Ibumu… Kemudian Ibumu… Kemudian Ibumu…

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي …

12 92

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15)

Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280)

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair,

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya

Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11;  Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dalam sebuah riwayat diterangkan:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu. Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya? Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui amalan yang paling mendekatkan diri kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat As Shohihah (2799))

Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah ibadah yang sangat agung, bahkan dengan berbakti kepada ibu diharapkan bisa membantu taubat seseorang diterima Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas, seseorang yang melakukan dosa sangat besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik bertanya apakah ia mempunyai seorang ibu, karena menurut beliau berbakti atau berbuat baik kepada ibu adalah amalan paling dicintai Allah sebagaimana sebagaimana membunuh adalah termasuk dosa yang dibenci Allah.

Berbuat baik kepada ibu adalah amal sholeh yang sangat bermanfa’at untuk menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya, berbakti kepada ibu merupakan jalan untuk masuk surga.

Jangan Mendurhakai Ibu

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عن المغيرة بن شعبة قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم : إن الله حرم عليكم عقوق الأمهات ووأد البنات ومنع وهات . وكره لكم قيل وقال وكثرة السؤال وإضاعة المال

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)

Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’ terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat Syarah Muslim XII : 11)

Buatlah Ibu Tertawa

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : جئْتُ أبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ، وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ، فَقَالَ : ((اِرْخِعْ عَلَيْهِمَا؛ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا))

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no. 2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi (IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))

Jangan Membuat Ibu Marah

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَاالْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَلَدِ.

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata, “Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua. (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua sekaligus terkandung larangan melakukan segala sesuatu yang dapat memancing kemurkaan mereka.

Seandainya ada seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam hadits yang shahih Nabi Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ.

“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak diragukan tentang do’a ini: (1) do’a kedua orang tua terhadap anaknya, (2) do’a musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))

Jika seorang ibu meridhai anaknya, dan do’anya mengiringi setiap langkah anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu terluka, lalu ia mengadu kepada Allah, mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si anak pasti akan terkena do’a ibunya. Wal iyyadzubillaah..

Saudariku…jangan sampai terucap dari lisan ibumu do’a melainkan kebaikan dan keridhaan untukmu. Karena Allah mendengarkan do’a seorang ibu dan mengabulkannya. Dan dekatkanlah diri kita pada sang ibu, berbaktilah, selagi masih ada waktu…

والله الموفّق إلى أقوم الطريق
وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وأصحابه ومن اتّبعهم بإحسان الى يوم الدين

***
Artikel muslimah.or.id
Penulis : Hilda Ummu Izzah
Muraja’ah : Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’ :

  • Qur’anul Karim dan Terjemahannya
  • Rekaman Ta’lim Ustadz Abuz Zubair Al-Hawary Hafizhahullaahu Ta’ala
  • www.buletin.muslim.or.id
  • www.almanhaj.or.id
  • Asy-Syaikh DR. Muhammad Luqman Salafi, Rasysyul Barad Syarh Al-Adabil Mufrad, Daarud Daa-‘iy Linnasyr wat Tauzii’, Riyadh.
  • Imam Adz-Dzahabi, Al-Kabaair, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian.
  • Abu Abdillah Muhammad Luqman Muhammad As-Salafi, Syarah Adabul Mufrad Jilid 1, Griya Ilmu, Jakarta.
  • Imam Adz-Dzahabi, Al-Kaba’ir – Dosa-dosa yang Membinasakan, Darus Sunnah, Jakarta.
  • Abu Zubeir Hawary, Wahai Ibu Maafkan Anakmu, Darul Falah, Jakarta.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Birrul Walidain, At-Taqwa, Bogor.
  • Abu Umar Basyir, Sutra Kasih Ibunda – Kepadamu Berbakti Tiada Henti, Rumah Dzikir, Sukoharjo, Solo.

***

Diperbarui oleh redaksi www.muslimah.or.id pada 28 April 2011.

Sebarkan!
3243 24 0 0 0 88
In this article

Ada pertanyaan?

92 comments

  1.    Reply

    ibuu ayahh..mfn aku ea..mgkin aku ank durhaka…gk za bkin ibu bpak bhagia..mfn ak ea…

  2.    Reply

    Hari ini hari ibu, beruntunglah kalian yang masih memiliki ibu, yang masih sempat mengucapkan kata selamat kepada ibu..

  3.    Reply

    suatu renungan yg sangat berguna sekali

  4.    Reply

    Alhamdulillah,sangat bermanfaat dan harus diamalkan dalam kehidupan kita sehari hari.

  5.    Reply

    assalamu’alaikum,…
    saya mau tanya,..
    andai kita itu orang yang tidak mampu, sedangkan mertua saya adalah orang yang mampu
    lalu mertua saya membiayai saya untuk ibadah haji.
    apakah kewajiban saya,..???
    dan apakah sah atau tidak ibadah haji saya,..??
    lalu apa dalilnya,..????

    1.    Reply

      @ Riri
      ??????????? ?????????? ?????????? ????? ?????????????
      Kewajiban Ukhti tidak lain dan tidak bukan adalah bersyukur kpd Allah Ta’ala yang memberikan ni’mat tsb. Kemudian berterimakasih kpd mertua dg ucapan dan perbuatan spertihalnya meningkatkan bakti kpdnya. Karena salah satu bentuk bakti sang istri kpd suami adalah dg berbakti kpd mertua. Haji ukhti sah asalkan memenuhi syarat dan rukun haji. Karena itu termasuk hadiah smntara hadiah itu halal boleh diterima.

  6.    Reply

    ass wr wbr terima kasih saya sudah banyak copy paste dari situs ini semoga Allah SWT mengampuni,melindungi kaum musilimin dan muslimah.wassalam

  7.    Reply

    (1) doa kedua orang tua terhadap anaknya, (2) doa musafir-orang yang sedang dalam perjalanan-, (3) doa orang yang dizhalimin.
    no:2&3 belum dijelaskan! mohon dijelaskan! barakallah

  8.    Reply

    Bismillaah..

    @Ukhti Lonita
    Tidak sama antara orang tua dan mertua. Kalau dia seorang perempuan maka kewajibannya kepada ibu mertua dibawah ketaatannya pada suami. Adapun kalau dia
    seorang laki-laki, ketaatannya kepadanya dibawah ketaatannya kepada ortunya sendiri.

    @Ukhti Isti
    Para ulama diantaranya imam Nawawi, mempersyaratkan taubat seseorang yang berbuat salah kepada orang lain,
    a. ikhlas karena Allah
    b. menyesali dosa yang telah dia lakukan
    c. bertekad tidak akan mengulangi lagi
    d. meminta maaf atau minta halal kepada orang yang disalahi tersebut, dalam hal ini mintalah maaf pada Ibu, insyaa Allaah termaafkan dosanya.

    @Ukhti Sari
    Berbakti kepada orang tua adalah amal yang sangat mulia, tapi tidak boleh dilakukan kalau pada saat yang sama dia bermaksiat kepada Allah. Saya sarankan jangan langsung hijrah dalam keadaan orang tua marah, apalagi belum saudari jelaskan alasan tersebut dengan jelas. Bersabarlah diiringi ikhtiar menjelaskan kepada beliau dengan penuh adab sambil berdoa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’alaa. Mudah-mudahan Allah bukakan pintu hati beliau. Kecuali kalau mereka yang menyuruh anti untuk pergi dari rumah,
    maka apa boleh buat. Allaahu a’lam..

    @Ukhti Tresiani
    Ingatlah kenikmatan Allah yang sangat besar kepada mertua ukhti, berupa anak yang beliau kandung kemudian disusui, diurus dan dipelihara dengan penuh kasih sayang, dipenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, dibiayai sekolahnya dll. Kemudian ketika sudah bisa mandiri, bisa cari uang, tiba-tiba ukhtilah yang memetik hasilnya, yaitu dijadikan pasangan ukhti. Mereka sangat besar jasanya kepada pasangan ukhti tsb. Maka sebagai bentuk kecintaan ukhti pada pasangan ukhti, berterima kasihlah pada mertua ukhti.

    @Ukhti Dewi
    Yang harus seperti itu adalah lelaki (suami), sebagaimana kata Rasulullaah kepada sahabatnya,
    ???? ????? ????? [kamu dan hartamu milik bapakmu]. Adapun seorang perempuan (istri), maka ketaatan pertama setelah taat pada Allah adalah kepada suaminya, sebagaimana kata Rosululloh :
    ?? ???? ???? ?? ???? ??? ???? ?????? ?????? ?? ???? ?????? ” [jika saja aku diperbolehkan untuk memerintah seseorang agar sujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan seorang istri agar sujud kepada suaminya]. Allaahu a’lam..

  9.    Reply

    Aku mencintaimu Karena ALLAH Ibu :)

  10.    Reply

    Assalamualaykum bagaimana menghadapi ibu mertua yg benci salafi
    dn bagaimana cara menerangkannya kepada ibu mertua jazakumullah hair

  11.    Reply

    Terima kasih artikel ini sangat berarti buat saya,saya jadi kangen sama ibu..ibuuuuuuuuu
    Izin share ya thanks

  12.    Reply

    1. Ibu
    2. Ibu
    3. Ibu
    4. Ayah
    Diposisi manakah seorang suami untuk istrinya yang juga berperan sebagai anak?

  13.    Reply

    Subhanallah…Ijin share yah..

  14.    Reply

    jazakumulloh, izin copy n share yaaa..

  15.    Reply

    hmmm…
    kalo ama ibu sendiri insyaAllah selalu berusaha memberikan yang terbaik..
    pi terhadap ibu mertua kenpa susah ya.. menghilangkan benci ini jadi bakti..

  16.    Reply

    Assalamualaikum…..begetar hati seorang Ibu yg sudah berusia senja spt saya,mudah2an bergetar juga hati anak2ku setelah membaca artikel indah ini dan bertambahlah kasih sayang mereka …..Amin Ijin share dan copas,Jazakumullah khaira

  17.    Reply

    assalamualaikum …izin share ya….syukron

  18.    Reply

    Assalamu’alaykum..

    Jika seorang ibu melarang anaknya untuk hijrah, bagaimana hukumnya ustadzah?
    karena ada teman saya yang mendapat hidayah untuk menutup aurat dengan sempurna (gamis dan kerudung lebar) tapi mendapat pertentangan amat keras dari kedua orang tuanya.
    mohon penjelasan Ustadzah terkait masalah ini.

    Jazakillah khoir :)

    wassalamu’alaykum…

  19.    Reply

    Alhamdulillah, note yg bagus dan memberi pencerahan bagi kita semua agar selalu menjaga hubungan baik terhadap org tua kita dan semoga kita termasuk org2 yg selalu patuh dan menghormatinya sesuai dgn tuntunan Islam.

  20.    Reply

    assalamu’alaikum…

    dulu, saya berani membantah ibuku…. skarang saya jauh darinya karena pekerjaan….. saya berusaha berbuat baik kepada ibu saat ini… apakah alloh akan mengampuni dosa2 saya…?
    karena saya merasa perbuatan saya kepada ibu dulu menyakiti ibu saya…

    terima kasih…

    wassalmu’alaikum…

  21.    Reply

    subhanallah…izin share y,,

  22.    Reply

    Assalaamu’alaikum

    Saya ada satu pertanyaan, bagaimana dengan kewajiban kita terhadap ibu mertua? apakah sama dengan kewajiban kita terhadap ibu kandung?
    terima kasih sebelumnya.

    wasslaamu’akaikum

  23.    Reply

    assalamu’alaikum.
    mw mnta izin bwt di-copy.

  24.    Reply

    Artikel yang bagus sekali
    Ibu memang segala-galanya dan harus kita hormati

  25.    Reply

    artikel yang sangat bagus, subhanallah.. izin share dan copas di blog ana, jazakumullah khoir.

  26.    Reply

    assalamualaikum,.subhanallah,.sangat bermanfaat,.izin share ya

  27.    Reply

    Semoga kita sebagai orangtua, khususnya para ibunda, bisa seperti al-Khansa: menjadi ummu syuhada (ibunda para syuhada). Amin…

  28.    Reply

    @ Ukhti Tika : Wa’alaykumussalaam warahmatullaah..
    Bagaimanapun juga, beliau tetaplah seorang ibu. Dan dia (sang anak) tetap wajib berbuat baik dan berbakti kepada ibunya. Karena Ibu lah yang telah mengandungnya dengan susah payah, dan Ibu pulalah yang telah melahirkannya dengan meregang nyawa. Dan mendo’akan Ibu adalah salah satu bentuk bakti kita kepada ibu. Wallaahu Ta’ala A’lam …

  29.    Reply

    assalamuallaikum ukhti,,
    bagaimana bila seorang ibu telah meninggalkan anaknya dari dia lahir sampe skrg tdk pernah bertemu? serta mencari anaknya?
    mksh,,

  30.    Reply

    Ibuuuuuuuuu, aku merindukanmu ingin kubahagiakan dirimu
    semampuku. Maafkan semua kesalahanku selama ini.

  31.    Reply

    Ralat:

    @ Admin Muslimah dan al-Ummu Izzah :
    Afwan, ana keliru menuliskan riwayat dari kitab Sunan Imam at-Tirmidzi no. 1899, sebelumnya ana menulis:

    ?????? ?????? ???? ???? ?????? ???????? ??? ???? ????? ??? ?????????? ??? ???? ???? ???? ?????: ????? ????? ??? ???????????????????? ???????? ????? ??? ?????? ??????????????

    Riwayat ini tercantum dalam kitab Subulus Salam no. 1360.

    Yang benar tercantum dalam kitab Sunan adalah:

    ???? ?????? ????? ???? ????? ????? : ????? ???????? ??? ???????????????? ???????? ???????? ??? ?????? ?????????

    Imam at-Tirmidzi membawakan dua riwayat baik yang mauquf dan yang marfu’ dalam kitab Sunannya no. 1899, dan kedua-duanya berasal dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma.

    Riwayat ini juga tercantum dalam kitab al-Adabul Mufrad no.2, Mustadrak al-Hakim (IV/151-152), Ibnu Hibban no. 2026, Abu Syaikh dalam al-Fawa’id (II/81), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh ad-Dimasyqi (IV/76/1). Dan Syaikh al-Albani juga mencantumkannya dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 516 dan Shahih al-Adabul Mufrad no. 2.

    ??? ?? ???? ????

    1.    Reply

      @ Ummu Sufyan Rahma

      Ukhti Rahma, sesungguhnya kami mencintai Ukhti karena Allah. Jazakillahu khayran atas kepedulian Ukhti dalam meneliti lafal dan sanad hadis pada artikel di atas.

      Alhamdulillah, setelah kami telusuri kitab-kitab yang Ukhti sebutkan, kami mendapati bahwa memang untuk riwayat dalam Al-Adabul Mufrad, sanadnya adalah dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar, bukan ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash. Dalam hal ini, memang sanad pada Al-Adabul Mufrad ini berbeda dibandingkan sanad pada kitab-kitab yang lain, seperti Sunan At-Tirmidzi, Mustadrak Al-Hakim, dan Subulus Salam.

      Temuan kami ini dikuatkan oleh catatan kaki yang diberikan oleh Syekh Al-Albani dalam karya beliau (pada kata pengantar tertera tanggal 25 Syawal 1413 H), “Shahih Al-Adabul Mufrad“, terbitan Maktabah Ad-Dalil, KSA.

      Lafal hadisnya:
      ?? ??? ???? ?? ??? ??? : ??? ???? ?? ??? ?????? ???? ???? ?? ??? ??????
      ??? ?????? ??? ??????

      Berikut ini catatan kaki yang diberikan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad, untuk hadis no. 2:

      ??? ?????? ???? ??????? ?????: ((??? ????)). ???? ((???????))

      Demikian ini adalah (lafal) asalnya (yang tertera pada kitab Al-Adabul Mufrad). Adapun menurut (riwayat) At-Tirmidzi dan selain beliau, (riwayatnya adalah dari): Ibnu ‘Amr. Silakan lihat Ash-Shahihah.

      Dari catatan kaki Syekh Al-Albani tsb, bisa kita pahami bahwa:
      1. Dalam Al-Adabul Mufrad dan Shahih Al-Adabul Mufrad yang tertera memang riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar. Adapun pada kitab yang lain, riwayat yang ada adalah dari ‘Abdullah bin ‘Amr.
      2. Untuk keterangan lain oleh Syekh Al-Albani menyangkut riwayat hadis ini, bisa dilihat juga pada komentar beliau untuk hadis ini dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah.

      Wallahu a’lam bish-shawab.

  32.    Reply

    @ Admin Muslimah dan al-Ummu Izzah :
    ‘Afwan, coba dicek lagi kepada mashdar ashliyah. Ana sudah mengecek kepada kitab Sunan Imam at-Tirmidzi no. 1899, dan matannya sebagai berikut:

    ?????? ?????? ???? ???? ?????? ???????? ??? ???? ????? ??? ?????????? ??? ???? ???? ???? ?????: ????? ????? ??? ???????????????????? ???????? ????? ??? ?????? ??????????????

    Riwayat ini juga dapat dijumpai dalam kitab Subulus Salam no. 1360, dengan jalur periwayatan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu’anhuma. Demikian juga yang dinukil oleh al-Ustadz Yazid dalam risalahnya, Birrul Walidain hal. 43, sebagaimana yang dijadikan rujukan oleh al-Umm Izzah.

    Silakan dicek kembali.
    ??? ?? ???? ????

  33.    Reply

    @ Ummu Sufyan Rahma : Wa Baarakallaahu fiiki wa fajazaakillaahu khayraa Yaa Ummaa Sufyan.

    Untuk pertanyaan yang terakhir anti tanyakan, ana sudah mengecek di kitab Rasysyul Barad Syarh Al-Adabil Mufrad, Daarud Daa-iy Linnasyr wat Tauzii, Riyadh halaman 14 (alhamdulillaah ana punya kitab tersebut) dan di maktabah syamilah juga. Dan setelah ana cek lagi, teks hadits-nya sebagai mana yang telah di jelaskan tim redaksi muslimah, bahwa lafal yg tertulis adalah ?? ??? bukan ?? ????. Jadi, insyaa Allaah benar adanya dari jalur ‘Abdullaah bin ‘Umar. Wallaahu ta’alaa a’lam.

    Jazaakillaahu khayraa wa zaadanaallaahu ‘ilman naafi’an ^^

  34.    Reply

    @ Ummu Izzah:
    ???? ???? ?? ? ? ???? ???? ?? ??????? ???? ?? ?? ???

    Satu lagi pertanyaan ana ya Um, riwayat berikut ini:

    ???? ?????? ????? ???? ?????? ????? : ????? ???????? ??? ???????????????? ???????? ???????? ??? ?????? ?????????.

    Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.

    Benarkah berasal dari jalur ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu’anhuma?
    Karena yang ana dapati itu, riwayatnya berasal dari jalur ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma. Mohon koreksinya jika ana keliru.

    Artikel anti ini sangat bermanfaat yaa Umma Izzah, jadi sudah pasti kalau tidak sedikit orang yang jatuh hati untuk membacanya berulang-ulang bahkan berniat untuk menyebarluaskannya.

    Semoga Allah membalas usaha anti dan orang-orang yang turut membantu dalam menyebarluaskannya dengan kebaikan yang berlipat ganda. Dan semoga usaha ini memberikan manfaat yang besar kepada seluruh kaum muslimin.

    1.    Reply

      @ Ummu Sufyan Rahma

      Ukhti, berhubung Al-Ukht Ummu Izzah sedang memiliki kesibukan yang lain, juga agar tidak terjadi kebimbangan dalam waktu yang lama, maka pertanyaan Ukhti Rahma dijawab oleh redaksi muslimah.or.id

      ***

      Tentang riwayat yang Ukhti tanyakan, berdasarkan teks hadis yg kami peroleh dari program Maktabah Asy-Syamilah, teks selengkapnya adalah sbg berikut:

      ????? ??? ??? ????? ???? ??? ????? ???? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ???? ?? ??? ??? : ??? ???? ?? ??? ?????? ???? ???? ?? ??? ??????
      ??? ????? ???????? : ??? ?????? ??? ?????? ??? ????? ???????? : ??? ?????? ??? ??????

      Hadis tersebut terdapat pada kitab Al-Adabul Mufrad, bab “Qouluhu Ta’ala Wawashshoynal Insana bi Walidaihi Husnan“, no. hadis: 2.

      Jika diperhatikan pada teks yg kami pertebal, tertulis: ?? ???. Sebagaimana yang lazim dalam bahasa Arab, untuk membedakan antara lafal “‘Umar” dan “‘Amr” maka untuk kata “‘Amr” akan ada tambahan huruf waw (?) di belakang huruf ro’ (?).

      Sedangkan pada teks hadis di atas, lafal yg tertulis adalah ?? ??? bukan ?? ????.

      Meski demikian, kami belum menelaah apakah selain jalur riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Umar juga ada jalur riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Amr untuk hadis ini. Wallahu a’lam.

  35.    Reply

    @ Ukhti Rahma : Jazaakillaahu khayraa dah mengoreksi artikel ana.. Setelah ana telaah lagi, memang ada kekeliruan dari nomor hadits dan terjemahan hadits diatas. Sekali lagi jazaakillaahu khayraa dah mengingatkan dan mengoreksi. Berikut tanggapan ana, sekalian untuk mengoreksi nomor hadits dan terjemahan di atas.

    1. Riwayat Pertama

    ?????? ????? ??????????? ????????????? ???? ?????????? ?????????? ???? ????????

    Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
    Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

    Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya? Ibnu Umar menjawab, Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan. (Adabul Mufrad no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam)

    Harusnya, riwayat di atas adalah dalam Adabul Mufrad no. 11, dengan derajat “sahih”. Berikut teks haditsnya pada ??? ???? ????????

    ????? ??? ??? ????? ???? ??? ????? ???? ?? ??? ???? ??? ???? ??? ???? : ??? ??? ?? ??? ???? ?????? ???? ?????? ??? ??? ???? ???? ???? ??? ??? ?????? ?????? ?? ????? ?????? ?? ???? ?? ??? ?? ?? ??? ?????? ?????? ??? ?? ??? ????? ????? ?? ??? ?? ??? ???? ?????? ???? ?????? ?? ??? ?? ?? ??? ???? ?? ?? ?????? ?????? ?? ???????
    ??? ????? ???????? : ????

    2. Terjemahan ukhti Rahma yang benar dan lebih lengkap.

    Berikut ini teks lengkap hadis tersebut:

    ?? ??????? ?? ???? ??? : ??? ????? ??? ???? ???? ? ??? : ?? ???? ??? ????? ???? ??????? ???? ?????? ???? ???? . ???? ??? ??? ???? ????? ?????? ?????? ?????

    “Sesungguhnya Allah Taala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (Hadits shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

    **

    Demikian tanggapan ana, smoga bisa menjadi koreksi untuk artikel ana. Dan semoga Allah mengampuni kekhilafan ana. Yang benar tidak lain dan tidak bukan, datangnya hanya dari Allah. Dan kesalahan yang ada, tidak lain dan tidak bukan datangnya dari syaithan la’natullaah.. (A’uudzubillaahi minasy syaithaanir rajiim)..

    Wallaahul musta’an..

  36.    Reply

    Bahagialah kita yang ditakdirkan Alloh menjadi seorang ibu….

  37.    Reply

    bagaimana cara berbakti seorang anak yang jauh dari ibunya karena mengikuti suami? syukron

  38.    Reply

    Subhanaloh, btapa nakalnya hamba kpda ibu hamba ya alloh. Ampunilah hamba..

  39.    Reply

    Sungguh artikel yang menggugah setiap jiwa.
    Tidak ada seorang anak pun yang dapat membalas jasa kedua orang tuanya, terutama ibunya.

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

    ?????????? ?????? ???????? ?????? ???? ???????? ???????????? ?????????????? ????????????

    Artinya: “Tidaklah seorang anak dapat membalas budi kepada orang tuanya, kecuali apabila dia mendapati (orang tua)nya sebagai budak, kemudian dia membelinya lalu memerdekakannya.”
    [Hadits shahih, riwayat Muslim no. 1510, dari jalur Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

    ????? ???? ?? ?????? ????
    ? ???? ???? ?? ??

    @ Admin muslimah:
    ‘Afwan, ana titip pertanyaan untuk penulis, al-ukh Hilda Ummu ‘Izzah, terkait dengan beberapa riwayat yang tercantum dalam artikel.

    1. Riwayat pertama:

    Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Kabah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

    ?????? ????? ??????????? ????????????? ???? ?????????? ?????????? ???? ????????

    Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.
    Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

    Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya? Ibnu Umar menjawab, Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan. (Adabul Mufrad no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam)

    Dengan riwayat berikut:

    ???? ?????? ????? ???? ?????? ????? : ????? ???????? ??? ???????????????? ???????? ???????? ??? ?????? ?????????.

    Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua. (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan jika sampai pada sahabat, namun shahih jika sampai pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam)

    Sepertinya ada yang harus diperbaiki dari kedua riwayat diatas.

    2. Riwayat kedua:
    Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu alaihi wasallam bersabda,

    Sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka terhadap ibu dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari VI: 331, Muslim III: 1341, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya XII: 36)

    Dapatkah dicantumkan matan aslinya?
    Karena ana mendapati sebuah riwayat dengan redaksi sebagai berikut,

    ?? ???? ?????? ?????? ????????????? ???? ???????? ??? ???? ??? ???? ?????????? ??? ???? ???? ???? ???: ????? ????? ???????? ??????? ?????????? ???????? ?????????????? ?????????????????? ????????? ???????? ???????? ?????? ?????? ???????? ?????????? ??????????? ??????????? ????????

    Artinya: “Dari Abu ‘Isa al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas kalian untuk berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Dan Allah membenci atas kalian qiila wa qoola, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.'”
    [Hadits shahih, riwayat Bukhari (no. 3408) dan Muslim (593)]

    Inti permasalahannya adalah pada kalimat “…dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang…”
    Karena lafazh ????????? ??????? berarti seseorang menahan dirinya dari hal-hal yang seharusnya menjadi kewajibannya akan tetapi disisi lain dia menuntut sesuatu diluar apa yang menjadi haknya.

    Wallahu a’lam

    ????? ???? ????

    1.    Reply

      @ Ummu Sufyan Rahma (komentar tgl 25 April 2011)

      Jazakillahu khayran atas koreksi dari Ukhti Rahma. Dengan ini, kekeliruan pada artikel tersebut telah kami perbaiki.

  40.    Reply

    terima kasih

  41.    Reply

    Oh Ibu…maafkan anakmu ini yg blum berbakti.Ya Allah… bukalah pintu hatiku ini,yg sampai saat ini aku blum dpt brbakti pd kedua ortuku 100 persen.Amin.

  42.    Reply

    Jazakillahu khayran untuk artikel ini. Saya jadi kangen Mama. Mudah2an bisa segera ketemu.

    Patuh kepada ibu, selama bukan dalam kemaksiatan kepada Allah.

    – Kirim sms ke ibu, setiap hari. Sekadar menanyakan kabarnya sudah bisa membuat ibu bahagia.
    – Ceritakan keseharian kepada ibu. Dengan begitu, beliau akan merasa dihargai.
    – Perbanyaklah amal saleh. Mudah2an bisa menjadi amal yang tidak terputus bagi beliau meski beliau telah berada di alam kubur.

    Ibumu … kemudian ibumu … kemudian ibumu ….

    Uhibbuha fillah…

  43.    Reply

    Hampir berlinang air mataku membaca artikel ini.. Subhanallah, sangat menggetarkan jiwa.. Izin menyalin ke blog,,,

  44.    Reply

    alhamdulillah, sangat bermanfaat..

  45.    Reply

    assalamualaikum…
    Ijin share ya.

  46.    Reply

    Semoga artikel ini menkadi ilmu yang bermanfaat. Barakallahu fikum