Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad
Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?
Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.
Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
Ibu Sebagai Seorang Pendidik
Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.
Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)
Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)
Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.
Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)
Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih
Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”
Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?
Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.
Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!
Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.
Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?
Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?
Wallahu a’lam
Maroji’:
***
Artikel www.muslimah.or.id
© 2006 - 2009 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
Saya sangat ingin menjadi IRT, dan itu adalah cita2 saya yang terakhir setelah tamat kuliah dan bekerja. Namun, orangtua saya yang sudah sepuh menginginkan saya tetap bekerja, karena mereka beranggapan, itu adalah suatu kebanggaan bagi setiap ortu yang sudah menguliahkan anaknya, bisa tetap bekerja meskipun sudah berumah tangga. Klo suami saya sendiri, cenderung mnginginkan saya di rumah aja, hanya saja beliau menyerahkan semuanya ke saya, apa yang sebaiknya saya putuskan, karena membahagiakan orangrua juga termasuk ibadah. So, what should I do?
saya jadi ikut bingung nih. saya pernah baca pernyataan seorang ustadz, beliau bilang kalau semua orang hanya memikirkan anaknya sendiri, siapa yang mau memikirkan anak yatim dan fakir miskin?
menurut beliau, kalau suami dan istri bekerja, maka ada dua wajib zakat di rumah itu (zakat pendapatan). itu berarti dapat menyumbang bagi kemaslahatan umat yang lebih besar. katanya…
tapi dipikir2 ada benernya juga sih. kalau saja ibu dokter sofie (dokter kandungan terkenal di bandung hehehe) hanya peduli sama anaknya sendiri tapi tidak sama calon bayi orang lain. kan sayang sekali ilmunya.
menurut saya, para ibu rumah tangga yang sudah bekerja di bidang-bidang yang berpahala besar, sebaiknya teruskan saja beramal di jalan ALLAH.
bidang-bidang yang pahalanya besar itu misalkan kedokteran: dokter kandungan (pasti semuanya pengen diperiksa sama dokter perempuan), bidan, internist (ahli penyakit dalam), dokter ahli penyakit kulit dan kelamin (hiii amit-amit dah diperiksa sama dokter laki2), dokter umum, psikolog anak, konsultan perkawinan, guru, dosen, peneliti, tukang masak (catering / pattiserie), ustadzah.
saya yakin, ibu-ibu yang ikhlas mengorbankan kebahagiaan pribadi demi menolong orang banyak pasti juga banyak ditolong Allah, insyaallah.
saya sih sekarang ibu rumah tangga full time (maklum cari kerjaan sekarang susah..). yah sadar kemampuan juga sih. kalau saya cari kerja pasti dapatnya yang kebanyakan ngundang fitnah daripada menolong orang. kan orang perhotelan. apalagi kalau beli sayur aja masih bisa dibego2in sama tukang sayur. gimana bisa diharep menolong orang banyak hehehe. jadi ya saya mah pasrah aja disimpen di rumah. kembali ke fitrah-Nya…
Terima kasih artikelnya cocok skali dngn keadaan saya sekarang ini yang hampir 2 tahun menjadi IRT dulu saya amat berhasil dalam karir bahkan bsa dibilang mambanggakan selama ini saya ikhlas dan senang mnjalaninya ntah knapa hari ini saya tak kuat iman mndengar crita teman krja saya dulu,alhamdulillah teman seperjuangan saya linda memberi masukan artikel ini,smangat saya jadi timbul kmbali,mhon kpada pmbaca lain memberi masukan apa2 saja yang bsa saya krjakan tnpa harus meninggalkan Farros Al Afif Rifki buah hati kami sebelumnya saya ucapkan terima kasih
artikel yg bagus, semoga makin byk artikel ttg pentingnya jd IRT, dan musnahkan emansipasi wanita
sayangnya di indonesia pfofesi IRT selalu diremehkan, krn IRT identik dengan pemalas yang hanya mengandalkan pembantu untuk ngurus semua pekerjaan rumah dan perawatan anak, padahal rumah dan anak yg kita miliki adalah amanah dari Allah, dan ladang pahala bagi wanita yg menunaikan kewjibannya. sungguh beda dg negara maju yg notabene non muslim yg bs mengerjakan semua sendiri dan tidak “menghamba” pada pembantu, shg disana frofesi IRT sangat dihargai krn padatnya kesibukan IRT. kenyataannya di indo, pekerjaan utama IRT adl: pagi makan, siang tidur, sore nggosip dg tetangga, malam nonton sinetron dan yg paling bikin cape krn hrs sering berteriak “ineem..!”
pendidikan apa yg diterima anak dirmh selain memberi contoh kemalasan dan kemudahan memerintah pembantu? itulah knp SDM di indo sangat payah dan pemalas. saya tidak kagum dg wanita karir, tapi saya jg tdk senang melihat IRT yg tidak bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya.
bahkan Fatimah ketika meminta pembantu kepada Rasulullah krn tangannya luka parah akibat pekerjaan rumah tangga, ditolak halus oleh Rasulullah krn itu adalah ladang amal bagi perempuan.
jd alangkah baiknya bila ada artikel disini yg membahas ttg pentingnya kembali kpd fitrah wanita di rmh, dan menjalankan kewajibannya, bkn hanya tinggal dirumah dan bermalas2an tidak berguna.
“Menjadi IRT itu berat dan melelahkan, tapi pahalanya byk…hanya bagi yg mau bekerja keras, ikhlas dan Lillahi ta’ala.”
kalau IRT merasa lelah dan bangga krn kebanyakan tidur dan maen perintah, mau dapat pahala dan berkah dari mana?
sibukkan diri dg kewajibanmu, tinggalkan yg sunnah (berkarir diluar rmh). saya bangga melihat IRT yg tangguh dan cakap dlm urusan rmh tangga dan tidak bergantung pada pertolongan pembantu, krn hanya Allah sebaik=baik penolong bagi umatNya
Alhamdulillah..dpt ilmu lagi..
Jazakillahu khairan mba uus..
Masyaallah artikelnya bagus, meski telat mbaca..
indah sekali uraian artikel ini. thanks…
Assalammu’alaikum
artikel yg bagus..selama 5 tahun ini saya mnjd IRT sering didera perasaan rendah diri, karena kerap diremehkan oleh teman sendiri yg merupakan wanita pekerja.. saya minta izin untuk mengcopy paste artikel ini untuk saya posting di blog saya dan saya share dg beberapa kawan saya yg juga mengalami hal serupa dg saya, supaya kami tidak lagi merasa rendah diri karena menjadi IRT.. trmksh sblmnya, wassalammu’alaikum..
assalamualaikum
saya sangat setuju dengan artikel ini, saya minta ijin untuk menyebarkannya di facebook saya, terimakasih ya…
wasalam
wah,bagus sekali isi tulisannya sehingga aq percaya diri untuk jadi ibu rumah tangga walau pendidikan aq S1 dengan predikat cumlaude. sebab suami tak ijinkan aq bekerja. oh iya, aq mau tanya
bagaimana klo istri yang stay dirumah hanya menerima uang dari suami lalu ibu dari si istri minta uang ?dengan kondisi keuangan suami baik tapi si suami tidak suka dengan keluarga si istri, what wife doing?
Untuk mba khusnul:
Sebaiknya anti bicarakan hal tersebut kepada suami,karena kita juga harus ijin ke suami jika menggunakan hartanya kecuali kalau suami pelit. saling berbagi,dan bertanya alasannya mengapa sikap suami demikian kepada ibu kita. Komunikasikan terlebih dahulu, jika memang ibu kita butuh sekali dan sangat mendesak mungkin kita bisa menjelaskan dan memberi pengertian kepada suami. wallohu a’lam
Assalamualaikum…
Saya tertarik sekali dgn artikelnya. Saya mama dari seorang putri(3,5 th). Setelah memutuskan utk berrumah tangga, saya langsung mengambil keputusan utk berhenti dari pekerjaan saya, dgn tujuan ingin membesarkan anak saya sepenuhnya. Saya merasa sangat bangga akan profesi saya, walaupun saya harus meninggalkan profesi lama saya dgn berbagai kendala yg alhamdulillah berhasil saya lewati.
Salam kenal
Assalamualaikum.. salam kenal saya baru saja baca artikelnya.. Terimakasih sekali, saya jadi merasa bahwa saya tidak sendirian. Saya juga baru saja menjadi IRT sejak Juni 2009. Alhamdulillah suami tidak pernah melarang saya bekerja atau menyuruh saya jadi IRT, dia memberi kebebasan kepada saya sepenuhnya. Sebeluumnya saya juga wanita bekerja yang aktif. Tapi justru saya dengan kesadaran penuh yang ingin mendedikasikan diri saya menjadi IRT.
Memang terkadang sulit ketika melihat teman2 perempuan saya sukses berkarier dan seringkali mereka memandang saya dengan penuh iba menanyakan kenapa saya tidak bekerja saja, daripada bosan di rumah.. Kadang saya juga merasa jadi orang yang tidak berguna tapi saya menguatkan hati saya bahwa keputusan yang saya ambil ini bukan sesuatu yang memalukan. Saya ingin meraih ladang surga di rumah kami yang insya Allah akan membawa keluarga kami ke surga dunia dan akhirat. Amin..
Semoga jadi sarana u lebih istiqomah bagi saya dan semuanya..
Mohon ijin copi paste @ FB’s notes..
Jazakumullahu..
SAYA SANGAT SENANG DENGAN ARTIKEL INI, sangat menyanjung sekali menjadi IRT , modah-mudahan saya bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku ,dan menjadi istri yang baik bagi suami ,AMIN YA RABBAL ALAMIN…WALAUPUN SEBELUMNYA saya juga merasa rendah diri ,kalau bertemu dengan istri teman suamiku yang pada umumnya bekerja menjadi wanita kalir ,
Ass…sedih sy baca artikel’a,krn sy g 100%temani anak” sy,krn sy kerja.sy bingung krn g mgkn utk berhenti,krn ada bbrp faktor penyebab’a,barangkali ada saran atw tips buat sy,supaya bisa jadi ibu yg berhasil mendidik anak walapun berkarier?terima kasih banyak
Wa’alaikum salam…
Anak saya masih 5 bulan dan saya bekerja. Selama saya bekerja, suami saya mengasuh anak. Selama ini masih bisa termanage dengan baik karena suami saya kerja shift dan lebih banyak masuk malam.
Tapi saya ingin berhenti bekerja, karena ternyata kebahagiaan saya terletak pada kebersamaan dengan suami dan anak. Suami sangat setuju saya usaha di rumah. hanya… betapa sulitnya menjelaskan pada keluarga besar, bahwa keputusan itu akan jadi keputusan terbaik.
Keluarga besar sangat menyayangkan, karena saya mengenyam pendidikan tinggi, sementara suami hanya lulus SMA.
Mohon doa, semoga semua baik pada akhirnya….
ARTIKEL ok
terima kasih unyuk artikelnya. menggugah!
iya bahwa jd ibu rumah tangga,memang keinginan hati kecil sya,tp apa mungkin apabila seorang suami menyuruh istrinya tuk bekerja??
Assalamu’alaikum
Saya dulu bekerja,tp setelah nikah dan hamil saya berhenti dan ingin full di rumah.sekarang anak dah mo masuk TK.Pengen jg rasanya kerja…..ya fikiran saya waktu itu biar ada tambahan penghasilan.Cuma bagaimana dengan buah hati saya jika saya harus keluar rumah pagi dan masuk rumah pada sore hari.
Sedangkan saya orang yang antipati dengan yang namanya baby sitter.bagaimanapun juga saya tetep ingin buah hati ada sama saya full time……sedangkan suami juga tidak memaksa saya harus bekerja.Cuma karena saya dulu bekerja,jd keinginan untuk bekerja lagi itu selalu ada.Apalagti suami saya kan seorang wiraswasta yang tidak ada penghasilan bulanan.Ya bisa dibilang kadang rame,kadang sepi.Disaat bissnis lagi sepi pengen rasanya bisa kembali bekerja di luar rumah.
Akan tetapi pikiran saya sekarang lebih terbuka,yang namanya rejeki banyak sedikit memang sudah ada yang ngatur.Tapi kalau saya mengabaikan keluarga dan memasrahkannya ke pembantu akan merasa bersalahnya diri saya.Apa gunanya saya sebagai ibu rumah tangga.Akhirnya saya bisa melewati semua ini dengan sangat bangga sebagai wakil kepala keluarga.mulai bayi merah sampai sekarang bisa membaca dan mengapal,hanya saya dan suamilah yang menjadi pengasuhnya.Betapa bahagianyya hidup saya walaupun tidak dilimpahi materi berlebih.malah tanpa bekerja di luar rumah sekalipun saya bisa menambah uang belanja,dengan bisniss kecil2lan dirumah,tanpa harus ninggalin my lovely girl Najwa Salvaretha Sunardjono.
Syukur Alhamdulillah saya bisa bs menjadi Ibu Rumah Tangga yang baik bagi keluarga kecil saya.
Terima kasih karna saya dikasih kesempatan membaca artikelnya,dan ikut memberi dukungan bagi Ibu Rumah Tangga lainnya.
Salam kenal
Wasalamu’alaikm
Subhanallah… Mohon ijin utk di share ya umi..
asalamualikum my noble sisters, i wanted to say, jazakum Allahu khayran for this reminder.
Assalamu’alaykum wa rohmatulloh wa barokatuh, ukhti.. setelah membaca artikel ini, saya punya seorang adik wanita telah menikah dikarunia kan dua orang anak. yang mana adik saya ini sebelumnya berkarir di dunia perbankan selama kurang lebih 18 tahun. da’wah terus kami sampaikan kepada adik tercinta agar berhenti dari pekerjaannya. Alhamdulillah dgn izin Allah da’wah kami berhasil menggugah hati sanubarinya dan hidayah datang-akhirnya adik tercinta berhenti dari pekerjaannya yang selama ini telah menyita perhatiannya terhadap keluarga kecilnya. Setelah dia beralih penuh dan menikmati menjadi ibu rumah tangga yang baru di jalani selama 3 tahun lebih ini, adik kami berujar” alangkah nikmatnya menjadi seorang ibu rumah tangga yang utuh dan penuh waktunya utk keluarga. Tanpa dibebani dgn stres, tergesa-gesa dllnya dlm membagi waktu dan perhatian kelrga dgn pekejaannya dulu. walau rejki tidak selapang dulu, tapi kebahagiaan dan kelapangan hati telah di gapainya.” dan adik kami juga berkata kepada saya, bahwa dia senantiasa bnyk beristighfar, dia bangga menjadi seorang ibu rumah tangga yg full dirumah, dia dpt menuntut ilmu, dapat menambah amalan ibadahnya dan seluruh kebaikan dlm kehidupan rumah tangganya.” karena dia ingin meraih surga dari pintu yang mana dia sukai kelak. sesuai dgn Sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “bila seorang wanita mengerjakan sholat fardhunya, mengerjakan shaum, menjaga kehormatannya lalu dia meninggal, dikatakan padanya masuklah melalui pintu surga yang engkau sukai. semoga kita semua menjadi ibu yang sholeha yang berhasil kelak mendi2k anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh yang dpt menyelamatkan kita dari siksa api neraka. sehingga kita dapat berkumpul di surga firdaus NYA. amiin.
sayaibu rumah tangga,yg juga bekerjadi sekolah yg terdekat dari rumah. Hanya beberapa meter jarakny. Penghasilannya sy dah diplot suami untuk kebutuhan dapur dan anak2. Saya mengajar sesuai jdwal, jd tdk setiap hari. Tapi menjalankan semuanya mmg membuat lelah. disamping ajang utk bersosialisasi dgn org lain, bekerja jg adl kemauan saya sendiri.Saya pikir gk ada salahnya saya bekerja, selama rumahtangga tdk terbengkalai, saya bisa bersedekah kpd keluarga setiap bulan, bukankah sy tdk wajib menafkahi keluarga? Memang sih, kadang keteteran juga, double fungsi gini, cuapek n stress kl gk ada yg bantuin.
Bismillalah
Alhamdulillah, setelah baca artikel ini, semangat untuk menjadi full house-wife muncul kembali, setelah beberapa saat sempat surut karena sikon di tempat saya tinggal. tinggal di lingkungan keluarga suami yang notabene sangat menjunjung tinggi pendidikan tinggi untuk berjuang keras mencari penghasilan. hmm… agak stress juga karena merasa dikasihani. hm… tiap ada keluarga suami bertanya, sangat sulit menjawabnya, karena mereka pasti akan berkomentar “sayang ilmunya ga dipake!”. Tawaran kerja yang lumayan sering datang, tawaran yang kayaknya sayang banget dilewatkan : jadi guru atau dosen! Tapi alhamdulillah di tengah kefuturan yang melanda Allah masih menjaga ana dari keputusan yang akan merusak keimanan ana. Alhamdulillah.
ass.wr.wb
subhanallah…..ijin share y …..mksh seblm & sesdhx
ijin copy paste ya umi,..untuk menyemangati begitu banyak IRT d sekitar sy :)
alhamdulillah, fuji syukur terhadap Allah subhanahu wata’ala. trimakasih ini menjadi bekal bagi sy & keluarga dalam menjalani rumah tangga. Amin.
saya sangat senang sekali setelah membaca artikel tersebut dan membuat hati saya pilu krn saat ini saya jauh dari buah hati saya&suami,sedandkan sikecil baru berumur 3th dia mulai belajar ini itulah&dia mulai masuk sekolah paud..dilubuk hatiku yang paling dalam aku ingin menjadiIRT yang baik buat keluarga kclku,tetapi dengan keadaan y’seperti ini aku harus bekerja membantu suamiku dan keluargaku.Aku enggak ingin membantah keinginan klgku&suamiku sendiri jg mengijinkan krn dia merasa belum bisa menjadi suami yang baik buat istri&anaknya..aku sangat menghargai keputusan suamiku karena smua demi keluarga&insyaallah ini gak kan lama aku berjauhan dari suami&buah hatiku,doakan kami smg cpt berkumpul amin.
@ vita
Semoga Allah memudahkan ukhti untuk mendapatkan yang hati kecil ukhti inginkan, yaitu menjadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya. Karena sayang sekali kalau masa emas anak kita berlalu tanpa kebersamaan kita sebagai ibu nya. Masa emas anak kita habis begitu saja bersama orang lain, bahkan banyak kejadian yang memprihatinkan yaitu masa emas anak habis begitu saja bersama pembantu tampa sempat ibu nya mengukirkan sesuatu di masa emas tersebut.
Alhamdulillah Allah sama sekali tidak membebani seorang wanita untuk mencari nafkah keluarganya, bahkan Allah tidak membebani seorang wanita untuk menafkahi dirinya sendiri. Melainkan yang menjadi beban seorang wanita (dan juga suaminya) yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya adalah tentang anak-anak nya.
Semoga Allah memberi kemudahan..
alhamdullilah, sy sdh menjlnkan sedikit dr bacaan diatas, n mdh2an sy jd lebih baik lagi dlm mencari Ridho Allah….
Assalamualaikum, jazakillah khoiron atas artikelnya sangat membantu u memotivasi diri saya khususnya u tetap menjadi ibu rumah tangga yang sempet goyah u ikut bekerja karena melihat temen2 yang hampir smuanya bekerja