Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?


Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ‘menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

“dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya?” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…

Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ‘cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Wallahu a’lam

Maroji’:

  1. Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat
  2. Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
  3. Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi’ul Awwal 1427/April 2006

***

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

146 Comments

  1. seharusnya jangan hanya melarang, tapi juga memberikan solusi.
    Kalau memang wanita hanya dirumah sebagai ibu rumah tangga sedangkan dari sang suami nafkah tidak cukup apa anda sebagai penulis mau menambahkan biaya pendidikan anak?
    berikan solusi jangan hanya melarang.
    islam itu datang memberi solusi bukan memberi masalah

  2. farsa septia says:

    @indra kurniawan

    mas indra,. mohon maaf saya tidak melihat ada kata/kalimat yang menyatakan atau paling tidak mengisyaratkan LARANGAN bagi kaum wanita (yang sudah menjadi Ibu) untuk bekerja di luar rumah.

    yang ada ataupun tersirat adalah NASEHAT/HIMBAUAN kepada kaum wanita muslimah untuk memperhatikan pendidikan anaknya,. bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya terutama pendidikan agamanya,.

    boleh,. wanita muslimah bekerja di luar rumahnya tapi dengan syarat diantaranya dapat izin dari suaminya dan aman dari fitnah

    dan yang lebih aman (di zaman sekarang ini) adalah hendaknya wanita musliamh bekerja/berwirausaha di rumahnya,. membuat usaha semacam home industri kecil-kecilan atau yang semisalnya.

    dan lagi mencari nafkah itu tanggung jawab penuh sang suami,. sang suami HARUS bersemangat untuk bisa menafkahi keluarganya,. jika memang masih kurang maka sang Istri BOLEH membantu sang suami untuk bekerja,… seperti yang saya katakan di atas,. lebih amannya bekerja di dalam rumahnya,. dgn itu dia bisa sambil mendidik anak2nya,. tidak harus bekerja di luar rumah kan,.

    mohon dipikirkan maslahat dan mudlorotnya mas,.(hanya pendapat)^^

  3. farsa septia says:

    lanjutan==>

    @mas indra

    maksud saya dalam TULISAN INI tidak ada atau tidak tersirat LARANGAN bagi kaum wanita muslimah untuk bekerja,.

  4. khadijah says:

    assalamualaikum wr wb. tidak bs dipungkiri sp sih yg tidak mau jadi wanita yg anda gambarkan di paragraf pertama, tapi saya pribadi, saya tidak pernah merasa rendah at malu hanya dg menjadi ibu rumah tangga “tulen”, tapi masalahnya…..sepertinya anda lupa memberikan solusi untuk kasus sprt saya, saya ibu rumah tangga,belum di karuniai putra, dulunya sempat mengajar, berhenti karena pindah kota ikut kerjaan suami , skg saya benar2 merasa sedikit tidak berguna, benar…..saya harusnya cukup ikhlas dengan berbakti pada suami(suami saya seorang pria yg bs di banggakan dan di andalkan), tapi….sepertinya hidup ini tidak hanya begini-begini saja, apalagi dengan otak saya yang sedikit ribet ini, ya kan?

  5. @ Khadijah
    Wa’alaikumussalam,
    Seorang wanita boleh saja bekerja diluar rumah dengan syarat tidak melanggar aturan syariat dan aman dari fitnah. Misalnya saja seperti menjadi pengajar sebagai mana profesi Ibu sebelumnya. Bahkan menjadi guru TK, SD, SMP bagi sebagian muslimah menjadi sebuah keharusan bila tidak ada orang lain yang melakukannya. AllahuA’lam

  6. upik says:

    betul… di artikel tidak ada larangan wanita bekerja, tetapi himbauan dilihat dari peran ibu sebagai pendidik. nyatanya banyak juga ibu yang tidak bekerja tidak mampu mendidik anaknya sesuai akidah agama. berat memang tugas ibu tapi mulia. lebih berat lagi jika ia juga bekerja di rumah, akibatnya tidak semua terurus dengan baik, aku pernah jadi wanita karir yang harus berhenti karena suami tugas ke luar kota. setelah 6 tahun jadi ibu rumah tangga, saya harus kerja lagi karena suami tidak ada pekerjaan. dalam hati kecil ingin kembali ke rumah, tetapi usaha di rumah lebih membutuhkan kesabaran dan modal…sementara kami butuh uang cepat. sedih… mengontrol anak-anak lewat telepon. waktu berdiskusi dengan anak berkurang. sekalipun mereka di sekolah islam, apakah bisa menjamin akidah mereka akan seperti yang kita harapkan? ingin menyalahkan suami yang tidak mampu menafkahi? itu juga bukan solusi. beberapa temen mengalami hal yang sama, mengapa mereka harus bekerja . jadi bukan semata-mata ingin dibilang wanita modern.

  7. Zain says:

    “Yang perlu dipertimbangkan adalah lebih besar manakah manfaat atau mudharatnya?” karena setiap kondisi dan motivasi muslimah yang ingin berkarir pasti berbeda-beda.

    Jangan sampai dilandasi oleh sikap egois, rasa gengsi lebih-lebih mengejar materi yang berlebihan.

    Jika materi di rasa sudah cukup untuk kebutuhan dasar hidup sehari-hari, buat apa bekerja lagi… Kasihan tuh suami dan anak-anak gak keurus, ntar kalo di urus “orang lain” malah repot tuh… he he he

    Afwan wa syukron

  8. novianti says:

    ibu adalah madrasah bagi anaknya

  9. andi says:

    Jadi perempuan juga harus bekerja jangan hanya diam diri dirumah,
    jika seorang muslimah yang baik tentu kenal siapa istri nabi muhammad yang seorang pedagang..
    ini bukti bahwa perempuan tidak boleh pasif..

    jumlah perempuan 1:4 di banding laki-laki, apa jadinya kalau semua perempuan hanya diam diri dirumah.. bisa lumpuh perekonomian.

    Sekali lagi berikan solusi,
    buktikan islam itu rahmatan lil alamin

    note : materu atau uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang kesempatan berbuat baik akan lebih terbuka lebar

    • @ Andi

      Bolehkah wanita bekerja?

      Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at.

      Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya:

      ?????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ??????????? ????????????????

      “Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“ (QS. At-Taubah:105)

      Perintah ini mencakup pria dan wanita. Alloh juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Alloh berfirman (yang artinya):

      ??? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????????? ?????????? ???????????? ?????? ???? ??????? ????????? ???? ??????? ????????

      “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29),

      Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

      AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

      Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

      Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

      Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

      Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)

      Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, diantaranya:

      1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.

      2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.

      3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.

      4. Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.

      5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.

      6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.

      http://konsultasisyariah.com/bolehkah-wanita-bekerja

    • abu zein says:

      INILAH KESEMPURNAAN ISLAM DAN ALHAMDULILLAH ALLOH JADIKAN KITA SEBAGAI SEORANG MUSLIM, SUATU NIKMAT YG PALING BESAR DARI ALLOH SUBHANA’U WATAALA..
      Jadikan akhirat sebagai tujuan dan jangan lupakan dunia( ikhtiar) tapi itu ditekankan untuk para suami agar menafkahi keluarganya sebagai kepala rumah tangga.
      Alloh dan RasulNya menyuruh para istri untuk berbakti dan taat kepada suami dalam hal kebaikan adalah suatu perintah yg sempurna yang Alloh dan Rasulnya sudah pasti tau kegala sebab dan akibatnya. Jikalau istri mau membantu tidak ada larangan sejauh tidak melalaikan hak dan kewajiban terhadap suami dan anak anak…

  10. yulia says:

    Assalamuálaikum wr.wb.
    Subhanallah, artikel yang sangat bagus. Semoga mampu menjadi pengingat dan suntikan motivasi bagi para IBU RUMAH TANGGA yang full stay at home. Ayo kita hilangkan persepsi ibu rumah tangga adalah kolot dan ngga smart. Justru kualitas generasi anak bangsa berikutnya tergantung pada kualitas ibu rumah tangga saat ini. Betapa besar jasa ibu, ngga bisa diremehkan begitu saja dan ngga sebanding bahkan dengan wanita karir bergaji puluhan juta sekalipun. Katakan dengan bangga: AKU IBU RUMAH TANGGA

  11. ayu says:

    ibu adlah seseorang yg bisa menjadikan ank2nya berada di surga ataupun di neraka
    lalu bagaimana dengan seorang ibu yang ahli ibadah, tapi tidak bisa mencegah anknaya berbuat keji, bahkan ankanya berzinah dia pun hanya diam dan tidak mengingatkan, setiap keluar dan di datangi oleh pasangan zinahnya si ibu hanya diam malah menemani ngobrol, jika pasangan zinahnya bertandang kerumah, dengan alasan takit anaknya marah, si ank sudah dewasa bisa membedakan yang baik dan yg benar, dosanya dia sendiri yg menanggung bkn orang tua lagi,
    bagaimana dengan ibu tersebut????

    tolong masukannya

  12. yani yulyani says:

    terima kasih artikel ini memperkokoh niat saya untuk dirumah,awalnya berat melepas karier dan tertekan jika ada yg bilang “sayang”ijazah kuliah tinggi-tinggi kalau cuma dirumah,tapi allah memberi jalan terbaik ini untuk saya.

  13. ummu khairyah says:

    bismillah,
    assalamu’alaykum,..
    sebaik-baik tempat bagi wanita adalah di rumah..
    sisi manfaat yang di dapat jauh lebih banyak di bandingkan mudharatnya.
    memang suatu hal yang sangat sulit bagi wanita yang sudah biasa dengan kehidupan di luar rumah,.*)wanita karir ketika di hadapkan pada keharusan dia di dalam rumah setelah berkeluarga namun jika ridha Allah adalah harapnnya maka tak ada kesulitan di dalamnya..semoga kita kaum hawa lebih bisa menelaah kenapa ahsannya wanita di rumah…nasehat untukq n kita semua .afwan tutur kata yng salh..syukron,baarakallahu fiykum..

  14. Kamu Cantik says:

    Nice posts. Menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga merupakan sebuah pilihan dan tentu saja keduanya membutuhkan rasa tanggung jawab yang tinggi. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita memahami peran dengan baik serta siap dengan segala konsekuensinya.

  15. Fahmia Humaira says:

    Alhamdulillah…saya adl seorang ibu rumah tangga,artikel ini adl penghargaan dan support bagi saya,terima kasih

  16. selly says:

    Salam,
    Sebetulnya saya adalah mahasiswa tingkat akhir yg sedang mencari data tambahan mengenai aktifitas sehari-hari Ibu Rumah Tangga. Data tsb saya butuhkan untuk merancang sebuah kampanye merek yg konsumen utamanya adalah Ibu Rumah Tangga. Penelusuran di Google membawa saya ke link blog ini. Di paragraf pertama awal saya sangat terkesan dengan penggambaran seorang wanita yg sukses yg ada d mindset masyarakat saat ini. Saya paham dan sangat setuju kalau sukses itu tidak dapat dinilai dari jabatan atau materi yg berhasil diperoleh. Namun, paragraf-paragraf selanjutnya membuat saya tersentak dan terusik untuk berkomentar. Sebelumnya saya mohon maaf jika penilaian saya mungkin tidak sesuai dengan apa yang ada di pikiran penulis, tapi saya beranggapan bahwa kata-kata yg tertuang mulai paragraf kedua sedikit propokatif dan terkesan menyudutkan pilihan-pilihan yg diambil beberapa wanita untuk bekerja di luar rumah. Saya berpendapat, artikel ini akan lebih bagus jika tidak ada sentimen terhadap salah satu pilihan pekerjaan wanita (netral). Sehingga, pembaca dapat menilai sendiri, pilihan pekerjaan yg paling sesuai untuk mereka (Ibu Rumah Tangga atau Bekerja di luar rumah). Toh, selama tidak membawa kecelakaan bagi org lain, pekerjaan apa saja tetap mulia, bukan?

    Terima kasih.

  17. bu shofirin says:

    saya menikah 6tahun sudah pny anak1 dngn ada nya artikel ini saya semakin mantap menjadi ibu rumah tangga,,,,,

  18. Henny says:

    Saya senang sekali muslimah.or.id mempublikasikan artikel ini, yg merupakan dukungan untuk ibu rumah tangga. Saya sendiri jg seorang ibu rumah tangga. Peran ini saya pilih dengan alasan sederhana, saya merasakan betapa senangnya mempunyai seorang ibu (ibu saya) yang selalu ada di rumah ketika saya pulang sekolah. Saya ingat sekali, waktu SD, saya dalam hati berkata, untung ya, mamaku di rumah, tidak bekerja seperti mama teman saya. Tantangan yg dihadapi ibu rumah tangga memang tidak mudah, terutama karena media selama ini meng-ekspose wanita karier, yg secara tidak langsung memberikan kesan keren di benak para wanita. Belum lagi keterangan dari para pakar bahwa ibu bekerja tidak mempunyai dampak negatif pada anak asalkan meluangkan waktu berkualitas. Di Indonesia, sangat disayangkan, perdebatan antara kubu yang mengusung teori bahwa anak lebih mendapatkan manfaat positif jika ibu full-time di rumah dengan kubu yang mengusung teori bahwa anak tidak mendapat dampak negatif dari ibu bekerja, tidak muncul. Yang banyak dibahas di sini adalah teori Psikologi yang menyatakan bahwa anak tidak mendapat dampak negatif dari bekerjanya ibu di luar rumah. Ini adalah isu yang terus diperdebatkan, dan mungkin akan selamanya demikian, karena semuanya menyangkut perbedaan keyakinan. Ibu yang memilih mengikuti hati nuraninya untuk menjadi ibu rumah tangga, memang berbeda keyakinan daripada ibu yang memilih berkarier, begitu pula para ahli yang mengusung teori2 tersebut.

  19. Yana says:

    Assalamualaikum,

    Saya akhirnya memutuskan jadi ibu rumah tangga setelah pny posisi nyaman dan gaji lumayan di kantor. Ilmu saya selagi kuliah terpakai kok (yah dicocok2kan saja dng sikon dirmh). Saya lulusan jurnalistik biasa menulis, jd saya gunakan saja buat mendongeng. Pendidikan akidah saya jg tanamkan salah satunya dng bercerita. Saya jg msh bisa membagi rejeki kpd orgtua dng cara pny toko online dan sebagian profitnya saya beri ke orgtua. Sejak saya tidak bekerja suami tambah giat bekerja krn dia mrs aman-nyaman anak berada dipengasuhan saya. Krn suami tmbh giat Alhamdulillah keuangan keluarga meningkat.

    Dng jadi ibu rumah tangga Alhamdulillah saya bs membentengi anak dng akidah Islam sedari dini dari arus informasi yg negatif. Lingkungan anak disekolah penuh dng hal2 diluar dugaan kita, kalau kita tidak membentengi anak dng iman yg kuat, waduh, sayang sekali, ia akan gampang terombang-ambing. Dan siapa lg yg bisa melakukan itu kalau bukan kita, ibunya.

    Wassalam.

  20. Chinta says:

    Aku baru menikah 5 bulan dan full time di rumah, aku lepas kemandirian financial ku ketika memasuki gebang pernikahan setelah 15 tahun bekerja di kantor sebagai wanita karier dan banyak aktivitas lain di luar rumah waktu kuliah ……, walau sudah banyak membaca literatur mengenai mulianya menjadi seorang wanita yang menikah dan menjadi ibu rumah tangga full…tetap saja merasa ada susuatu yang hilang dalam hidup, apalagi belum ada momongan, apalagi bila ada kebutuhan yang pasangan belum dapat memenuhi secara materi,tetap saja ada bedanya antara mandiri secara financial dengan berpenghasilan dari suami, apalagi di hadapi oleh 5 kemungkinan bahwa pria kepala rt mempunyai resiko 1.sakit 2.resign/lost his job 3. tidak cukup penghaslan 4.selingkuh 5. wafat sehinga tidak dapat menafkahi keluarga . Ada wanita2x yang memang cerdas mengurus rumah nya dan mengurus suaminya dan anak2xnya sehingga dia punya “energi lebih” yang harus di keluarkan untuk bermanfaat bagi lingkungan masyarakat, ada juga wanita yang mengurus urusan domestik 24 jam itu sudah kehabisan energi dan kurang terampil. JAdi ……untuk aku sendiri masih berproses mempertimbangkan apakah full time jadi ibu rumah tangga atau menambah kegiatan ku dengan mandiri kembali secara financial….Semoga Allah memberikan hidayah Nya kepadaku di tengah kebimbangan ini ……..

  21. yuni says:

    Sebenarnya artikelny bagus… krn saya juga berkeinginan jadi ibu rumah tangga… cuma karena ekonomi tdk mencukupi maka harus bekerja… tapi saya janji dengan diri sndiri, jika sudah punya anak pengen d rumah saja.. ngurus suami dan anak2…
    untuk isi waktu luang, saya akan memanfaatkan internet… Mudah2an bisa mmbantu suami… sekarang pun sudah saya mulai manfaatin internetny…

  22. mulia says:

    subhanallah…tulisan yg mencerahkan.mg mdp balasan dari Allah SWT.semakin banyak wanita yang bangga menjadi ibu rumah tangga.amin

  23. ummu zahra says:

    ass,,, mohon bantuannya. saya ingin sangat ingin keluar dariPNS tinggal dirumah dn menjadi ibu yang baok untuk anak dan istri yang shaleha unruk suami ,, kebetulan suami saya juga pns,, tapi ibu saya tidak menyetujuix, bagaimana menjlaskan pada ibu agar beliau paham,,, dan mengerti tujuan saya

  24. widia says:

    Asalamulaikum,

    Ini hanya opini Saya saja.

    Sebenarnya menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) adalah hal yang alami bagi wanita dewasa. Tapi menjadi full time IRT sama saja dengan memutuskan berkarir di dalam rumah, yang pastinya butuh kompetensi tertentu.

    Oleh karena itu, menjadi full time IRT tidak selalu didasarkan pada maksimal atau tidaknya nafkah materi yang diberikan suami, tetapi wanita itu sendiri yang harus mengenal kompetensi dirinya.

    Jika ia tipe orang yang kreatif, inisiatif tinggi, memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang keren, dan tidak mudah stress terhadap masalah keuangan —- saya yakin wanita seperti ini akan menikmati perannya sebagai full time IRT dan mampu memanajemen rasa bosan dengan baik.

    Jika ia tidak punya kompetensi seperti di atas, bekerja adalah pilihan yang lebih bijak agar ia tidak gampang bosan yang ujung-ujungnya merasa hidupnya tidak berguna. Kalau sudah di tahap ini, dikhawatirkan ia akan mencari pelampiasan dengan ikutan jadi ibu-ibu rumpi yang pola pikirnya parsial dan dangkal, konsumtif, minderan, dan cemburu berlebih dengan suami.

    Saya yakin kok, ibu yang bahagia dengan pilihannya akan berdampak positif terhadap tumbuh kembang anaknya.

    Oh ya, satu lagi :) nggak semua pria mendambakan istri bertipe rumah tangga lho :). Bukan karena dia tidak bertanggung jawab, tapi karena dia juga butuh istri yang jadi teman diskusi yang seimbang atau ingin anaknya bangga kalau ibunya bisa mandiri secara finansial.

  25. saya sudah 4 bulan berhenti dari pekerjaan, dan skrng jadi ibu rumah tangga. tadinya saya merasa bosan krena terbiasa bekerja diluar, Alhamdulillah setelah membaca artikel ini saya lebih mantap menjalankan tugas saya sbagai ibu rumah tangga. rasanya masih banyak yang perlu saya benahi. ungkapan Surga diBawah “Telapak kaki ibu” tidak akan ada apabila seorang ibu tidak dapat menghadirkan surga dirumahnya. Jazakallahu muslimah.or.id. izin shared yach

  26. Kerja di rumah juga bisa kok ibu-ibu…
    Tetap dekat dengan anak, dan bisa menghasilkan.
    Kita kan tidak pernah tau apakah suami akan sehat terus, atau usaha/ peerusahaan tempat dia bekerja akan stabil terus, bahkan kita juga tidak tau sampai kapan usia suami.
    Jadi yuk mulai menghasilkan walau di rumah saja.

  27. fadilah says:

    Ayo ibu-ibu, wanita karir, diisi ya questionernya tentang online shop pakaian anak. Mbak-mbak calon ibu juga boleh :D http://tinyurl.com/d6jdydm

  28. mila says:

    Saya seorang dokter sekaligus ibu 2 anak. sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, saya bekerja flexi time, 2-3 kali saja dalam satu minggu. ini saya lakukan dengan penuh kesadaran bahwa tugas menjadi ibu adalah tugas yang sangat sangat penting. namun kadang ada saatnya saya merasa goyah ketika melihat teman2 sudah banyak yang sekolah untuk spesialisasi. padahal, bukan bermaksud sombong, selama sekolah sampai kuliah saya adalah siswa berprestasi. ya, banyak yang beranggapan profesi kami ini penuh pahala. tapi, ga banyak yang tahu, banyak cerita tentang rumah tangga dokter yang tidak begitu baik, tentang anak2 yang tidak terdidik dengan baik. saya sempat berencana untuk mengambil spesialisasi, tapi last minute saya pikir2 lagi gimana nasib anak2 saya nanti. krn selama masa pendidikan yg panjang itu(kira2 4 tahun) sebagian BESAR waktu, tenaga, dan pikiran saya akan tersita. lalu, bagaimana dengan suami yang harus ditinggal dlm waktu lama(di kota sy tdk ada program spesialisasi). jadi curhat, hehehe… ya, semoga Allah memberi saya hati yang istiqomah.
    sy mulai mengalami pencerahan seteleh banyak baca2, searching2 tentang sebuah kenyataan yang mengejutkan bhwa memang kitalah sudah termasuk umat akhir zaman. dan feminisme serta gerakan meng-karier-kan wanita adalah tipuan dajjal. wanita mengejar karier terlihat bagai surga yah, tapi sangat bertanggungjawab atas penurunan kualitas generasi penerus.

    • @mila
      tanggung jawab utama seorang wanita adalah di rumahnya. Mari kita membangun karir kita di rumah dengan berusaha menjadi sebaik baik istri dan sebaik baik ibu. Mari kita mencari syurga dri rumah kita. Semoga nanti Allah berkenan memasukkan kita ke dalam syurga melalui pintu mana saja yang kita inginkan. Maka saat itu akan menjadi kesuksesan sejati seorang wanita. Barakallahu fik

  29. Subahanallah….menjadi seorang ibu rumah tangga untuk memberikan didikan terbaik bagi anak lebih mulia ketimbang wanita yang hanya memikirkan penghasilan semata.

  30. suci febrianti says:

    Sebenernya kembali ke diri masing2..mau pilih mana? Mau d rmh ato menjadi wanita karir,kalo dibilang cukup ato ga cukup secara finansial toh gada kata2 cukup bagi manusia.iya kan?malah ada yang punya moto “jangan pernah merasa puas dgn apa yang kita miliki” nah lo kalo gt gmana nasib anak2 & suami? Heheh trus bagaimna dgn adap berbusana secara muslimah kalo para wanita bekerja? Apakah mungkin pekerja kantor dibolehkan memakai baju panjang,longgar serta jilbab sesuai syariat islam? Bagaimna dgn dandana?apakah mau wanita karir tdk mengunakan parfum? Sedangkan dlm islam wanita tdk d perbolehkan memakai parfum selalin utk mahromnya. Bagaimana dgn tmpt kerja ato waktu istirahat apakah mungkin tanpa bersenda gurau dgn lawan jenis yang bkn mahrom kita? Saya rasa itu semua takan mungkin tak terjadi..jadi sebaik2nya tempat wanita itu adalah rmh..dengan d rmh kita bisa menyambut kedatang suami d saat dia pulang kerja & bisa menyiapkan segala keperluan d saat dia berangkat kerja.masalah finansial.percayalah setiap yang bernyawa ada rejekinya.meskipun irt tdk ada penghasilanya allah swt akan lebihkan kpd sang suami. Marilah kita saling berusaha menjadi istri sholeha & ibu yang baik..

  31. erli says:

    assalamu’alaykum
    saya guru SD.in shaa Allah syarat2 di atas sy pnuhi mulai dr hijab syar’i ,tdk tabaruj,memakai wangi2an dll.hanya saja kondisi SD sy msh ada guru laki2nya.akan tetapi sy selalu berusaha menjaga jarak & sebisa mungkin tdk berinteraksi dg mereka.apakah yg demikian ttp dilarang?mohon jawabannya jazakumullohu khoir

  32. desy says:

    Hanya menambahkan, mohon jangan menyamakan wanita yang bekerja di luar rumah dengan istilah “wanita karir”..wanita karir adalah wanita yang bekerja memang untuk mencari karir, tapi sangat mungkin sebagian besar wanita yang bekerja di luar adalah wanita yang memang kondisi mengharuskan dia untuk bekerja di luar (misal : penghasilan suami tidak mencukupi, bahkan untuk kebutuhan pokok juga belum mencukupi), jadi bukan bertujuan untuk mencari karir atau uang sebanyak banyaknya).

  33. Tasya says:

    Ya ukhti,

    Saya ingin sekali menjadi ibu rumah tangga, tapi ibu saya stress ketika waktu itu saya ingin mengundurkan diri, saya jadi bingung bagaimana cara menghadapi keluarga yang pro akan wanita bekerja, sedih hati ini ketika melihat anak di didik oleh orang-orang yang kurang paham akan ilmu agama yang Shahih dan Sunnah…

    • Bundanya fatima,falisha & farah says:

      Assalamu’alaykum wr wb, tulisan yg amat bagus, sayang jika masih ada yg meragukan janji Allah yang akan merawat dan menjaga umat-Nya yg taat. Saya adalah ibu rumah tangga yg melepaskan karir saya demi anak2, walau nampaknya gaji suami tidak mencukupi tetapi keyakinan saya dan suami akan janji Allah begitu besar sehingga dalam setiap kekurangan Allah selalu memenuhi kebutuhan kami dengan cara-Nya, walau tidak seperti yang didambakan banyak orang (berkelebihan materi)…Dunia ini hanya jembatan, akherat adalah tujuan kita semua…ibu saya adalah salah satu bukti kekuasaan Allah, sejak ayah meninggal dunia pd saat aku dan saudara2ku msh kecil (usia 3,5 dan 7 thn) ibu harus bekerja mencari nafkah krn ayah almarhum tdk meninggalkan harta apapun kpd ibu, ibu bekerja ditahun 1980 dgn gaji 30 ribu per bulan sampai dengan pensiun thn 1997 gaji ibu terakhir hanya 750 ribu per bulannya dan kami semua mengenyam bangku kuliah diuniversitas. Rumahpun ibu lunasi dgn hasil kerjanya. kalau dipikir memakai akal sehat tidaklah mungkin dengan gaji sebesar itu semuanya bisa ibu lakukan tapi keyakinan ibu kpd Allah begitu besarnya, mukjizat itu ada rizki datang tanpa disangka dan didapat melalui jalur yang halal (tentunya ibu selain bekerja dikantor juga berusaha berjualan dll), anak2nya semua mudah mendapatkan pekerjaan bahkan saya pun mendapat pekerjaan 2 hari setelah diwisuda dr UI, sampai hari ini ibu masih menjanda. Jika ada suami istri yang bekerja dan masih juga merasa kurang, dengan dalih ingin berkecukupan agar bisa melakukan ini itu demi anak, demi ibadah dll, sungguh disayangkan jika keyakinannya thp kekuasaan Allah tidak sepenuhnya ada…jika Allah menghendaki maka apa yg tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Ketakutan akan kekurangan ekonomi adalah salah satu trik syetan yg paling mengelabui…Kembali lagi ke pernyataan bahwa Islam tidak melarang wanita bekerja, itu benar…hanya saja jaman sekarang ini alasan utk bekerja para wanita seringkali tidak sesuai dgn syariat agama, malah para wanita bekerja ini krn suami yg menyuruh juga, agar tabungan lekas banyak terisi…padahal kalo melihat kisah ibu saya yg menjanda dgn 3 anak tp bisa mencukupi kebutuhan hidup tanpa bantuan org lain , apa tidak malu ya para suami yg menyuruh istrinya bekerja diluar rumah utk membantu ekonomi keluarga, sementara ibu saya memang harus bekerja diluar rumah karena desakan kebutuhan krn saat itu kondisinya sbg seorang janda miskin…Percayalah akan kekuasaan Allah, kita selalu memohon kpd-Nya, Insya Allah dgn iman yg kuat Allah akan mengabulkan kebaikan untuk kita dan keluarga didunia ini…seringkali bukan permintaan kita yg dikabulkan tetapi kebutuhan kita yg akan Allah penuhi dgn cara_Nya yg paling baik…Insya Allah…salam…

  34. butiran debu says:

    masya Allah, seandainya kedua orang tua ku membaca tulisan ini :( mungkin aku tidak seperti ini..

  35. Ira Aditya says:

    Subhanallah, sudah lewat tengah malam ketika saya terarahkan kepada artikel ini. Dan membaca tulisan, comment dan jawaban2 penulis sudah menambah wawasan dan ilmu lagi buat saya.
    Dulu, saya juga bekerja di luar rumah…. bahkan sampai anak saya lahir dan hampir berusia 3 tahun.
    Kemudian, dengan keyakinan, pertimbangan dan segala masukan2 ilmu dan ajaran, saya putuskan untuk ‘hijrah profesi’.

    8 bulan sebelum memutuskan resign, saya bismillah memulai satu bisnis yang saya niatkan untuk menjadi pengganti ‘gaji’ dan bisa saya kerjakan dari rumah.

    Alhamdulillah…..
    setelah resign, rezeki bisnis yg saya jalankan dari rumah lancar, anak tak perlu saya tinggal seharian. Insyaallah semakiiin yakin Allah membuka pintu rezekiNya yang Maha Luas bagi siapapun yang bersungguh2 berusaha sesuai dengan anjuranNya.

    sampai sekarang, alhamdulillah bangga menjadi Ibu Rumah Tangga dan tetap bisa berpenghasilan.

Leave a Reply