Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?


Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:

  1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
  2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
  3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

***

Artikel www.muslimah.or.id

119 Responses to “Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga”

Pages: « 1 2 [3] Show All

  1. 101
    eka Says:

    Assalamualaikum>>>>

    Jujur saya sekarang lagi galau,hati saya begitu berat melepas kerjaan yang sdh saya jalani hampir 10 tahun.Apalagi dengan posisi dan gaji yang saya dapat.Sebetulnya ini pembuktian kepada suami saya bahwa saya bisa menjadi ibu yang sebenarnya untuk anak anak saya dan ini merupakanpermintaan suami saya yang kesekian kali untuk berhenti.Akan tetapi saya sekarang yakin…bahwa yang akan saya jalani nanti tdk seburuk yang saya bayangkan dan “benar”.
    Mudah2an ada jalan untuk saya ber Hijab…mohon doanya yaa….

    Wassalam>>>

  2. 102
    Rony Setiawan Says:

    Assalamu ‘alaikum wr,
    ada akhwat yang bertanya kepada saya. bolehkah seorang istri bekerja?? saya hanya ingin memanfaatkan hasil studi saya.saya tidak ingin menyia-nyiakan jerih payah orangtua saya yang telah menyekolahkan sampai saat ini. saya ingin membalas jasa kedua orangtua saya meskipun itu ta akan setimpal dengan besarnya jasa-jasa mereka.

    Saya sendiri mengetahui keutamaan sebenar-benar ibu rumah tangga. Namun cukup bingung memetakan antara keutamaan menjadi ibu rumah tangga dengan keutamaan berbakti kepada orang tua. bagaimana ya menanamkan pemahaman kepada remaja yang kondisinya seperti itu?
    kalo memang penjelasannya cukup panjang mungkin bisa dikirim via email.
    Jazakillah khoir.

  3. 103
    ummu faris Says:

    subhanallah. semoga bisa terbaca oleh banyak ibu dan calon ibu muslimah, ditengah kondisi umat yang sedang sakit sekarang ini.
    Allahu Akbar !!! sudah saatnya kita sadar, beri apresiasi besar unutk sebuah jabatan “IBU RUMAH TANGGA”

  4. 104
    chabibah Says:

    subhanallah, ibu rumah tangga merupakan profesi luar biasa. pekerjaan yang menuntut total perhatian dan seluruh potensi yang maksimal, meski masih terasa miris ketika orang hanya memandang remeh dan rendah pekerjaan ini. tetap semangat wahai ibu-ibu rumah tangga dan para calonnya

  5. 105
    indra kurniawan Says:

    seharusnya jangan hanya melarang, tapi juga memberikan solusi.
    Kalau memang wanita hanya dirumah sebagai ibu rumah tangga sedangkan dari sang suami nafkah tidak cukup apa anda sebagai penulis mau menambahkan biaya pendidikan anak?
    berikan solusi jangan hanya melarang.
    islam itu datang memberi solusi bukan memberi masalah

  6. 106
    muslimah.or.id Says:

    @ indra kurniawan

    Jazakallahu khairan untuk saran yang sangat bagus dari Anda. Mudah-mudahan bisa kami realisasikan dalam satu artikel tersendiri.

  7. 107
    farsa septia Says:

    @indra kurniawan

    mas indra,. mohon maaf saya tidak melihat ada kata/kalimat yang menyatakan atau paling tidak mengisyaratkan LARANGAN bagi kaum wanita (yang sudah menjadi Ibu) untuk bekerja di luar rumah.

    yang ada ataupun tersirat adalah NASEHAT/HIMBAUAN kepada kaum wanita muslimah untuk memperhatikan pendidikan anaknya,. bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya terutama pendidikan agamanya,.

    boleh,. wanita muslimah bekerja di luar rumahnya tapi dengan syarat diantaranya dapat izin dari suaminya dan aman dari fitnah

    dan yang lebih aman (di zaman sekarang ini) adalah hendaknya wanita musliamh bekerja/berwirausaha di rumahnya,. membuat usaha semacam home industri kecil-kecilan atau yang semisalnya.

    dan lagi mencari nafkah itu tanggung jawab penuh sang suami,. sang suami HARUS bersemangat untuk bisa menafkahi keluarganya,. jika memang masih kurang maka sang Istri BOLEH membantu sang suami untuk bekerja,… seperti yang saya katakan di atas,. lebih amannya bekerja di dalam rumahnya,. dgn itu dia bisa sambil mendidik anak2nya,. tidak harus bekerja di luar rumah kan,.

    mohon dipikirkan maslahat dan mudlorotnya mas,.(hanya pendapat)^^

  8. 108
    farsa septia Says:

    lanjutan==>

    @mas indra

    maksud saya dalam TULISAN INI tidak ada atau tidak tersirat LARANGAN bagi kaum wanita muslimah untuk bekerja,.

  9. 109
    khadijah Says:

    assalamualaikum wr wb. tidak bs dipungkiri sp sih yg tidak mau jadi wanita yg anda gambarkan di paragraf pertama, tapi saya pribadi, saya tidak pernah merasa rendah at malu hanya dg menjadi ibu rumah tangga “tulen”, tapi masalahnya…..sepertinya anda lupa memberikan solusi untuk kasus sprt saya, saya ibu rumah tangga,belum di karuniai putra, dulunya sempat mengajar, berhenti karena pindah kota ikut kerjaan suami , skg saya benar2 merasa sedikit tidak berguna, benar…..saya harusnya cukup ikhlas dengan berbakti pada suami(suami saya seorang pria yg bs di banggakan dan di andalkan), tapi….sepertinya hidup ini tidak hanya begini-begini saja, apalagi dengan otak saya yang sedikit ribet ini, ya kan?

  10. 110
    muslimah.or.id Says:

    @ Khadijah
    Wa’alaikumussalam,
    Seorang wanita boleh saja bekerja diluar rumah dengan syarat tidak melanggar aturan syariat dan aman dari fitnah. Misalnya saja seperti menjadi pengajar sebagai mana profesi Ibu sebelumnya. Bahkan menjadi guru TK, SD, SMP bagi sebagian muslimah menjadi sebuah keharusan bila tidak ada orang lain yang melakukannya. AllahuA’lam

  11. 111
    upik Says:

    betul… di artikel tidak ada larangan wanita bekerja, tetapi himbauan dilihat dari peran ibu sebagai pendidik. nyatanya banyak juga ibu yang tidak bekerja tidak mampu mendidik anaknya sesuai akidah agama. berat memang tugas ibu tapi mulia. lebih berat lagi jika ia juga bekerja di rumah, akibatnya tidak semua terurus dengan baik, aku pernah jadi wanita karir yang harus berhenti karena suami tugas ke luar kota. setelah 6 tahun jadi ibu rumah tangga, saya harus kerja lagi karena suami tidak ada pekerjaan. dalam hati kecil ingin kembali ke rumah, tetapi usaha di rumah lebih membutuhkan kesabaran dan modal…sementara kami butuh uang cepat. sedih… mengontrol anak-anak lewat telepon. waktu berdiskusi dengan anak berkurang. sekalipun mereka di sekolah islam, apakah bisa menjamin akidah mereka akan seperti yang kita harapkan? ingin menyalahkan suami yang tidak mampu menafkahi? itu juga bukan solusi. beberapa temen mengalami hal yang sama, mengapa mereka harus bekerja . jadi bukan semata-mata ingin dibilang wanita modern.

  12. 112
    Zain Says:

    “Yang perlu dipertimbangkan adalah lebih besar manakah manfaat atau mudharatnya?” karena setiap kondisi dan motivasi muslimah yang ingin berkarir pasti berbeda-beda.

    Jangan sampai dilandasi oleh sikap egois, rasa gengsi lebih-lebih mengejar materi yang berlebihan.

    Jika materi di rasa sudah cukup untuk kebutuhan dasar hidup sehari-hari, buat apa bekerja lagi… Kasihan tuh suami dan anak-anak gak keurus, ntar kalo di urus “orang lain” malah repot tuh… he he he

    Afwan wa syukron

  13. 113
    novianti Says:

    ibu adalah madrasah bagi anaknya

  14. 114
    andi Says:

    Jadi perempuan juga harus bekerja jangan hanya diam diri dirumah,
    jika seorang muslimah yang baik tentu kenal siapa istri nabi muhammad yang seorang pedagang..
    ini bukti bahwa perempuan tidak boleh pasif..

    jumlah perempuan 1:4 di banding laki-laki, apa jadinya kalau semua perempuan hanya diam diri dirumah.. bisa lumpuh perekonomian.

    Sekali lagi berikan solusi,
    buktikan islam itu rahmatan lil alamin

    note : materu atau uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kesempatan berbuat baik akan lebih terbuka lebar

  15. 115
    muslimah.or.id Says:

    @ Andi

    Bolehkah wanita bekerja?

    Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at.

    Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya:

    وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

    “Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“ (QS. At-Taubah:105)

    Perintah ini mencakup pria dan wanita. Alloh juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Alloh berfirman (yang artinya):

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29),

    Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

    AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

    Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

    Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

    Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

    Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)

    Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, diantaranya:

    1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.

    2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.

    3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.

    4. Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.

    5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.

    6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.

    http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-bekerja

  16. 116
    yulia Says:

    Assalamuálaikum wr.wb.
    Subhanallah, artikel yang sangat bagus. Semoga mampu menjadi pengingat dan suntikan motivasi bagi para IBU RUMAH TANGGA yang full stay at home. Ayo kita hilangkan persepsi ibu rumah tangga adalah kolot dan ngga smart. Justru kualitas generasi anak bangsa berikutnya tergantung pada kualitas ibu rumah tangga saat ini. Betapa besar jasa ibu, ngga bisa diremehkan begitu saja dan ngga sebanding bahkan dengan wanita karir bergaji puluhan juta sekalipun. Katakan dengan bangga: AKU IBU RUMAH TANGGA

  17. 117
    ayu Says:

    ibu adlah seseorang yg bisa menjadikan ank2nya berada di surga ataupun di neraka
    lalu bagaimana dengan seorang ibu yang ahli ibadah, tapi tidak bisa mencegah anknaya berbuat keji, bahkan ankanya berzinah dia pun hanya diam dan tidak mengingatkan, setiap keluar dan di datangi oleh pasangan zinahnya si ibu hanya diam malah menemani ngobrol, jika pasangan zinahnya bertandang kerumah, dengan alasan takit anaknya marah, si ank sudah dewasa bisa membedakan yang baik dan yg benar, dosanya dia sendiri yg menanggung bkn orang tua lagi,
    bagaimana dengan ibu tersebut????

    tolong masukannya

  18. 118
    yani yulyani Says:

    terima kasih artikel ini memperkokoh niat saya untuk dirumah,awalnya berat melepas karier dan tertekan jika ada yg bilang “sayang”ijazah kuliah tinggi-tinggi kalau cuma dirumah,tapi allah memberi jalan terbaik ini untuk saya.

  19. 119
    ummu khairyah Says:

    bismillah,
    assalamu’alaykum,..
    sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumah..
    sisi manfaat yang di dapat jauh lebih banyak di bandingkan mudharatnya.
    memang suatu hal yang sangat sulit bagi wanita yang sudah biasa dengan kehidupan di luar rumah,.*)wanita karir ketika di hadapkan pada keharusan dia di dalam rumah setelah berkeluarga namun jika ridha Allah adalah harapnnya maka tak ada kesulitan di dalamnya..semoga kita kaum hawa lebih bisa menelaah kenapa ahsannya wanita di rumah…nasehat untukq n kita semua .afwan tutur kata yng salh..syukron,baarakallahu fiykum..

Pages: « 1 2 [3] Show All

Leave a Reply

donasi muslimah

Artikel Terkait

      None Found
Toko Muslim Islam Download Your Ads Radio Muslim UmmiUmmi.com Donasi Buletin KonsultasiSyariah Yufid.com
Buletin Tauhid

Design by cizkah powered by Wordpress