt sdh hbs..
apkh yg hrs qt lakukn???
Please comment…
Syukron…;-)
Jazakumullahu khoir..
December 4th, 2008 at 00:55
menghormati tamu…??haruuss, taat suami..??wuiihh..lebih harus lagi…taat pd Alloh…paling lebih harus lagii, sampai sini setuju toh..??
nah sekarang stepnya :
1. sambut tamu barengan suami, persilahkan masuk dan duduk sbgmn adat di t4 tinggal yg sesuai syar’i,lalu jelaskan padanya dengan kesopansantunan bahwa anda belum sholat, jadi sabar sebentar ya..ana belum sholat
2. minta (jangan merintah) pada suami untuk melayani obrolan sang tamu sejenak, sementara anda sholat wajib (sholat yang sunnah lebih baik ditinggalkan, karena masih ada yg wajib disana yaitu patuh pd suami) dan membuat minuman apa adanya (untuk menghormati tamu)
3. selesai sholat wajib, bergegaslah mendampingi suami sambil membawa hidangan tadi,tentunya tidak pake lari2, ntar gelasnya pecah malah kemurkaan suami yang didapat
kan dapet semua toh?? kewajiban pada Alloh, lalu suami, lalu tamu…prioritas standarnya…wallohu a’lam
December 4th, 2008 at 01:44
kepada akh ahmad…sabar ya akhi…cemburu dan rasa tak mau disaingi adalah tabiat khas kaum hawa…Aisyah rodhiallohu ‘anha seorang wanita yang paling paham dan dalam ilmunya tentang islam, tp justru paling pencemburu di dunia..itu Aisyah…apatah lagi wanita di zaman kita ini, udahlah ilmunya tak seberapa dibanding Aisyah, cemburunya kadang g beraturan, tp bukan disini letak masalahnya..
yg jadi masalah adalah kita kaum prianya…apakah bisa mengerti dengan keadaan dan sikap mereka, sementara kitapun tidak sebaik baginda Nabi dalam tata krama berumahtangga…jadi…tiap2 individu saling mengertilah…fahimtum..??
December 8th, 2008 at 20:25
Assalamualaikum…
Ada yang bisa bantu ana??
ana perlu ilmu tentang pernikahan yang lengkap…ada yang punya?
jazakumullahkhair
December 8th, 2008 at 20:30
pokoknya…tentang ta’aruf yang syar’i, tentang cara memilih ikhwan yang baik, tentang shalat istikharah yang sesuai sunnah, tentang nadzor yang syar’i, dan apa aja yang harus disiapkan untuk menikah, etc.
jazakumullahkhair
December 11th, 2008 at 22:28
isinya bagus sekali…salut
December 14th, 2008 at 09:24
maaf suamiku, ….. aku tidak akan mentaatimu
maaf suamiku…..suatu permintaan maaf yang indah, senang rasanya, lebih indah dan lebih senang lagi kalau tidak ada tambahan kata “provokator” dibelakangnya
pada dasarnya muslimah itu bengkok, jangan dipaksa untuk lurus dan jangan ditambah bengkoknya nanti patah
muslimah punya naluri dan hati yang lembut, kesalah pahaman keluarga biasanya karena hal tersebut mulai luntur, belajar terus tak tahu mana yang baik dan mana yang benar
ada 2 (dua) pendapat, mana yang muslimah pilih
pendapat 1 : karena tak kenal, maka tak sayang
pendapat 2 : karena tak sayang, maka tak kenal
wahai muslimah…. pendapat mana yang anda pilih… pergunakan naluri dan kelembutanmu
tentu pendapat kedua yang muslimah pilih, buktikan!, coba buka Al Qur’an, apa yang pertama kali muslimah baca “dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang” bagaimana bisa mengenal Allah kalau tidak sayang Allah dengan mengkaji Al Quran
dengan akad nikah suami dititipi oleh Allah untuk menjaga sunatullah kelangsungan kehidupan manusia
jadi muslimah boleh menolak perintah suami kalau melanggar sunatullah.
coba muslimah bedakan antara ibadah mahdoh, ibadah ghoirul mahdoh dan kebudayaan, jangan membicarakan bid’ah kalau tidak tahu apa itu bid’ah
maaf kalau ada kata yang kurang berkenan
Wassalam. wr. wb
December 15th, 2008 at 07:46
#art
Mungkin perlu dibaca lagi isi artikel di atas lebih teliti. Karena demikianlah anjuran dari isi artikel. Yaitu menaati perintah suami dan menolak menaati ketika yang diperintahkan adalah kemaksiatan.
Dan mengenai dua pendapat yang saudara art katakan (dengan menganjurkan memilih berdasar perasaan) juga kurang tepat.
Ketika kita mempelajari ilmu tauhid, dan rukun iman, maka kita diajarkan untuk ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah. Kita belajar mengenal Allah dengan tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma wa shifat. Dari mengenal Allah ini-lah maka akan timbul rasa cinta, takut dan harap kepada Allah secara benar.
December 16th, 2008 at 17:40
Assalamualaikum
Pada dasarnya NO BODY PERFECT, tidak ada manusia yang sempurna. Begitu juga suami kita….mereka adalah manusia biasa yang mengalami proses pembelajaran yang mereka perlu waktu mamahami apa yang terbaik dalam hidupnya. Adab-adab menasehati adalah selalu ditekankan, apalagi menasehati suami…….. adalah mudah jika kita memahami situasi bagaimana pola berpikirnya dengan penuh kesabaran.
Tidak ada suatu ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah….dalam menyampaikan informasi berdasarkan Sunnah haruslah ditekankan Aqidah terlebih dahulu, berdoa dan sabar.
nasehat bisa di berikan melalui kaset, buku-buku dan majalah dan kita cerita mengenai pengalaman seseorang dan cerita-cerita dalam sirah nabawy. Laki-laki adalah makhluk Allah yang kuat tapi lemah, jika wanita bisa mengerti keadaan mereka Insya Allah mereka adalah makhluk yang mudah sekali di nasehati dan takluk kepada wanita(hehehehehe). Jadi jagalah suami kita dengan Iman dan Taqwa kepada Allah.
February 20th, 2009 at 01:33
seorang istri dan anaknya bersilturahmi ke rumah orang tuanya. tapi ketika suami menyuruhnya pulang sang istri menolak dengan alasan masih betah bersama orang tuanya.
dan ternyata tanpa sepengetahuan suami, sang istri telah melamar berkerja pada sebuah kantor, dan memberitahukan pada suaminya setelah ia diterima di kantor tersebut. tapi suami tetap tidak mengijinkannya dan menyuruh si istri untuk pulang kerumah. bahkan sang istri mengancam minta cerai jika tidak di ijinkan untuk tetap bekerja.
bagaimana (sikap suami) ?
semoga Allah memberi jalan keluar yg terbaik.
(perlu diketahui bahwa saya seorang suami –> ADMIN yg terhormat: hapus yg tidak perlu)
February 20th, 2009 at 05:46
Bismillah…
Untuk akh dhea:
Astaghfirullahal ‘adzim…
Perlu antum ketahui bahwa istri antum sudah melanggar kewajibannya kepada antum, yaitu menta’ati perintah suami. Dan jika sudah seperti itu, maka antum harus menegurnya [dengan lembut], jika dia tidak mau mendengar maka tegurlah lagi [dengan sedikit keras], jika dia masih tidak mau mendengar maka pukullah dia [pukul kakinya, jangan sekali-kali antum memukul wajahnya], dan jika masih tidak mau mendengar maka pisahkan dia dari ranjang, dan jika dia masih membantah, maka sungguh…antum telah mengetahui akhlaq istri antum, dan sebaiknya antum mengembalikan dia kepada orangtuanya dengan cara yang masyru’, kemudian jelaskan duduk perkaranya.
A’anakallahu wa yassarallahu umuraka.
Wallahu a’lam bishshowwab.
February 22nd, 2009 at 02:15
Bismillah,
assalamu’alaikum, terimakasih akh Ibnu:
alhamdulillah saya sudah melakukan 3 hal yg dianjurkan jika istri membantah. Namun saya seperti tidak berdaya karena jarak antara kami sekarang berbeda pulau, apakah perlu saya jemput? dan mendatangi kantor dimana ia bekerja bahwa saya tidak mengijinkannya bekerja? dan bagaimana kalau tetap tidak bisa di ajak pulang? dan bagaimana mengenai putra kami yg baru berusia 2thn yg kini dibawa olehnya?
saya hampir kehabisan akal dan putus asa. mudah2an saya masih kuat menahan cobaanNYa ini, amin.
wassalam.
February 22nd, 2009 at 18:18
Bismillah,
Akh Dhea hafidzakallahu Ta’ala:
Selama antum belum resmi bercerai dengan istri antum, istri antum tetap memiliki kewajiban untuk menta’ati antum. Jika antum tidak bisa membujuknya atau menasihatinya, maka mintalah tolong kepada salah satu keluarga atau kerabat terdekatnya untuk memberikan pengertian kepadanya.
Dan mohonlah kepada Allah Jalla Dzikruhu untuk kebaikan istri antum dan rumah tangga antum berdua.
Jika usaha antum masih tidak membuahkan hasil, maka beristikharahlah kepada Allah Jalla wa ‘Ala tentang keputusan terbaik apa yang harus antum lakukan.
Insya Allah, Dia akan memberikan kemudahan kepada hamba-Nya yang senantiasa bertawakal dan beriman kepada-Nya.
February 22nd, 2009 at 22:55
Bismillah,
assalamu’alaikum, sekali lagi terimakasih banyak akh Ibnu:
bisa disimpukan saat ini, bahwa hati istri saya sedang diliputi sesuatu yg sangat keras… (orgtuanya sudah “angkat” tangan untuk membujuknya pulang kerumah suami) saat ini saya masih berfikir apakah baik jika saya “menjemput” kesana, dan memberikan pilihan I ikut pulang dan semua akan berjalan normal, atau Pilihan ke-II tetap bekerja disana dengan satu kondisi, saya menyerahkannya kepada orangtuanya dan “melepas” sementara status istri dan ibu bagi anak saya. saya membawa anak saya pulang (tapi akan timbul masalah, ia pasti akan bersikeras tidak “memberikan” anak saya) dan jika suatu saat ia ingin pulang saya akan menerima dengan lapang hati.
Namun, jika kedua pilihan tersebut tidak memiliki arti dan keputusan, maka saya harus pulang dengan hati hampa dan mudah2an Allah memberikan kesabaran lebih buat saya. Insya Allah.
February 23rd, 2009 at 05:46
Bismillah,
akh Dhea…
‘Afwan, ana kurang setuju jika antum bersikap demikian terhadap istri antum. Ingat akh…antum adalah rois (pemimpin) bagi istri dan anak antum. Dan hak seorang suami atas istrinya adalah bahwa istri wajib menta’atinya dalam perkara yang baik.
Ahsannya antum, bermusyawarah langsung dengan istri kemudian keluarga istri antum perihal masa depan rumah tangga antum.
Antum tanyakan keinginan istri antum, apa yang dia inginkan untuk masa depan rumah tangga antum berdua. Jika dia memang sudah tidak ingin bersama antum, maka -insya Allah- antum sudah faham apa yang harus antum lakukan selanjutnya.
Semoga Allah al-Hakim senantiasa membantu dan memudahkan urusan antum.
February 24th, 2009 at 00:39
assalamu’alaikum
akh Ibnu:
satu2nya keinginannya adalah,jika saya ingin melanjutkan hidup bersamanya, saya harus kesana memulai “hidup baru”, mencari pekerjaan dan tempat tinggal!
Ya Allah, mudahkanlah dari segala kesulitan urusanku…
wassalam.
February 24th, 2009 at 02:50
better pakai kata anta ya..bukan antum..kalau anta untuk lelaki 1 orang, kalau antum untuk lelaki dalam jumlah lebih dari 2 orang
February 25th, 2009 at 23:29
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (…) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku atau -Nabi Shallallahu’alaihi wasallam …di dunia atau akhirat- sukseskanlah untukku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”
March 1st, 2009 at 11:12
“Nyunah” itu mudah, kenapa dipersusah ?
“Sunnah” mudah kok mau dipersusah ?
Iklash dan Ridho akan memudahkan menjalankan ketentuanNya
shoheh ya uhti ?
March 6th, 2009 at 09:00
@ Akh Dhea
Bismillah
Sedikit menambahkan komentar dari akh Ibnu Ismail, memang benar yang dikatakan beliau…antum perlu ‘mengalah’ dalam hal pekerjaan, tempat tinggal, dll untuk ‘menang’ dalam hal mempertahankan keutuhan rumah tangga..yakinlah dengan kesabaran menasihati & mendoakan kebaikan untuk istri dan keluarga semuanya akan kembali seperti sediakala, bahkan mungkin lebih baik lagi setelah badai ujian yang menerpa antum ini dapat antum lewati bersama..antum perlu banyak komunikasi dengan istri dalam hal ini, tentu akan lebih mudah apabila antum tinggal serumah (tidak beda pulau), dan lagi yang namanya pekerjaan itu pilihan, antum sudah punya pengalaman kerja tentunya lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan lagi setelah kembali serumah dengan istri atau bahkan bisa berwiraswasta, dengan demikian istri bisa antum rayu perlahan-lahan untuk berhenti bekerja dan fokus/all out membantu suami…tentu butuh waktu akh semuanya. Sabar ya akh, memang tidak mudah…tapi yakinlah antum bisa melewati semua itu.. Laayukallifullohu nafsan illa wus’aha dan banyak-banyak berdo’a kepada Alloh Ta’ala karena hati manusia berbolak balik itu, semuga antum semua sekeluarga bisa bersatu kembali, bersama-sama meraih pahala dan ridho Alloh semata dengan jannah sebagai sebaik-baik balasan. Ikhwah lainnya yang membaca ini juga insyaAlloh mendoakan yang terbaik untuk antum.
@ penulis
Salut untuk penulis, tulisan yang bagus, benar2 berbakat untuk jadi penulis. Artikel yang indah dengan judul yang cenderung mem’provokasi’ pembaca untuk melihat kedalam, sedikit masukkan yang poin 3 terulang itu digabung aja menjadi 3. Menyuruh kepada maksiat dan kemungkaran, ini lebih umum yang bisa ditafshil dengan poin2 tadi sebagai sub poin materi bahasan.
@dian
itu bisa dikompromikan dengan suami koq, ana yakin dengan adanya komunikasi bisa saling mengerti. Dan acara mendidik anak dengan baik skrng sudah banyak, bahkan ada yang gratis berupa forum dan milis saling share ilmu psikologi anak, kesehatan, pendidikan dll. Tapi kalo suami sudah bilang harus dan tidak bisa digeser2 jadwalnya…ehm ahsannya ngalah aja. Bagaimanapun juga, suami tetep prioritas utama klo udah keluar InSum (Instruksi Suami), tinggal bilang siaap (dalam konteks kebaikan ya).
@Ahmad
Ana yakin, komentar para akhowat tetap indah, hal ini dikarenakan kekuatan ilmu, iman dan amal mereka. Tapi, ya..kalau cemburu ya itu wajar sekali, akh abu husain benar..aisyah radhi’allohu’anha juga demikian. Jika antum memang mampu (juga mau), kenapa tidak? pertanyaannya adalah, mampukah antum untuk adil? ehm…jawab sendiri ya
April 17th, 2009 at 05:44
Assalamu’alaikum wr wb
Menarik membaca artikel tentang mentaati perintah suami, saya seorang suami dan mempunyai istri yang saya telah nikahi kurang dari setahun. istri saya sekarang sedang hamil 5 bulan dan dia bekerja dengan penghasilan yang lebih besar dari saya! saya mempunyai permasalahan dimana saya kerap bertengkar dengan istri bilamana menyangkut permasalahan keuangan. yaitu ketika saya menanyakan uang yang ada padanya! dimana uang tersebut adalah uang pendapatan saya dan istri. tetapi istri selalu menutupi, dan bersikeras tidak akan memberitahu saya. bagaimana saya harus bersikap kepada istri saya
April 21st, 2009 at 21:22
assamualaikum
November 8th, 2009 at 08:27
izin copast ya,,^_^.
November 17th, 2009 at 22:16
tulisan yang bagus.. dan web yang menarik. belum lagi komentator yang berilmu… wuih, jarang2 bisa didapati website kek gini.
terus berjuang gan… hehe.. :D
January 24th, 2010 at 03:17
Izin copy artikel………………..
March 3rd, 2010 at 22:05
Ana juga masih ingin jadi istri yang taat. Tapi sekarang pedang talak sudah menusuk ana karena bebodohan ana terhadap lelaki, karena ia lelaki pertama yang “menyentuh” ana.
Muncul rasa takut untuk menikah lagi karena takut mendapatkan suami yang menyulitkan ana untuk taat karena ia enggan bicara padahal tidak bisu, enggan mendengar padahal tidak tuli, tidak dipahami maunya apa… marahnya cepat dan redanya lambat, menyuruh ana banyak bergaul dengan siapapun termasuk lelaki… Masya Alloh, kebodohan ana menjadikan ana bingung ketika ia menyuruh, ma’ruf ataukah tidak…
Bagaimana supaya rasa takut ini hilang? Karena ana tau tidak boleh trauma.
February 2nd, 2011 at 09:16
assalamualaikum ya ukhti…izin share artikel nya..jazakallah humkhoir
February 27th, 2011 at 09:16
Assalamu’alaykum
Bagaimana jika suami sudah tidak bisa dinasehati baik secara baik2 sampai terkadang ana emosi.
Karena aqidah ana dan suami berbeda (dulu waktu pertama kali menikah tidak), ia mengikuti suatu tarekat dan syariat yang ia kerjakan adalah perkataan gurunya, dan menganggap Al-Qur’an dan As Sunnah hanya bacaan. Shalatnya pun tidak sesuai dengan seperti apa yang dicontohkan Rasulullah, walau kadang mengerjakan sholat (hanya maghrib). Jadi ketika saya menyebutkan suatu dalil, hal itu tidak berlaku baginya, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya tetap harus ‘bersamanya’ karena perbuatan ma’ruf yang saya lakukan seperti tulisan diatas tidak ia anggap seperti ketaatan saya padanya, yang ia mau saya mengikutinya dalam hal aqidahnya. Mohon jawabannya ukh
Barakallahu fiikum
March 11th, 2011 at 13:21
Alhamdulillah, suami ana orang yang hanif. Beliau ikhlas menemani saya bertugas di provinsi lain hingga membuat beliau resign dari tempatnya bekerja padahal saat itu dari segi ekonomi kami cukup mapan. Awal – awal terasa berat, karena saya hamil dan suami harus mulai dari nol lagi. Bahkan, ketika anak pertama lahir, beliau tidak segan ikut turun tangan mengasuh saat saya harus bertugas di lapangan dan terpaksa meninggalkan anak saya selama beberapa hari. Alhamdulillah, Allah memberikan balasan manis pada suami saya. Sekarang, suami saya kembali bekerja dan kehidupan kami pelahan – lahan mulai membaik.
July 20th, 2011 at 11:54
artikel yang amat bagus.. izin share ya, jazakillahu khayran :)
September 30th, 2011 at 00:52
Mas Dhea, saya juga seorang suami dan masalah anda sama persis dengan saya. Punya istri yang tidak taat dan daya bantahnya luar biasa. Dia lebih milih karirnya yg gajinya hanya 20% gaji saya (kami tinggal beda pulau, istri ikut ortunya). Dan ini sudah berlangsung 1,5 tahun dan alhamdulillah saya masih sabar. Saya tidak akan melarang istri kerja selama dia tinggal serumah dengan saya, karena saya bisa mengawasi. Tapi akhir2 ini kesabaran saya sdh mulai habis dan marah besar semenjak dia khianat dengan janjinya (kami baru daftar haji, dan dia janji setelah daftar haji akan ikut saya) ternyata semuanya hanya kebohongan demi mendapat fasilitas lebih dari saya. Sedangkan saat saya menuntut kewajibannya dia keberatan. Kami sudah punya anak umur 3 thn dan dia tiap hari nangis kangen saya.segala cara dan akal sudah habis. Mungkin tahun depan dia akan saya cerai, dengan terlebih dulu saya akan batalkan haji istri..smg Allah memberi jalan terbaik untuk kami..aamin
December 30th, 2011 at 18:01
suami saya mengajak untuk bekerja dan juga suruh bawa’ anak Qt karena dia masih asi tapi orang tua saya tidak memperbolehkan Qt bawa’ anak Qt.kebetulan pekerjaan suami saya sells.mana yg harus Q ikuti?
December 31st, 2011 at 19:35
artikel yg bagus…ijin share ya…
January 2nd, 2012 at 23:09
@ Tora
Suami lebih berhak untuk ditaati daripada orangtua selama perintah tersebut adalah perintah yang ma’ruf tidak untuk bermaksiat kepada Allah. Namun demikian hendaknya suami istri tersebut menjelaskan kepada orangtua atas keingininan mereka dengan cara yang lemah lembut lagi santun sehingga orangtua ridha atasnya.