Adab Berpakaian Bagi Muslimah

Penulis: Ustadz Aris Munandar

Haruskah Hitam?

Terkait dengan warna pakaian terutama pakaian perempuan, terdapat beragam sikap orang yang dapat kita jumpai. Ada yang beranggapan bahwa warna pakaian seorang perempuan muslimah itu harus hitam atau minimal warna yang cenderung gelap. Di sisi lain ada yang memiliki pandangan bahwa perempuan bebas memilih warna dan motif apa saja yang dia sukai. Sesungguhnya Allah itu maha indah dan mencintai keindahan, kata mereka beralasan. Manakah yang benar dari pendapat-pendapat ini jika ditimbang dengan aturan al-Qur’an dan sunnah shahihah yang merupakan suluh kita untuk menentukan pilihan dari berbagai pendapat yang kita jumpai?


Salah satu persyaratan pakaian muslimah yang syar’i adalah pakaian tersebut bukanlah perhiasan. Dalam syarat ini adalah firman Allah yang artinya, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an Nur:31). Dengan redaksinya yang umum ayat ini mencakup larangan menggunakan pakaian luar jika pakaian tersebut berstatus “perhiasan” yang menarik pandangan laki-laki.

عن فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ رَجُلٌ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ وَعَصَى إِمَامَهُ وَمَاتَ عَاصِيًا وَأَمَةٌ أَوْ عَبْدٌ أَبَقَ فَمَاتَ وَامْرَأَةٌ غَابَ عَنْهَا زَوْجُهَا قَدْ كَفَاهَا مُؤْنَةَ الدُّنْيَا فَتَبَرَّجَتْ بَعْدَهُ فَلَا تَسْأَلْ عَنْهُمْ

Dari Fadhalah bin Ubaid, dari Nabi beliau bersabda, “Tiga jenis orang yang tidak perlu kau tanyakan (karena mereka adalah orang-orang yang binasa). Yang pertama adalah orang yang meninggalkan jamaah kaum muslimin yang dipimpin oleh seorang muslim yang memiliki kekuasaan yang sah dan memilih untuk mendurhakai penguasa tersebut sehingga meninggal dalam kondisi durhaka kepada penguasanya. Yang kedua adalah budak laki-laki atau perempuan yang kabur dari tuannya dan meninggal dalam keadaan demikian. Yang ketiga adalah seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh suaminya padahal suaminya telah memenuhi segala kebutuhan duniawinya lalu ia bertabarruj setelah kepergian sang suami. Jangan pernah bertanya tentang mereka.” (HR Ahmad no 22817 dll, shahih. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal 387)

Sedangkan tabarruj itu didefinisikan oleh para ulama’ dengan seorang perempuan yang menampakkan “perhiasan” dan daya tariknya serta segala sesuatu yang wajib ditutupi karena hal tersebut bisa membangkitkan birahi seorang laki-laki yang masih normal.

Di samping itu, maksud dari perintah berjilbab adalah menutupi segala sesuatu yang menjadi perhiasan (baca: daya tarik) seorang perempuan. Maka sungguh sangat aneh jika ternyata pakaian yang dikenakan tersebut malah menjadi daya tarik tersendiri. Sehingga fungsi pakaian tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Meski demikian anggapan sebagian perempuan multazimah (yang komitmen dengan aturan agama) bahwa seluruh pakaian yang tidak berwarna hitam adalah pakaian “perhiasan” adalah anggapan yang kurang tepat dengan menimbang dua alasan.

Yang pertama, sabda Nabi,

إن طيب الرجال ما خفي لونه وظهر ريحه ، وطيب النساء ما ظهر لونه وخفي ريحه

“Wewangian seorang laki-laki adalah yang tidak jelas warnanya tapi nampak bau harumnya. Sedangkan wewangian perempuan adalah yang warnanya jelas namun baunya tidak begitu nampak.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.7564 dll, hasan. Lihat Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal. 387)

Hadits ini mengisyaratkan bahwa adanya warna yang jelas bukanlah suatu hal yang terlarang secara mutlak bagi seorang perempuan muslimah.

Yang kedua, para sahabiyah (sahabat Nabi yang perempuan) bisa memakai pakaian yang berwarna selain warna hitam. Bukti untuk hal tersebut adalah riwayat-riwayat berikut ini:

عَنْ عِكْرِمَةَ أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ الْقُرَظِيُّ قَالَتْ عَائِشَةُ وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا قَالَتْ عَائِشَةُ مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى الْمُؤْمِنَاتُ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا

Dari Ikrimah, Rifa’ah menceraikan istrinya yang kemudian dinikahi oleh Abdurrahman bin az Zubair. Aisyah mengatakan, “Bekas istri rifa’ah itu memiliki kerudung yang berwarna hijau. Perempuan tersebut mengadukan dan memperlihatkan kulitnya yang berwarna hijau. Ketika Rasulullah tiba, Aisyah mengatakan, Aku belum pernah melihat semisal yang dialami oleh perempuan mukminah ini. Sungguh kulitnya lebih hijau dari pada pakaiannya.” (HR. Bukhari no. 5377)

Dari Ummi Khalid binti Khalid, Nabi mendapatkan hadiah berupa pakaian berwarna hitam berukuran kecil. Nabi bersabda, “Menurut pendapat kalian siapakah yang paling tepat kuberikan pakaian ini kepadanya?” Para sahabat hanya terdiam seribu bahasa. Beliau lantas bersabda, “Bawa kemari Ummi Khalid (seorang anak kecil perempuan yang diberi kunyah Ummi Khalid)” Ummi Khalid dibawa ke hadapan Nabi sambil digendong. Nabi lantas mengambil pakaian tadi dengan tangannya lalu mengenakannya pada Ummi Khalid sambil mendoakannya, “Moga awet, moga awet.” Pakaian tersebut memiliki garis-garis hijau atau kuning. Nabi kemudian berkata, “Wahai Ummi khalid, ini pakaian yang cantik.” (HR. Bukhari no. 5823)

Meski ketika itu Ummi Khalid belum balig namun Nabi tidak mungkin melatih dan membiasakan anak kecil untuk mengerjakan sebuah kemaksiatan. Sehingga hadits ini menunjukkan bolehnya seorang perempuan mengenakan pakaian berwarna hitam yang bercampur dengan garis-garis berwarna hijau atau kuning. Jadi pakaian tersebut tidak murni berwarna hitam.

Dari al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, “Sesungguhnya Aisyah memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur saat beliau berihram” (HR. Ibnu Abi Syaibah 8/372, dengan sanad yang shahih)

Pada tulisan yang lewat telah kita bahas bahwa yang dimaksud dengan celupan dengan ‘ushfur adalah celupan yang menghasilkan warna merah.

Perbuatan Aisyah sebagaimana dalam riwayat di atas menunjukkan bahwa seorang perempuan muslimah diperbolehkan memakai pakaian berwarna merah polos. Bahkan pakaian merah polos adalah pakaian khas bagi perempuan sebagaimana keterangan di edisi yang lewat.

Berikut ini beberapa riwayat yang kuat dari salaf tentang hal ini:

  • Dari Ibrahim an Nakha’i, bersama Alqamah dan al Aswad beliau menjumpai beberapa istri Nabi. beliau melihat para istri Nabi tersebut mengenakan pakaian berwarna merah.
  • Dari Ibnu Abi Mulaikah, aku melihat Ummi Salamah mengenakan kain yang dicelup dengan ‘ushfur (baca: berwarna merah).
  • Dari Hisyam dari Fathimah bin al Mundzir, sesungguhnya asma’ memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (baca: berwarna merah)
  • Dari Said bin Jubair, beliau melihat salah seorang istri Nabi yang thawaf mengelilingi Ka’bah sambil mengenakan pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (Baca: Berwarna merah). (Lihat Jilbab Mar’ah Muslimah karya al Albani hal. 122-123).

Di samping itu riwayat-riwayat di atas juga menunjukkan bahwa pakaian berwarna merah tersebut dipakai di hadapan banyak orang.

Singkat kata, yang dimaksud dengan pakaian yang menjadi “perhiasan” yang tidak boleh dipakai oleh seorang muslimah ketika keluar rumah adalah:

  1. Pakaian yang terdiri dari berbagai warna (Baca: Warna warni).
  2. Pakaian yang dihias dengan garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang menarik perhatian laki-laki yang masih normal. (Fiqh Sunnah lin Nisa’, hal. 388).

Al Alusi berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa menurut kami termasuk “perhiasan” yang terlarang untuk dinampakkan adalah kelakuan mayoritas perempuan yang bergaya hidup mewah di masa kita saat ini yaitu pakaian yang melebihi kebutuhan untuk menutupi aurat ketika keluar dari rumah. Yaitu pakaian dari tenunan sutra terdiri dari beberapa warna (baca:warna-warni). Pada pakaian tersebut terdapat garis-garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang membuat mata lelaki normal terbelalak. Menurut kami suami atau orang tua yang mengizinkan mereka keluar rumah dan berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya dalam keadaan demikian itu disebabkan kurangnya rasa cemburu. Hal ini adalah kasus yang terjadi di mana-mana.” (Ruhul Ma’ani, 6/56, lihat Jilbab Mar’ah Muslimah, karya Al Albani hal. 121-122).

Jika demikian keadaan di masa beliau, lalu apa yang bisa kita katakan tentang keadaan masa sekarang! Allahul Musta’an (Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan).

Meskipun demikian, pakaian yang lebih dianjurkan adalah pakaian yang berwarna hitam atau cenderung gelap karena itu adalah:

  1. Pakaian yang sering dikenakan oleh para istri Nabi. Ketika Shafwan menjumpai Aisyah yang tertinggal dari rombongan, Shafwan melihat sosok hitam seorang yang sedang tidur. (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Hadits dari Aisyah yang menceritakan bahwa sesudah turunnya ayat hijab, para perempuan anshar keluar dari rumah-rumah mereka seakan-akan di kepala mereka terdapat burung gagak yang tentu berwarna hitam. (HR. Muslim)

Serba Serbi Seputar Warna

Jilbab Putih

Lajnah Daimah (Komite Fatwa Para Ulama’ Saudi) pernah mendapatkan pertanyaan sebagai berikut, “Apakah seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian ketat dan memakai pakaian berwarna putih?”

Jawaban Lajnah Daimah, “Seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk menampakkan diri di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya atau keluar ke jalan-jalan dan pusat perbelanjaan dalam keadaan memakai pakaian yang ketat, membentuk lekuk tubuh bagi orang yang memandangnya. Karena dengan pakaian tersebut, perempuan tadi seakan telanjang, memancing syahwat dan menjadi sebab timbulnya hal-hal yang berbahaya. Demikian pula, seorang perempuan tidak diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih jika warna pakaian semisal itu di daerahnya merupakan ciri dan simbol laki-laki. Jika hal ini dilanggar berarti menyerupai laki-laki, suatu perbuatan yang dilaknat oleh Nabi.” (Fatawa al Mar’ah, 2/84, dikumpulkan oleh Muhammad Musnid).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada asalnya seorang perempuan diperbolehkan memakai pakaian yang berwarna putih asalkan cukup tebal sehingga tidak transparan/tembus pandang terutama ketika matahari bersinar cukup terik. Hukum ini bisa berubah jika di tempat tersebut pakaian berwarna putih merupakan ciri khas pakaian laki-laki maka terlarang karena menyerupai lawan jenis bukan karena warna putih.

Oleh karena itu pandangan miring sebagian wanita multazimah (yang komitmen dengan syariat) di negeri kita terhadap wanita yang berwarna putih adalah pandangan yang tidak tepat karena di negeri kita pakaian berwarna putih bukanlah ciri khas pakaian laki-laki, bahkan sebaliknya menjadi ciri pakaian perempuan (Baca: Jilbab).

Pakaian Perhiasan

Dalam edisi yang lewat, telah kita bahas tentang salah satu yang terlarang untuk pakaian perempuan yaitu bukan perhiasan dan telah kita sebutkan dua kriteria untuk mengetahui hal tersebut. Namun beberapa waktu yang lewat kami dapatkan penjelasan yang lebih tepat mengenai hal ini. Tepatnya dari Syaikh Ali al Halabi, salah seorang ulama dari Yordania. Ketika beliau ditanya tentang parameter untuk menilai suatu pakaian itu pakaian perhiasan ataukah bukan bagi seorang perempuan, beliau katakan, “Parameter untuk menilai hal tersebut adalah ‘urf (aturan tidak tertulis dalam suatu masyarakat)” (Puncak, Bogor 14 Februari 2007 pukul 17:15).

Penjelasan beliau sangat tepat, karena dalam ilmu ushul fiqh terdapat suatu kaedah: “Pengertian dari istilah syar’i kita pahami sebagaimana penjelasan syariat. Jika tidak ada maka mengacu kepada penjelasan linguistik arab. Jika tetap tidak kita jumpai maka mengacu kepada pandangan masyarakat setempat (‘urf ).”

Misal pengertian menghormati orang yang lebih tua. Definisi tentang hal ini tidak kita jumpai dalam syariat maupun dari sudut pandang bahasa Arab. Oleh karena itu dikembalikan kepada pandangan masyarakat setempat. Jika suatu perbuatan dinilai menghormati maka itulah penghormatan. Sebaliknya jika dinilai sebagai penghinaan maka statusnya adalah penghinaan. Hal serupa kita jumpai dalam pengertian pakaian perhiasan bagi seorang muslimah yang terlarang. Misal menurut pandangan masyarakat kita pakaian kuning atau merah polos bagi seorang perempuan yang dikenakan ketika keluar rumah adalah pakaian perhiasan maka itulah pakaian perhiasan yang terlarang. Akan tetapi di tempat atau masa yang berbeda pakaian dengan warna tersebut tidak dinilai sebagai pakaian perhiasan maka pada saat itu pakaian tersebut tidak dinilai sebagai pakaian perhiasan yang terlarang.

Artikel ini merupakan ringkasan artikel yang berjudul “Adab Berpakaian” bagian ke 3 dan 4 dari beberapa seri artikel di www.muslim.or.id. Silahkan langsung merujuk ke www.muslim.or.id untuk mengetahui adab-adab berpakaian lainnya.

***

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

71 Comments

  1. fadlah says:

    assalamualaikum..
    ana izin share yy…
    syukron,,,
    wassalam..

  2. Kaamilah says:

    Assalamualaikum…Bagaimana dengan perihal isbal untuk akhwat, hukumnya wajib atau sunnah?

    1. Apabila wajib, bagaimana dengan:
    a. Apakah seluruh bagian bawah dipanjangkan hingga sejengkal dari mata kaki? Sepertinya bila demikian akan membuat pemakainya sering “kesrimpet” (terinjak jadi sering tersandung) saat berjalan

    b. Apakah yang dipanjangkan hanya bagian belakang (ekor)?

    c. Bagaimana bila seseorang memakai sepatu wedges agar menghindarkan bagian (yang sejengkal dari mata kaki) tadi tidak menyentuh/menyapu jalanan?

    d. Bagaimana bila melalui jalanan yang kotor misalnya becek dsb, bila baju sepanjang itu, apakah harus menarik sedikit ke atas agar tidak terkena kotoran? Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa debu yang satu akan menyucikan yang sebelumnya. Menurut saya, ini berlaku pada wilayah gurun (kering/berdebu). Lalu bagaimana dengan jalanan di Indonesia yang -maaf- masih banyak orang yang meludah sembarangan, dst.

    2. Apabila hukumnya sunnah :
    Bolehkah pakaian yang sudah memenuhi semua syarat dalam artikel di atas, panjangnya menutup mata kaki, kemudian akhwat tersebut menggunakan kaos kaki atau sepatu yang menutup seluruh kakinya (misalnya sepatu boots)? Bukankah itu juga menjadikan bagian kakinya tertutup?

    Syukran

    • @ Kaamilah
      Isbal hukumnya haram baik untuk laki-laki maupun perempuan.Adapun batasan isbal untuk perempuan adalah jika ujung pakaiannya melebihi satu hasta dari mata kaki. satu haasta samadengan jarak antara siku sampai ujung jari.

  3. Kaamilah says:

    Jazakillah khair ukh…berarti memakai pakaian hingga menutup mata kaki itu cukup? Karena saya pernah baca bahwa
    – yang dimaksud isbal bagi akhwat adalah sejengkal dari pertengahan betis, bukan dari mata kaki.
    – memakai kaos kaki itu memang menutup kulit, tapi tidak menutup bentuk.

    Bagaimana ukh?

    • @ Kaamilah
      Satu hasta dihitung dari mata kaki berdasarkan hadits berikut,
      “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong maka Allah tidak melihat kepadanya di hari kiamat.” Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya:”Lalu, bagaimana yang harus dilakukan oleh kaum wanita dengan bagian ujung pakaiannya? Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam menjawab: “Hendaklah mereka menurunkan satu jengkal!” Ummu
      Salamah berkata: “Kalau begitu telapak kaki mereka bisa tersingkap” Lalu Nabi bersabda lagi: “Kalau begitu hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan jangan lebih dari itu!” (HR. at-Tirmidzi, at-Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih, juga dishahihkan al-Albani)
      Silahkan simak artikel menarik kami disni http://muslimah.or.id/fiqh-muslimah/ujung-pakaianku-penyapu-jalanan.html
      Menutup kaos kaki diperbolehkan asal kaos kaki tersebut tebal tidak tipis. Demikian pendapat Syaikh Utsaimin. AllahuA’lam

  4. Alifianty says:

    Assaalamu’alaykum, Afwan, anaa ingin tanya: Disebutkan bahwa “Meskipun demikian, pakaian yang lebih dianjurkan adalah pakaian yang berwarna hitam atau cenderung gelap karena itu adalah:

    1. Pakaian yang sering dikenakan oleh para istri Nabi. Ketika Shafwan menjumpai Aisyah yang tertinggal dari rombongan, Shafwan melihat sosok hitam seorang yang sedang tidur. (HR. Bukhari dan Muslim)
    2. Hadits dari Aisyah yang menceritakan bahwa sesudah turunnya ayat hijab, para perempuan anshar keluar dari rumah-rumah mereka seakan-akan di kepala mereka terdapat burung gagak yang tentu berwarna hitam. (HR. Muslim)” , sedangkan, di sisi lain dijelaskan bahwa istri2 Nabi sering menggunakan pakaian berwarna merah. Anaa mohon penjelasannya, Jazakillah…

  5. zaki says:

    ijin copas akhi wa ukhti..
    Jazzakumullah..

  6. Perindu Syurga says:

    Assalamualaikum..saya ingin betanya mengenai hal mengikat rambut..jika rambut seseorang itu panjang, dan mengikatnya adakah ia haram? tetapi ikatan nya itu tidak terlalu tinggi sehinga terlihat seperti badan unta.. hanya mengikatnya rendah dan tidak terlalu menonjol..apakah hukum nya?

  7. bella says:

    Alhamdulillah beberapa minggu ini saya sudah mulai berjilbab (masih dalam taraf belajar).
    Saya ijin mengcopas untuk lebih memperdalam tentang jilbab dan hal-hal tentang agama saya khususnya yang berhubungan dengan kaum mulimahnya.
    Terima kasih.

  8. Dewi Lestari says:

    Assalamualaikum umm..
    ana ingin share artikelnya, tapi gimana?

  9. afrida says:

    saya mau tanya

    kalau seorang wanita berhijab menggunakan celana jins dan atasan sweater bagaimana hukum nya???
    tp tetap tidak memperlihatkan lekuk tubuh nya

    Terima kasih

    • @ Afrida
      Saudariku, celana adalah pakaian khusus laki-laki. Jika wanita yang memakainya tentunya menyerupai pakaian laki-laki. Dan ini terlarang…kecuali bila memakai celana untuk dalaman gamis wanita (abaya). Karena hakekatnya pakaian itu apa yang nampak dari luar. Selain itu juga wanita yang memakai jeans dan sweater kemungkinan besar membentuk lekuk tubuh….bentuk kaki akan terlihat dari luar, bentuk pantat, bentuk tubuh yang lain akan menonjol. Inilah yang terlarang. Maka hendaknya wanita memakai pakaian yang longgar dan tidak pressbody. Allahua’lam

  10. sally says:

    assalamu’alaikum..
    ijin share y.. terima kasih..

  11. hardiyanti says:

    Assalamu’alaikum, Ukhti.
    Tolong dijelaskan maksud “julurkan (jilbabmu) hingga keseluruh tubuhmu” apa harus jilbab besar hingga ke mata kaki ?
    Bisakah keluar rumah dg warna satu terang? Tp, tdk warna-warni ?

    • @ Hardiyanti
      Wa’alaikumussalam
      Para ulama berbeda-beda pendapat tentang penafisran makna jilbab. Pendapat yang kuat insyaallah ta’ala yang mengatakan jilbab adalah kain yang menutupi kepala, leher, dada, dan punggung.silakan simak artikel bermafaat berikut
      http://ustadzaris.com/jilbab-atau-khimar
      Pakaian terang bagi wanita boleh sbagaimana pejelasan artikel diatas. Allahua’lam

  12. Abu Mumtazah says:

    Barakallahu fikum …
    Artikel yang insyaa Allah bermanfaat, dan banyak dibutuhkan oleh kaum muslimah kebanyakan di negeri kita..

  13. indriwhk says:

    Assalamualaykum,
    Bagaimana dengan saya yang berprofesi arsitek dimna diperlukan berkeliling proyek. Akan sangat sulit apabila menggunakan rok panjang.
    Lebih jauh lagi, pekerjaan ini sesua dengan keahlian saya dan suami masih meminta saya untuk mebantunya dan saya juga membiayai keluarga saya, dan saya sangat menikmati pekerjaan ini. Mohon saran. Terima kasih.

Leave a Reply