Penyusun: Ummu Asma’
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar
Siapa tak kenal aktivitas yang satu ini? Dari anak kecil hingga lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita pasti mengenalnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak orang tergila-gila belanja atau shopping hingga mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di mall, supermarket, swalayan atau bahkan pasar. Belanja memang merupakan kebutuhan yang mengharuskan wanita untuk keluar dari rumahnya.
Islam tidak melarang wanita untuk keluar dari rumahnya karena pada asalnya keluar rumah adalah dibolehkan sebagaimana suatu kaidah, “Hukum sarana yang mubah itu tergantung tujuannya.” Begitu pula, keluar untuk berbelanja, baik ke pasar maupun ke pusat-pusat perbelanjaan lainnya merupakan suatu hal yang terkadang sulit untuk dihindari. Namun kaidah ini hanya berlaku apabila keluar rumah menjadi suatu kebutuhan yang mendesak atau sangat penting. Tentu saja tanpa melupakan hal-hal penting yang harus dipenuhi ketika seorang muslimah keluar dari rumahnya, seperti menutup aurat, tidak berhias (tabaruj), tidak campur baur laki-laki dan perempuan, dll.
Jika kita ingat pelajaran ekonomi, kita akan banyak bertemu dengan kata pasar. Istilah pasar didefinisikan sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam rangka melakukan transaksi jual beli. Tentu saja kita mengetahui bahwa ketika ada aktivitas jual beli, maka di sana terdapat akad atau perjanjian antara si penjual dengan pembeli yang dinamakan ijab dan qabul. Lalu apa hubungannya akad ini dengan belanja? Tentu saja ada hubungannya. Akad inilah yang akan menentukan sah atau tidaknya jual beli yang kita lakukan.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr As-Sa’di dalam kitab beliau Manhajus Salikiin (Bab Kitab Jual-Beli hal. 139) menyebutkan bahwa asal dari hukum jual beli adalah halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Qs. Al-Baqarah: 275)
Jual beli adalah sesuatu yang dihalalkan oleh Allah apabila terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:
Hati-hati, Ada Setan!
Kita dapat menyaksikan segala kejelekan di pasar dengan penglihatan dan pendengaran kita. Begitu kita masuk pasar, maka ucapan-ucapan kasar bahkan umpatan penjual yang dagangannya tidak jadi dibeli akan mampir di telinga kita. Sepanjang perjalanan kita akan mengetahui ada saja orang yang menipu demi mendapatkan keuntungan. Pembeli akan berkata, “Tadi saya membeli di penjual A dengan harga empat ribu, kok di sini enam ribu!” padahal penjual A tidak menjual dagangannya dengan harga empat ribu tapi tujuh ribu rupiah dan si pembeli ini tidak pernah menawar dagangan si A.
Tidak hanya pembeli yang ingin ambil untung, penjual pun tak kalah taktik. “Tapi mangga saya kan besar-besar dan dijamin manis! Boleh dicobain kok!” Padahal semua mangganya karbitan dan ketika si pembeli mencicipi mangganya dipilihkan sampel yang manis dan tidak mewakili dagangannya. Akhirnya sampai di rumah pembeli merasa tertipu dan dirugikan. Intinya, mereka benar-benar berusaha menerapkan prinsip ekonomi “Meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya”. Mereka tak peduli lagi meski aktivitas yang semula halal berubah menjadi haram akibat menabrak rambu-rambu syari’at. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.” (Qs. Muthaffifin: 1-2)
“Itu kan di pasar,” mungkin ini pernyataan sebagian orang. Tapi, siapa bilang di mall, di supermarket atau toko kecil sekalipun setan tidak akan mengambil peran? Ketika kita berjalan-jalan di mall atau supermarket, tak jarang kita melihat wanita-wanita muda berdandan cantik dan dengan PD-nya berlenggang mengenakan busana yang serba “irit”. Pemandangan ini saja sudah cukup mengganggu kita sebagai wanita, apalagi bagi laki-laki! Sering dalam hati terbetik, sungguh kasihan saudari-saudari kita ini yang tanpa sadar telah sukarela mempersilahkan laki-laki melihat kecantikan mereka dan menjadikan mereka sebagai obyek. Mungkin ada yang berdalih, “Ah, itu kan tergantung orangnya!” Namun yang jelas, hati laki-laki mana yang tidak akan tergoda?? Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “
Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59)
Terlupa Karena Asyiknya Berbelanja
Islam adalah agama yang penuh hikmah serta kesempurnaan, sehingga Rasulullah pun telah mengajarkan kepada kita berbagai etika dalam kehidupan, bahkan adab ketika di pasar.
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
“Tiada ilah yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dialah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dan, Dia Maha Hidup Kekal, tidak pernah mati. Di tangan-Nyalah segala kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang masuk pasar, lalu mengucapkan do’a (tersebut), maka Allah akan mencatat satu juta kebaikan baginya dan akan menghapus satu juta keburukan baginya, dan akan mengangkat derajatnya satu juta tingkatan.” (HR. Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah)
Majdi bin ‘Abdul Wahhab Al-Ahmad dalam Syarh Hisnul Muslim-nya menjelaskan maksud dari “dan akan mengangkat derajatnya satu juta tingkatan” yaitu orang tersebut akan mendapatkannya di surga. Sedangkan maksud dari “diangkatnya derajat” adalah kedudukannya setelah membaca do’a lebih tinggi dari kedudukannya sebelum membaca do’a tersebut.
Tips 1. Perhatikan penampilan
Ada sebagian wanita yang menjadikan shopping atau berbelanja sebagai sarana untuk ngeceng. Demi mendapatkan perhatian dari orang-orang, mereka rela duduk di depan kaca selama berjam-jam dan memoles dirinya agar terlihat cantik. Maka tidak mengherankan apabila mereka tidak merasa takut atau risih, namun justru akan tersenyum bangga ketika laki-laki menggoda mereka karena dandanan mereka yang aduhai. Bertaqwalah wahai kaum wanita! Sesungguhnya setan telah menemukan banyak celah untuk menggoda manusia melalui dirimu. Jangan sampai engkau buat dirimu yang begitu berharga dan mulia tercampak menjadi sekerat daging yang hina.
Jangan salahkan apabila laki-laki tidak menghargaimu karena engkau pun tidak menghargai dirimu. Janganlah engkau ceroboh, sesungguhnya kecantikanmu hanya akan ditemukan oleh laki-laki fasik bila engkau mengumbarnya di mana-mana. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuliakan kita dengan syari’at-Nya. Hendaknya kita jaga diri kita dengan berhijab yang benar karena hijab itulah yang akan menyelamatkan kita dari pandangan khianat laki-laki yang tidak bertaqwa. Jangan lupa pula untuk membawa make-up kita yang paling berharga, yaitu malu. Sungguh make-up ini akan membantu menjaga diri kita. Wallahul musta’an.
Tips 2. Buat daftar belanjaan yang akan dibeli
Sebelum kita memutuskan untuk keluar rumah, jangan lupa membuat daftar barang-barang yang akan kita beli. Alangkah baiknya jika kita tengok terlebih dahulu kebutuhan apa saja yang habis sehingga bisa kita masukkan ke dalam daftar belanjaan kita. Setelah itu, kita dapat membuat daftar kebutuhan kita dalam jangka panjang, misalnya kebutuhan untuk sepekan, dua pekan atau bahkan bulanan. Dengan demikian, kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk mondar-mandir ke pasar atau supermarket setiap hari.
Daftar belanjaan juga akan membantu mengingatkan kita jika ada barang yang lupa dibeli, selain itu juga menghindarkan kita dari belanja barang-barang yang terlihat begitu menarik ketika di toko, namun ternyata ketika sampai di rumah kita bingung sendiri, mau diapakan barang tersebut.
Tips 3. Jangan bawa uang berlebih!
Peringatan untuk wanita yang hobi berbelanja! Jangan sekali-kali membawa uang lebih dari perkiraan harga seluruh belanjaan dalam list kita. Kalaupun membawanya, usahakan secukupnya saja sebagai jaga-jaga jikalau terjadi sesuatu dalam perjalanan. Membawa uang terlalu banyak akan merepotkan bagi kita yang mudah tergoda dengan barang-barang yang menarik. Apabila uang yang kita bawa hanya cukup untuk membeli barang yang kita perlukan, tentunya kita tidak mungkin akan membeli barang-barang lainnya.
Tips 4. Jangan lupa berdo’a!
Tips 5. Jagalah pandangan
Rumah adalah sebaik-baik tempat perlindungan bagi kaum wanita. Oleh karena itu, apabila wanita keluar dari rumahnya, maka setan akan menghiasinya sehingga tampak begitu menarik hati. Namun bukan berarti kaum wanita akan terhindar dari godaan sementara setan menempatkannya sebagai penggoda. Sesungguhnya wanita adalah saudara laki-laki, apa yang membuat saudaranya terfitnah maka hal itu juga dapat menimpanya.
Jangan disangka hanya laki-laki saja yang dapat terfitnah oleh wanita, sesungguhnya setan dapat menancapkan panahnya pada setiap manusia yang lemah hatinya. Demikian pula halnya dengan wanita yang dapat terfitnah oleh laki-laki disebabkan pandangan mata. Sedangkan laki-laki mungkin pula hatinya tertimpa fitnah disebabkan pandangan mata wanita tersebut terhadapnya. Allah berfirman, yang artinya, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (Qs. An-Nuur: 31)
Tips 6. Bekali diri dengan ilmu dan sabar
Sebagai seorang muslimah, tentunya kita harus mendasarkan segala perbuatan kita dengan ilmu agama. Demikian pula ketika berbelanja kita membutuhkan ilmu agar hak penjual maupun hak kita sebagai pembeli dapat terpenuhi. Selain itu, di jaman sekarang ini kita juga sering mendengar adanya produk-produk yang dijual di pasaran yang ternyata tidak jelas kehalalannya.
Tidak hanya bermasalah dengan keadaan barang dagangan, terkadang kita juga harus berhadapan dengan penjual yang kurang ramah dan wajah bersungut-sungut. Wajar hati merasa kesal, namun merupakan suatu keutamaan menjadikan sabar sebagai obat ketika menghadapi situasi seperti ini.
Belanja memang menyenangkan, namun jangan sampai asyiknya berbelanja membuat kita terlena dan terjebak dalam hal yang sia-sia. Wallahu a’lam bishshawab.
Maraji’:
***
Artikel muslimah.or.id
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
inkosyifaa06
7th May 2009 pada waktu 05:17
Bismillah,,subhanallah artikel ini lebih menambah wawasan ana ttg adab berbelanja. Yg ingin ana tanyakan bhwa klo kita membuat list brg2 yg akan kita beli, apakah tdk berdmpk bagi ingatan kita? Dulu, ana sering membuat dftr brg2 yg akan dibeli sblm ke supermarket. Tapi kebiasaan tsb perlahan2 ana tinggalkn karena ana ingin melatih ingatan ana yaitu dgn mengingat2 brg2 yg akan dibeli. Mohon komentar dari admin atopun dari para Pembaca.
Syukron wa jazakumullahu khoirn..
Baarokallohu fiikum..
Penumpang Bus Trans Jogja A3
7th May 2009 pada waktu 23:17
Pasar tradisional pasti kotor apalagi kalau turun hujan becek dan pasar modern ( supermaket ) tidak kotor karena ada petugas kebersihan sebagai pelayanan pembeli maka jangan lama-lama di pasar karena tempat bertelurnya setan
ine septya rina
8th May 2009 pada waktu 00:09
Saya juga berkali-kali kena tipu waktu berbelanja. Apalagi di kota metropolitan seperti jakarta ini. Saya hanya bisa membatin, semoga Allah sajalah yang membalas perbuatan pedagang itu. Saya juga tipe orang yang suka shopping, itulah kejelekan diri saya, kadang niatnya cuma jalan-jalan ke mall, tapi pasti membeli barang juga. Nyesel juga waktu sampai rumah. Memang nggak enak juga kalo refreshing di mall.
badar online
8th May 2009 pada waktu 02:30
Masya Allah, artikel yang sungguh berfaidah…
BarakAllah fikum
cahaya khairani
8th May 2009 pada waktu 17:27
Saya kurang suka berada di keramaian, jadi saya ke pasar atau ke pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan saja, setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan langsung pulang…
moris sarkawi
9th May 2009 pada waktu 13:27
komenntar buat Bu Khairani..
Assalamuálaikum
hanya berbagi sedikit pengetahuan, kebetulan saya bekerja di bidang sales and marketing.
Sebagian besar yang di belanjakan oleh customer pada saat berbelanja (ex:ke mall. supermarket, etc) adalah barang2 yang tanpa direncanakan..
data penelitiian mengatakan…87% pelanggan berbelanja tanpa rencana matang..
dan 80 % dari tersebut membelanjakan barang2 diluar barang yang di tuju..
sehingga tidak perlu heran, jika setelah sampai dirumah dari berbelanja,,,,anda lupa membeli barang prioritas anda…karna gagal ber DIET mata….
solusinya:
1. List barang2 keperluan.
2.Usahakan berbelanja mingguan ditempat terdekat.
3.tidak perlu mengajak banyak orang dalam berbelanja (mempengaruhi hasrat belanja)
4. disiplin waktu dalam berbelanja..
5.sebisa mungkin, minim kan penggunaan PLASTICK MONEY..
Makasi sebelumnya..
semoga bermanfaat
Wassalam
Moris sarkawi
pengembara
9th May 2009 pada waktu 16:19
Adakah pasar yang semua orang ( penjual dan pembeli dan orang orang yang berada disana tukang parkir, tukang sapu, tukang loket, tukang gendong ) menerapkan syaariat islam ? Kalo ada tolong tunjukkan. saya ingin sekali berbelanja disana.
amir abahnya zayd
9th May 2009 pada waktu 21:48
artikel di atas keren banget euy… hatur nuhun..
oya temen2, ni ada download audio baru di blog ana bedah buku bersama ust Abu isa dan ust ali musri:
UMAT ISLAM DIKEPUNG DARI SEGALA PENJURU >> Ust Ali Musri
http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/05/09/download-audio-bedah-buku-umat-islam-dikepung-dari-segala-penjuru-ust-dr-ali-musri-m-a-penting/
SEPULUH NASIHAT BAGI PEMUDA AHLIS SUNNAH >> Ust Abu Isa
http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/05/09/download-audio-sepuluh-nasihat-bagi-pemuda-ahlus-sunnah-ust-abu-isa-penting/
Semoga bermanfaat yah…
nantikan audio berikutnya insya Allah
Muhamad Juhari
10th May 2009 pada waktu 21:23
Barakallaahu fiykum..
Afwan, ana ada masukan untuk artikel ini, dalam sub judul “Hati-hati, Ada Setan!” di Paragraf ke-3 di kutip ayat dari Qs. Al-Muthaffifin: 1-2
Seharusnya dalam mengambil dalil untuk menjelaskan ciri Al-Muthaffifin tidak berhenti di ayat ke-2, karena masih kurang lengkap dan bisa menimbulkan syubhat, sebaiknya berhenti di ayat ke-3 saja:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang*, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Qs. Al-Muthaffifin: 1-3)
*Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk yang paling curang dalam takaran dan timbangan. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS.83:1,2,3) sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang. Setelah ayat ini turun orang-orang Madinah termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.
(Diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Jazakumullahu khayr
cahaya khairani
10th June 2009 pada waktu 01:24
@ moris sarkawi
Wa’alaikumsalam
Iyaaa… memang selalu begitu yang saya lakukan kalau pergi belanja ^_^
Malah saya pergi belanja hanya 1 kali sebulan lho… belanjanya untuk kebutuhan 1 bulan, karena sudah hafal yang dibutuhkan jadi gak perlu deh buat daftar-daftar… So, belanjanya sesuai dengan kebutuhan aja, Alhamdulillah nggak pernah menyesal sampe di rumah.
Ridwan As Sundawi
2nd August 2009 pada waktu 20:31
Assalamu’alaikum,
Ana minta izin copy artikelnya ya…
Jazakumullahu khairan
airi
5th April 2010 pada waktu 06:00
alhamdulillah..
artikel yang bagus…
minta izin buat dicopy boleh???
istiqomah
22nd May 2010 pada waktu 02:04
Alhamdulillah, jazakillah dengan adanya artikel yang sangat baik ini. ijin copy ya.
eh … ketemu mbak baiq disini …
hari
17th December 2010 pada waktu 05:40
tulisan arabny janggal
IGUH
19th June 2011 pada waktu 01:38
SEMOGA Ana bisa mengikuti
Lupiati
10th July 2011 pada waktu 10:02
seringkali jika sedang di pasar/mall, lupa dg kwjbn sholat. sebnrnya bukan lupa. karna asik berkeliling melihat2 brg, kita jd malas untuk mendatangi mushola yg ada di mall tsb. ini terjadi pd kami sekeluarga. suami saya yg hobi ke mall dibanding saya. waktu sholat asar sdh hampir hbs, tp suami santai2 saja. sy marah. tp jawab suami apa? katanya: “Allah jg maklum kita lg di mall. kita kan lg mensyukuri rejeki dan nikmat yg tlh diberikan Allah utk kita”. sy ingin menangis mendengarnya. kejadian ini sdh ckp lama, tp ucapan itu msh membekas dihati saya. sedih dan sakit hati saya. sy ingin suami meralat ucapannya, tp bgmn caranya? mngk suami malah lupa dg ucapannya itu.