Kiat Sukses Berteman Tanpa Konflik

Penulis: Ummu Fathimah Umi Farikhah
Muroja’ah: Ust. Sa’id Yai Ardiansyah, Lc

Hidup bermasyarakat memang sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang hidup di dunia ini. Adakah orang yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain? Tentu saja tidak ada. Berbagai macam manusia dengan aneka karakter membuat kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sebagai teladan ummatnya memilik akhlak yang paling luhur. Beliau shallallahu’alaihi wasallam mengajari kita bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim bahkan dengan orang kafir sekalipun. Hal ini sebagamana diterangkan dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya,

“Sungguh Engkau (Muhammad), seorang yang berbudi pekerti luhur.” (Qs. Al Qolam: 4)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Wahai saudariku, semoga Allah Ta’ala merahmatiku dan dirimu. Marilah kita simak apa yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jelaskan berikut ini dengan pendengaran kita. Dan marilah kita perhatikan apa yang beliau ajarkan kepada kita dengan penglihatan dan mata hati kita. Dengan mata, telinga dan hati seseorang mampu mengambil pelajaran, sehingga apa yang kita simak tersebut bisa menghujam dan tertanam dalam-dalam dalam hati, biidznillahi Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya yang pada demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qs. Qaf: 37)

Di antara kiat berinteraksi dengan sesama muslim yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah:

Memperlakukan Orang Lain Sebagaimana Ia Menyukai Hal Tersebut Diperlakukan untuk Dirinya

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ketika maut menjemputnya hendaknya dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, memperlakukan orang lain sebagaimana pula dirinya ingin diperlakukan demikian.” ( HR. Muslim (1844) dan Nasa’I (4191)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini, “Hadits ini termasuk jawami’ul kalim (kata-kata yang singkat dan padat namun mengandung makna yang luas, – pen) yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, termuat banyak hikmah di dalamnya. Ini adalah kaedah yang penting yang seharusnya menjadi perhatian khusus. Hendaknya manusia mengharuskan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu kepada orang lain kecuali jika ia menyukai hal tersebut diberlakukan untuk dirinya.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim, asy-Syamilah).

Inilah prinsip pertama yang sengaja kami tempatkan diurutan teratas, karena prinsip ini begitu agung dan mulia. Sungguh seandainya saja semua manusia menerapkan prinsip ini tentu tidak ada lagi konflik yang menerpa mereka. Karena mereka akan berpikir dan mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum bertindak. Dan berkata di dalam hati, ” Jika aku berbuat demikian kepada saudaraku apakah aku juga rela jika dia berbuat yang sama kepada diriku?”

Jika kita tidak ingin dikhianati maka janganlah kita coba-coba mengkhiananti orang lain. Jika kita tidak ingin ditipu maka janganlah sekali-kali kita menipu orang lain, jika kita ingin orang lain tersenyum kepada kita ketika bersua maka kita pun mengharuskan diri senyum kepada orang lain, jika kita ingin orang lain menyapa dan ramah kepada kita maka hendaknya kitapun mengharuskan diri kita untuk ramah kepada orang lain dan seterusnya. Sehingga ia menjadi orang yang senantiasa mempertimbangkan dengan matang apa yang akan ia perbuat kepada orang lain.

Kami yakin tidak ada manusia yang ingin diperlakukan buruk oleh orang lain, sehingga dengan prinsip ini seharusnya tidak ada lagi pencuri, penipu, perampok, pendusta, orang yang suka mengadu-domba, orang yang suka iri dan dengki, orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain, dan lain-lain. Namun sayangnya kebanyakan manusia adalah makhluk yang picik, mau menang sendiri, sehingga apa yang ia perbuat lebih banyak merugikan orang lain daripada memberikan manfaat kepadanya, kecuali orang yang dirahmati Allah. Semoga Allah senantiasa merahmati kita, menjaga kita dan menjauhkan kita dari akhlak yang buruk. Amin.

Berkata Baik atau Diam

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (HR. Muslim No. 222)

Dalam hadits ini Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengaitkan antara berkata baik dengan keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Hal ini dikarenakan penjagaan terhadap lisan, mempergunakannya untuk ucapan-ucapan yang baik dan diam untuk ucapan yang buruk adalah salah satu tanda dari keimanan. Sesuatu yang paling berat bagi lisan adalah menjaganya, sebagaimana hadits terkenal yang datang dari Mu’adz radhiallahu’anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Ya Rasullullah apakah kami akan disiksa karena perkataan yang kami ucapkan?  Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Celaka engkau wahai Mu’adz, bukankah manusia terlungkup diatas hidungnya atau diatas wajahnya di neraka disebabkan perbuatan lisannya?”[1]. Hal ini menunjukkan bahaya lidah tak bertulang, mudah mengucapkan kata namun jika tidak digunakan dalam kebaikan bisa menjadi senjata makan tuan.(Syarh al Arba’in an Nawawiyah, Syaikh Shalih Ibnu Abdil Aziz Alu Syaikh, hal. 90, Dar Jamil ar Rahman as Salafy, Jogjakarta).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Hadits di atas memberi isyarat bahwa seseorang yang ingin berbicara sesuatu maka hendaknya dia pikir-pikir dahulu. Jika terlihat tidak ada bahaya yang ditimbulkan maka ia boleh berbicara, namun jika ada tanda-tanda bahaya atau dia ragu-ragu maka sebaiknya dia diam. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, ” Hadits ini memerintahkan untuk berbicara dalam hal yang baik-baik dan diam untuk hal yang buruk.” (Qawaid wa Fawaid min al Arba’in an Nawawiyah, Nadzim Muhammad Sulthan, hal 137&138, Dar al Hijrah)

Syaikh Ibnu Shalih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Makna ‘berkata baik’ dalam hadits ini, mencakup berkata baik untuk dirinya sendiri maupun berkata baik untuk orang lain. Berkata baik untuk dirinya sendiri ketika seseorang berdzikir kepada Allah, bertasbih kepada-Nya, memuji-Nya, termasuk juga membaca Al Qur’an, mengajarkan ilmu , amar ma’ruf nahi munkar maka ini semua menjadi kebaikan untuknya. Adapun berkata baik kepada orang lain itu berupa perkataan yang membuat senang teman duduknya meskipun belum tentu baik untuk dirinya sendiri”.(Syarh al Arbain an Nawawiyah, Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al Utsaimin)

Saudariku! Semoga Allah senantiasa merahmatimu, berikut ini akan kami sebutkan atsar dari para sahabat dan para tabi’in tentang kehati-hatian mereka dalam menjaga lisan:
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada di atas bumi ini yang lebih butuh untuk dipenjara lebih lama selain lisanku ini.”

Beliau radhiallahu ‘anhu juga berkata, “Wahai lisan! Katakanlah yang baik-baik niscaya engkau akan beruntung. Diamlah dari kejelekan niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesali semuanya.”

Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Tunaikanlah hak kedua telingamu daripada hak mulutmu. Karena dijadikan untukmu dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Al Hasan Al Bashri berkata, “Para sahabat berkata, ‘Sesungguhnya lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya, jika dia ingin berbicara sesuatu maka dia harus menimbang-nimbang dengan hatinya kemudian baru dia putuskan (berbicara ataukah diam, pen). Adapun lisan seorang munafik berada di depan hatinya, segala sesuatu dia putuskan dengan lisannya tanpa sedikitpun menimbangnya dengan hatinya.” (Tazkiyatunnufus, Dr. Ahmad Farid, as Syamilah)

Lihatlah wahai saudariku! Betapa mereka sangat takut jika lisannya terjerumus kelembah kesia-siaan apalagi kelembah dosa. Namun betapa jauhnya diri kita dengan mereka, mulut kita ini sangat kotor dan penuh dengan tipu daya, mudah berbicara dan tiada faedahnya, suka mengadudomba dan mengumbar fitnah di mana-mana.

Ya Allah, perbaikilah amalan kami dan jauhkan mulut kami dari perbutan keji dan nista. Amin Ya Mujibassailin.

Bermuka Manis Ketika Bertemu

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan bermuka manis ketika bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim (2626), Ahmad (5/173) dan Ibnu Hibban (524))

Syaikh Ibnu Shalih al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bermuka manis mampu mendatangkan kebahagiaan kepada siapa saja yang bersua denganmu termasuk mereka yang suka bermuka cemberut ketika bertemu. Ia mampu menghadirkan rasa kasih sayang dan cinta dan membuat hati menjadi lapang. Bahkan kelapangan hati itu tidak hanya pada dirimu tapi juga orang yang yang bertemu denganmu. Namun jika engkau bermuka muram dan merengut pastilah orang-orang akan lari darimu, mereka tidak nyaman duduk bersanding denganmu, lebih-lebih untuk bercakap-cakap denganmu (Kitabul ‘Ilmi, hal 184, Maktabah Nur al Huda).

Saudariku, inilah kemudahan dalam Islam. Allah Ta’ala memberi kemudahan bagi hambanya untuk memperoleh pahala kebaikan. Sekecil apapun kebaikan itu pasti Allah Ta’ala akan membalasnya dengan ganjaran bahkan sampai berlipat ganda.

Saudariku! Apakah kita tidak mau mendapatkan pahala yang tak terduga karena amalan yang tak seberapa? Marilah kita senyum kepada saudari-saudarai kita, bermuka manislah ketika bertemu dengan mereka, niscaya engkau akan merasakan manfaatnya. Coba bayangkan berapa kali kita bertemu dengan saudara kita dalam sehari, seberapa sering kita bermuka manis dengan mereka, sebanyak itupula pahala yang kita dapatkan..

Namun sungguh sangat merugi orang yang suka bermuka masam ketika bertemu dengan saudaranya, betapa banyak pahala yang terluput darinya..

Menebarkan salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang akan membuat kalian saling mencintai?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim N0. 54 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad No.980)

Saudariku! Marilah kita perhatikan penjelasan Imam Nawawi berikut ini,

“Makna ‘Kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai’ adalah tidak akan sempurna iman seseorang, tidak akan membaik kondisi imannya hingga mereka saling mencintai.Adapun sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam ‘Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman’, bermakna sebagaimana zhohir dan kemutlakannya. Bahwasanya tidak akan masuk surga kecuali orang yang mati dalam keadaan beriman meskipun iman yang tidak sempurna. Inilah zhohir yang ditunjukkan oleh hadits diatas.” Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Tebarkanlah salam di antara kalian’, hadits ini mengandung perintah yang agung untuk menebarkan salam kepada kaum muslimin baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal (Syarh an Nawawi ala Muslim, as Syamilah).

Berteman dengan Orang Shalih

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (Qs. al-Kahfi: 28)

Allah berfirman memberitakan penyesalan orang kafir pada hari Kiamat, yang artinya, “Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur‘an ketika Al-Qur‘an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Qs. al-Furqân: 28-29)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya.”[2]

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.” (HR. Bukhari No.2101 dan Muslim No.6653)

Begitu besarnya pengaruh teman terhadap eratnya jalinan persaudaraan. Teman yang shalih akan senantiasa menunaikan hak saudaranya, menjaga kehormatan saudaranya, saling menyayangi diantara mereka, saling menasehati dalam ketakwaan, tolong menolong dalam kebaikan dan saling mencintai dan membeci karena Allah. Oleh karena itu wahai saudariku, bertemanlah dengan orang shalih niscaya engkau akan beruntung.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allahu A’lam Bishshowab. Washalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wattabi’in.

[1] Diriwayatkan oleh at Tirmidziy (10/88,87), beliau berkata: “Hadits ini hasan shahih” , Ibnu Majah (3973), Hakim (2/413) dan dishahikan oleh al Albani.
[2] Shahih, diriwayatkan Imam Abu dawud dalam Sunan-nya (4833), at Tirmidzy dalam Sunan-nya (2379) dan beliau berkata: “Hadits ini hasan” dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3/303,334).

***
Artikel muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

48 Comments

  1. itha says:

    aslm..wr.wb.Ukhti&Akhi,trimaksih tuk artikelny yng melapangkan hati dan memang demikianlah janji Allah SWT terhadap umatNya yang ingin hijrah menjadi shalih/shaliha.wslm..wr.wb

  2. Ria says:

    Assalamu Alaikum,
    afwan, ana izin copy paste..

  3. Sovi says:

    SUBHAANALLOH…
    Jazaakumullohu khoyron wa baarokallohu fiykum…

  4. tatik says:

    Assalamu’alaikum…
    Syukron ats ilmunya… Sangat manfaat… Persahabatan… Saling memahami kelebihan dan kekurangan satu sama lain… :)

  5. Merubinsu says:

    Subhanallah, ini adalah artikel yg sdh dnanti2
    Jazakumullah n jazakallah, insyaAllah akan sya sebarkn k tman2

  6. Ummu Abdillah says:

    Semoga ana bisa menjalankannya terutama dalam menahan lisan ini.. Syukron untuk ilmunya..

  7. Nia says:

    Assalamu’alaikum. Ummi, afwan…ana mau bertanya. Ana mempunyai seorang sahabat. dan kami sekarang sedang ada konflik. Konflik ini karena sahabat saya membuka rahasia saya yang paling penting ke seorang ikhwan. Saya anggap rahasia saya itu aib bagi diri saya dan keluarga saya. Tapi dia tega membeberkannya pada ikhwan tersebut.Dan tiba-tiba saya dengar rahasia saya itu sudah diketahuioleh semua oang di ampus. Ya Allah ummi…saya harus bagaimana? Saya mencintai sahabat saya itu, tapi sakit di dada ini tidak bisa saya tahan.Jazakallah Khoiron atas jawabannya.

  8. LILIS says:

    Assalamualaikum…
    Iya…. pembahasan yg bgini ne yg dinantikan. artikelnya sangat bermanfaat sx. Zin share ya..syukron

  9. syarif says:

    kirimin ke email saya ya

  10. parry says:

    ooooooooooooooooooooooooooooooooooooo

  11. ummu asma' says:

    ukhti nia yang semoga dirahmati Alloh… memang hal itu sangat menyakitkan. sebagai manusia wajar saja kita memiliki rasa kecewa dan sakit hati ketika ada orang yang menyakiti kita. namun setiap kali kita dihadapkan pada orang-orang yang telah menyakiti kita, ingatlah firman Alloh Ta’ala:
    “Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali ‘Imran: 133-134)
    Marah memang merupakan hak kita karena kehormatan telah dilanggar, namun betapapun sulitnya, siapakah yang tidak tergoda untuk meraih cinta dari Alloh Ta’ala?
    mungkin ada baiknya ukhti klarifikasi kepada sahabat anti mengapa dia melakukan hal tersebut? barangkali dia memiliki alasan atau tidak bermaksud menyakiti anti. wallohu Ta’ala a’lam.

  12. Desi Astuti says:

    Siap untuk dipraktekkan. Bismillah…

  13. alhamdulillah.. mudah2an qt dikaruniai ilmu yang bermanfaat jg dimudahkan Alloh dalam mengamalkannya. syukron..!

  14. Toko Muslim says:

    Masya Allah, artikel yang sangat menggugah dan bermanfaat, kalau saja kaum muslimin bisa mengamalkannya dengan baik, maka tentulah akan masyarakat ini akan damai, tidak dijumpai berita-berita kriminal kecuali sedikit saja.
    Afwan, saran untuk penulis, kalau teks arabnya ditampilkan tentu akan jauh lebih baik, banyak perkataan yang sangat baik untuk dihapal.
    ‘ala kulli hal, jazakumullahu khairal jaza..

  15. Annisa says:

    Asskm..Sy annisa 20thn.Sy t’msuk org yg tdk supel &

  16. Nia says:

    Jazakallah khoion ummi atas jawabannya…do’akan saya ya ummi,agar bisa memaafkan sahabat saya itu. Setiap kali saya ajak untuk ketemu, ia selalu bilang tidak bisa..semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya terhadap sahabat yang saya sayangi itu…..

  17. fai says:

    subkhanallah, mudah2an bermanf’at dan barokah

  18. ariefa says:

    terimakasih atas artikelnya……..sangat bagussekali…..!!!!ummi ini ariefa boleh tanya.ariefa punya teman yang mungkin bisa dibilang jauh sekali dari yang namanya agama,walau ia seorang muslim.dia dekat sekali dengan ariefa.dan sepertinya dia sangat senang berteman dengan ariefa.apakah ariefa harus menjauhinya??hanya karnamenurut ariefa diabukan sosok yang sholih.memang begitu adanya.tapi ariefajuga sangat ingin membantunya.tolong jawabannya ya ummi…..arifa butuh sekali….terimakasih….

  19. Bayu Aji Satrio says:

    krim k email saya y
    artikelnya bgus2 n namabh wawasan saya

  20. fatma says:

    assalamu’alaikum…ana izin copy ukhtifillah

  21. evi lisdianti says:

    assallam alaikum,wr.wb subhaanalloh artikel yang sangat bagus dan bisa menambah ilmu bagaimana mencari sahabat yang sejati. bisa kirim ke alamat email ana. jazaakumulohu

  22. wong dheso says:

    Kepada Toko Muslim pencuri kitab-kitab tertentu di masjid apakah termasuk kriminal dan apakah wajib di laporkan kepada aparat ?

  23. laila says:

    Assalamu’alaikum…
    Ummu Fathimah,ana mau sedikit curhat..ana lagi da mslah dgn sahabat ana,,dia punya teman tlp/sms lki2,bgm cra ana menasehati’y.?
    Jazakillah khoiron katsiro atas jawabannya.

  24. Tiyok Liesti says:

    Assalmualaikum wr, wb,
    terimakasih tentang artikelnya…semoga ana bisa menjalankan nasehat-nasehat yang terungkap.amien…
    sangat bermanfaat dan memberkan ana pencerahan yang lebih baik…
    mohon maaf saya copy paste ya>>>>>> insyallah dalam hal kebaikan..amien..
    Wasalamualaikum Wr. Wb.

  25. @ Ukhti Laila,

    و عليكم ا لسلام ورحمة اللة وبركاته

    memang terkadang seseorang yang yang sedang bermaksit akan merasa terusik dengan nasehat dan salah satu kewajiban penasehat adalah menyampaikan nasehat dengan lemat lembut dan penuh hikmah. insyaallah artikel berikut bisa menjadi referensi bahan untuk nasehat, barakallahu fik.

    http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp

  26. yuyun.elfitriana says:

    ijin share di fb yah…thax yah

  27. Berkunjung mencari ilmu yang bermanfaat.
    Mudah-mudahan menjadi rujukan yang shohih.

  28. Maya says:

    Ana punya seorang teman dekat karena satu tempat belajar. Dia baru mengenal manhaj salaf selama 2 tahun lebih. Ana pernah bertengkar beberapa kali sampai pernah beberapa bulan ana tidak bertegur sapa dan akhirnya selesai dengan suatu islah. Tapi ada beberapa hal darinya yang masih belum juga berubah.

    Sebenarnya dalam hati ana masih mengganjal beberapa hal, diantaranya dia pernah membocorkan rahasia ana pada orang lain yang tidak berkepentingan dan dia tidak minta maaf, juga meng-ghibah ana pada orang lain, pun ia tidak minta maaf. Ketika ana nasehati untuk taat pun banyak alasan.

    Jujur walaupun semanhaj ana mulai lelah berteman dengannya. Ana sempat berpikir, ya sudah jadi teman biasa saja, karena toh bukan kewajiban ana untuk mengingatkan dia. Ana tau ana kurang bersabar, tapi ana berpikir mudhorotnya lebih besar jika ana berteman dekat dibanding manfaatnya.

    Dengan alasan seperti itu, apakah benar lebih baik ana menjauhinya?

  29. @ Saudariku Maya,

    patokan yang hendaknya kita pakai dalam pergaulan adalah al hubbu fillah wal bughdhu fillah (cinta dan benci karena Allah). kita mencintai saudara kita karena ketaatannya dan membenci karena kemaksiatannya.

  30. Nope says:

    Bismillah..

    Umm, mohon infonya adakah hadits shohih yg menjelaskan hukum org yg tidak mau memaafkan kesalahan org lain? Atau setidaknya yg menjelaskan bgmn hrs bersikap setelah kita meminta maaf tp tidak direspon dng baik??

    Ana tunggu segera ya umm..

    Jazaakillah khoir

    • @Nope
      Berikut hadits yang menjelaskan tentang keutamaan memaafkan kesalahan;
      مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
      “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Bukhari)

  31. anita pujaningrum bagenda says:

    hmm makasih untuk uraiannya,..terus terang aku punya teman yang bikin aku kecewa krn dia tidak bs dipercaya dan tidak bertanggung jawab atas perkataannya. kini aku hanya diam saja meihat tingkahnya dan tidak mempercayai kata2nya lagi..Apakah aku berdosa bila melakukan ini?

    • @ ukhti anita

      rasa kecewa merupakan salah satu fitrah manusia. berkenaan dengan teman ukhti tersebut, bila ukhti atau orang lain bisa menasihati beliau, insyaalloh itu lebih baik. doakan pula beliau, mudah-mudahan Allah memberinya hidayah.

  32. sari says:

    Assalamu’alaikum wr,wb…

    Afwan, ana mohon izin copy paste, tuk ksh tau sahabat2 sy yg lain.
    syukron katsir.

    Wassalamu’alaikum wr,wb.

  33. juwita says:

    Alhamdulillah, hari ini bertambah ilmu kita, dn mohon izin ya utk d bagikan , semoga bermanfaat,

  34. wiwit purramaranti says:

    alhamdullilah…sukron atas infonya…mdh2an kita semua bs mengamalkannya sehingga tercipta kedamaian hati dan lingkungan sekitarnya…

  35. Kholid says:

    Gimana rasanya punya sahabat sejati seperti Rasulullah? Semua teman2 gw ******, suka iri dan menceemoh seenaknya.Gw ngerasa hidup di penjara…terkucil.Life is unfair !

  36. yenie says:

    Subhanallah umi artikel’y bagus skali,, memotivasi sya untuk jadi manusia yg lbih baik lg,,, umi sy mau tanya bgaimana agar qta bsa jadi muslimah seutuh’y tanpa harus meninggalkan gaya hidup yg modern sprti skrg ni ???

  37. tsurayya says:

    ijin copas ya… artikelnya bagus..
    Jazakillah

  38. sayful says:

    izin copas & share artikel-artikel yang ada di web ini ya…

    jazaakumullahu khayran…

  39. faathimatu says:

    ijin copy ya. barokallohu fiik.

  40. Mbak …artikelnya bagus..izin copy paste ya…jazakillah..

  41. felianna murdiati says:

    Mudah2an Allah memberikan kita teman-teman ,sahabat-sahabat yang tulus karena Allah, bukan karena Pangkat, Jabatan ,Kekayaan atau yang lainnya..mereka akan menemani kita dengan setia di saat suka maupun duka.

  42. terima kasih atas artikel ini..dan semoga bermanfaat bagi kita semua
    Semoga Allah senantiasa memberikan rahmad dan hidayah kepada kita untuk mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah

  43. felly says:

    SENYUM MEMBWA BERKAH

  44. aisyah ummu ibrohim says:

    bismillah
    percayalah,pada dasarnya,kita semua sesama muslimah itu adalah saling mencintai.
    namun,”celah” yang sangat kecil saja(entah itu dari lisan,pandangan mata dll),sudah cukup bagi syaithon untuk merusak ukhuwah.maka dari itu kita harus waspada!!!

  45. akmila says:

    bagaimana cara menjalin tali silaturahmi dengan sahabat muslim kita

    • www.muslimah.or.id says:

      @akmila Silaturahmi diambil dari kata-kata shilah dan rahim. Shilah berarti menyambung sedangkan rahim atau rahm adalah kekerabatan atau sebab-sebabnya (Mu’jam Wasith 1/335)

      adapun yang bukan kerabat seperti sahabat atau teman, maka menjalin hubungan dengannya bukan dinamakan menjalin silaturahim. wallahu a’lam.

Leave a Reply