Engkau Lebih Cantik Bercadar [Mengangkat Kekhawatiran dan Belum Siapnya Wanita Untuk  Memakai Cadar] – Bagian 1 -

Alhamdulillah, belakangan ini cadar dan purdah mulai tidak asing lagi di beberapa tempat di negeri kita. Sekarang sudah menjadi pemandangan biasa wanita keluar lengkap dengan seperangkat pakaian yang serba besar dan menutup aurat secara sempurna. Para wanita penggenggam bara api kini tidak perlu resah lagi ketika keluar rumah, karena kita lihat wanita bercadar di tempat-tempat umum seperti pasar, kampus, kantor dan pusat kegiatan lainnya. Mereka tidak lagi merasa sendiri dan terasing dengan pakaian kemuliaan mereka.

Alhamdulillah juga, fase-fase sulit telah lewat. Dimana cadar dan purdah identik dengan terorisme dan bom. Sehingga image yang berkembang di masyarakat bahwa cadar adalah pakaian istri teroris. Menyulitkan wanita-wanita yang menyelamatkan pandangan para lelaki dari panah iblis. Diskriminasi, razia, periksa KTP sampai penggerebekan di rumah dialami oleh mereka. Ini karena perbuatan orang-orang yang hanya punya semangat dalam beragama tetapi tidak berlandaskan ilmu. Bom dan jihad seperti yang mereka agung-agungkan bukan ajaran Islam. Sumber ajaran mereka adalah paham takfiriy, yaitu mudah mengkafirkan orang lain sehingga jika sudah kafir maka halal darah dan hartanya. Berkat perjuangan para da’i dan aktifis dakwah akhirnya image tersebut hilang.

Bahkan cadar telah menjadi tren. Kami rasa dampak dari sebuah film yang sangat booming yaitu film “Ayat-Ayat Cinta” dimana diceritakan ada tokoh wanita bidadari dunia yang hampir sempurna. Ia menggunakan cadar. Maka kebiasaan masyarakat kita yang latah ramai-ramai mengikutinya. Film dan sinetron yang lainnya ikut meramaikan dengan tokoh utamanya adalah wanita cantik yang bercadar. Para wanita mulai bergaya dengan selendang tipis menutup muka walaupun sekedar bergaya. Akun jejaring sosial ramai dengan gambar wanita bercadar atau sekedar kartunnya.

Mengenai hal ini, sangat patut disyukuri. Walaupun film tersebut ada yang bilang untuk berdakwah juga. Tetapi cara berdakwah seperti ini kurang tepat. Karena di sana ada campur baur laki-laki dan wanita, membuka aurat, bermesraan dan menyentuh dengan bukan mahram dan lain-lain. Bagaimana kita berdakwah kepada Allah dengan cara yang tidak diperkenankan oleh Allah. Lho, tapi kan berhasil, buktinya cadar jadi populer di masyarakat. Kami tidak heran karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ اللهَ يُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ


“Terkadang/boleh jadi Allah menolong agama ini dengan orang yang fajir/pelaku maksiat.”
[HR. Bukhari 4/72 no.3062 dan Muslim 1/105 no.111]

Kita tidak perlu kaget dengan hadits ini, karena bahkan terkadang Allah menolong agama ini dengan orang kafir seperti Abu Thalib paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Batthal rahimahullah berkata menjelaskan hadits ini,

وقوله: (إن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر) يشتمل على المسلم والكافر، فيصح أن قوله: (لا نستعين بمشرك) خاص فى ذلك الوقت

“Sabda beliau, ‘Terkadang/boleh jadi Allah menolong agama ini dengan orang yang fajir alias pelaku maksiat’, mencakup orang muslim dan orang kafir, sabda beliau shohih yaitu ‘kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang musyrik”, maka hadits ini khusus pada waktu tersebut [tidak bertentangan, pent].” [Syarh Shahih Bukhari libni Batthal 5/222, Maktabah Ar-Rusyd, cet. Ke-2, 1432 H, Asy-Syamilah]

Ibnu Hajar Al-Asqolaniy rahimahullah menjelaskan hadits ini,

جزم بن المنير والذي يظهر أن المراد بالفاجر أعم من أن يكون كافرا أو فاسقا ولا يعارضه قوله صلى الله عليه وسلم إنا لا نستعين بمشرك

“Ibnul Munayir menegaskan bahwa pendapat terkuat yang dimaksud Al-fajir adalah lebih umum dari kafir atau fasik dan tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘kita tidak perlu meminta bantuan kepada orang musyrik.” [Fahtul Baariy 7/474, Darul Ma’rifah, Beirut, Asy-Syamilah]

Tulisan mengenai cadar ini kami bagi menjadi empat bagian:

I. Yang perlu diketahui tentang cadar
II. Yang dikhawatirkan wanita jika bercadar dan jawabannya
III. Motivasi untuk memakai cadar
IV. Yang perlu diperhatikan jika sudah bercadar

I.Yang perlu diketahui tentang cadar

Hukum Cadar

Ada perselisihan yang panjang diantara ulama, ringkasnya ada dua hukum cadar yaitu:
1. Wajib
Inilah pendapat As-Suyuthi dan Ibnu Hajar Al-Asqolaniy. Sedangkan ulama sekarang yang mewajibkan adalah Syaikh Muhammad As-Sinqithi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Syaikh Bakr Abu Zaid, Syaikh Mushthafa Al-Adawi.
2. Sunnah
Menurut madzhab Syafi’i, Imam Malik dan Abu Hanifah, hukum menutupi wajah itu sunnah. Ini juga pendapat ulama seperti Ibnu Hazm dan Ibnu Batthal. Adapun ulama sekarang adalah syaikh Al-Albani dan beliau membahas panjang lebar dalam kitab beliau Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah.

Kita tidak bermaksud mentarjih mana yang lebih kuat, akan tetapi pengalaman kami bertemu dengan para ustdaz di Indonesia ketika dauroh-dauroh sebagian besar berpendapat bahwa hukum cadar adalah sunnah. Dan kami pun lebih tenang terhadap pendapat yang sunnah.

Akan tetapi yang terpenting adalah jangan sampai berpecah belah dan saling menyalahkan hanya karena masalah ini. Karena ini adalah ikhtilaf mu’tabar [terangggap]. Masing-masing punya dalil yang kuat. Kita harus menghormati pendapat orang lain.

Cadar Bukan Tolak Ukur Keshalihahan Wanita

Sebagian beranggapan bahwa wanita yang sudah memakai cadar adalah pasti wanita yang sangat shalihah. Seperti wanita yang bercadar pasti pintar menjaga diri, ngajinya bagus dan pasti taat pada suami. Tetapi jangan dijadikan tolak ukur. Ini belum tentu karena tetap saja tolak ukurnya adalah akhlak dan takwa. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ


“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian.”
[QS. Al Hujurat: 13]

Bahkan ada yang beranggapan bahwa cadar adalah tolak ukur sudah ahlus sunnah atau belum, menjadi tolak ukur akhwat “ngaji” atau tidak. Ini adalah anggapan yang salah. Karena hukum asal seseorang adalah ia ahlus sunnah wal jama’ah kemudian dilihat bagaimana pemikiran dan manhaj/metodologi beragama yang ia tempuh, apakah sesuai dengan pemahaman salafus shalih atau tidak.

Sehingga kurang tepat jika ada wanita yang memandang kurang shalihah wanita yang belum bercadar, atau terkadang meremehkannya kemudian berkomentar,

“Sudah lama ngaji kok belum pakai cadar, apa dia ga tahu keutamaan bercadar.”

Padahal bisa jadi, ia beranggapan sunnah kemudian ada penghalang. Dan bisa jadi ia punya amalan lain yang lebih banyak dan lebih ikhlas. Begitu juga dengan curhat seorang ikhwan kepada kami tentang perkataan orang-orang,

“Istri antum belum ngaji ya, kok nggak pakai cadar?”

Jelas ini adalah anggapan keliru dan perlu kita luruskan bersama.

Jangan Kaku dan Memaksa Memakai Cadar

Ini bagi mereka yang berkeyakinan bahwa cadar adalah sunnah. Jika belum mampu memakai cadar maka jangan memaksakan diri. Misalnya larangan keras dari orang tua dan keluarga. Masyarakat di sekitar belum menerima cadar. Cadar adalah suatu hal yang sangat asing dan masih dianggap pakaian istri teroris. Walaupun ia sudah menjelaskan dengan cara yang lembut dan baik lagi bijaksana. Akhirnya ia dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat kemudian putus silturahmi. Maka dalam kondisi seperti ini jangan memakai cadar. Walaupun niatnya melakukan sunnah karena berlaku kaidah

درع المفاسد مقدم على جلب المصالح


“Menolak mafsadat didahulukan daripada mendatangkan mashlahat”

Jika ia memakai cadar maka mendatangkan mashlahat yaitu melaksanakan sunnah, jika ia tidak pakai cadar maka menolak mafsadat yaitu tidak ridhanya orang tua, dikucilkan dan putusnya silaturahmi. Maka dengan kaidah ini ia wajib menolak mafsadat dengan tidak memakai cadar. Selain itu hukum wajib ridha orang tua didahulukan dari hukum sunnah memakai cadar.

Akan tetapi kasus seperti ini sangat jarang sekali kita temui, yang ada adalah keluarga yang tadinya keras dan sangat anti cadar akhirnya luluh dengan dakwah lembut dan bijaksana dari akhwat tersebut. Sejak memakai cadar ia semakin berbakti kepada orang tua, semakin rajin, semakin ramah terhadap orang lain, IPK meningkat dan semakin menunjukkan perubahan ke arah positif. Beberapa banyak tempat yang dulunya anti cadar sekarang cadar adalah menjadi hal yang biasa. Oleh karena itu harus tetap bersemangat mendakwahkah sunnah yang satu ini.

 

Bersambung insyaAllah…

Penyusun:  Raehanul Bahraen
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits

***

Artikel muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

16 Comments

  1. Imro'atus Sholihah says:

    AlHamdulilLaah…, AlLaah telah meneguhkanku untuk memakai cadar, semoga AlLaah memberikan keistiqomahan hingga akhir hayatku, aamiin…alLaahumma aamiin…

  2. ummu nadhif says:

    Assalamu’alaikum warohmatulloh…
    Jazakallahu khayr dr.Raehan… Artikel antum mjd pncerahan & motivasi utk ana yg sdg berupaya utk berniqob… Semoga Allah memudahkn

  3. ummu khoulah says:

    menurut saya ridho ortu dan cadar walaupun bagi yg menganut hukumnya sunnah,bisa jalan bareng.tidak ada hak bagi ortu untuk melarang anaknya berpakaian secara sempurna karena ini ibadah,yg ngatur ibadah adalah yang punya syariat yaitu Allah. Bila sampai ada akhwat pakai cadar lalu ortu tidak setuju dan berujung pada retak hubungan dg ortu,sebenarnya anaklah yg harus mengalah.bukan mengalah dg melepas cadarnya tetapi ada banyak cara yg bisa dilakukan supaya memperoleh ridho ortu,seperti memasakkan makann untuk mrk,memperhatikan keadaan mereka, membawakan kesukaan mereka,memijit tangan dan kaki mereka saat mereka lelah,bercengkrama sore hari dengan suasana yg anak giring supaya ceria, bila ortu belum ridho juga karena anak pakai cadar, suatu hari nanti pasti ortu ridho padanya karena janji Allah tidak pernah luput,bahwa Allah akan menolong orang yg menolong agama Allah. bagi akhwat yg pakai cadar lalu ditentang ortu, penentangan ortu ini mafsadahnya lebih kecil dibandingkan bila akhwat tsb membuka cadarnya. jiwa wanita yg suci akan tersayat sayat bila wajah cantiknya menjadi santapan semua mata di jalan jalan. belum lagi gangguan pemuda pemuda iseng yg berupaya membuka jalan perkenalan dgnya karena melihat wajahnya yg indah.beberapa bahkan bertarung untuk mendapatkan perhatian si akhwat yg terbuka wajahnya.pikiran si akhwat akan kacau balau karena fitnah wajah yg terbuka,dan kenyataannya,mereka yg mengalah pada ortu dg cara melepas cadarnya akan menghadapi hidup yg kacau penuh fitnah. ibadah sholat,tilawah quran dll juga terganggu.berbeda bila si akhwat tetap mempertahankan cadarnya, gangguan pemuda iseng akan mundur teratur,fitnah syahwat yg mengintai banyak teredam,paling paling orang beraninya menatap tajam penuh tanya,kok mukanya ga kelihatan,atau orang curiga tapi main belakang saja, asalkan si akhwat tetap berlaku wajar dan menyapa/bersalam pada tetangga yg dilewatinya,semua cibiran tidak masalah.ortu itu cuma butuh bukti adakah si akhwat bercadar bisa eksis di masyarakat. dan itu semua butuh waktu,mungkin setahun kemudian ortu mulai menyadari kekeliruannya.mungkin dua puluh tahun lagi,atau mungkin setelah ortu menganak tirikan si akhwat dan menyia nyiakannya,hingga si akhwat menemui ajalnya,baru kemudian ortu menyadari kekeliruannya.dan amalan si akhwat tetaplah menjadi amal sholih yg tiada pernah disia siakan oleh Allah yg punya janji akan melipat gandakn pahala orng yg memperbaiki di tengah kerusakan manusia.asalkan si akhwat tsb ikhlash lillahi ta’ala.jadi mempertahankan cadar ditengah penentangan ortu bukanlah sikap kaku yg tercela.justru di situ lah dia tengah diuji keimananya.marilah kita analogikan dg sholat sunnah, bila akhwat tengah sholat sunnah lalu ibunya tiba tiba melarang dengan alasan takut omongan orang,apakah akhwat itu harus mengalah dengan dalih mendahulukan bakti yg wajib pada ortu..? jawabnya,semua orng tentu sepakat bahwa tidak ada hak bagi ortu untuk melarang anaknya beribadah pada Allah selama anak itu tdk mengurangi hak ortu.inilah permasalahan yg perlu didudukkan.masing masing ada tempatnya.demikian pula dlm permasalahan ortu yg menentang anaknya bercadar.mudah mudahan Allah senantiasa memberikan kita kesabaran di atas agama Allah …amien…

  4. aisyah says:

    bismillah, ijin copas ya? syukron wa jazakumullohu khoiron.

  5. Ummu Dzakiyyah says:

    melihat mudharat yg lbh bnyk di luar rmh trutama di kmpus akhirx ana memilih bercadar meski org tua krg stuju. tp alhamdulillaah ibu sdh bisa mnerima nmun saat ini abah spertinya blm tau krn sblmx bliau mlarag tp ana mmberanikn diri utk mmakai. ana mmakaix pas diluar rmh aja jd bliau gak pernah liat.. n ktika kita mnghukumi cadar adlh sunnah apkh tdk mngapa dipke di tmpat2 trtntu sj, misalkn dirmh dpn spupu/ kluarga dekat kita tdk mmakainya?? atau ktika ngajar nnti qt tdk mmakainya di sekolah.. mhn pnjelasannya. jazaakumullaahu khoyron.

  6. ummu zaidan says:

    Subhanallah….ana ijin copas ya…

  7. ummu mush'ab says:

    bismillah.. semoga Allah mengistiqomhkan ana dalam bercadar.. jazakallah atas artikelny,, ana izin copas ya untuk memantapkan hati saudari2 ana yg masih bimbang untuk menggunakan cadar…

  8. Baju muslim says:

    Setuju sih klau untuk ibu rmh tangga…tapi bagaimna dengan wanita karir? bahkan ada bbrp bidang di perusahaan yg tidak mengijinkan karyawannya menggunakan jilbab..apalagi cadar..hehehe

  9. Rahmat Basuki says:

    Bermanfaat,jangan cuma dibeli ya dibaca trus diamalkan

  10. Mu'linatus sangadah says:

    Trmksh untuk artikelnya…
    Saya ada keinginan bercadar, tp sepertinya msh blum bsa direalisasikan dg cepat..harus pelan2..
    mula2 saya memakai pp fb make cadar,kemudian fto2 yg tnpa krdung n tanpa cadar akan saya hapus…
    saya msh menunggu respon dr teman2 fb …

  11. ummu abdurrahman says:

    assalamu’alaykum..
    mo tanya admin..postingan lanjutannya sudah ada belum?
    syukron..

  12. Riki abu junnah says:

    afwan, saya minta dalil qat’i mengenai cadar bagi muslimah. baik itu yg mewajibkan atau yg menyunahkan. soalnya dari artikel2 dan buku2 yg saya pernah baca, dalil yg digunakan hanyalah pendapat para ulama mu’tabar saja tanpa disertai dengan dalil hadistnya. terima kasih atas jawabannya.

Leave a Reply